close

Stop Riba Sekarang Juga !

|

SERUJI.CO.ID – Kakek saya, Sastrodiwongso, dari ibu saya dulu tinggal di Mlinjon, Klaten. Karena tulisan tangannya yang elok, kakek saya diangkat sebagai pegawai pegadaian swasta terkenal di zaman itu.

Anak kakek saya berjumlah 7 (ibu saya sulung); hanya lulusan Sekolah Rakyat; rumahnya besar, bahkan ada usaha kecil batik; punya sawah lumayan; dan tidak punya utang!!!. Ekonomi ibu saya -seorang guru lulusan SGA Solo- (setelah menikah dengan ayah saya) masih tergolong lumayan.

Jika saya melihat ekonomi saya sendiri lalu anak-anak saya, maka fitur ini makin nyata: walaupun lulusan universitas, rumah mereka makin kecil, anak makin sedikit, tidak punya sawah, tapi tekanan untuk berutang makin besar. Pasti ada yang salah……

Saat Proklamasi 73 tahun lalu, utang RI yang diwarisi Bung Karno dari Belanda hanya sebesar Rp60 tirliun. Saat ini utang Pemerintah sudah mencapai Rp5200 triliun. Utang ribawi itu ternyata punya ciri khas: jumlahnya makin membesar, dan sumber utangnya makin banyak. Artinya makin banyak alasan untuk berutang.

Tidak perlu lulus doktor untuk mengetahui bahwa utang adalah instrumen penjajahan. Oleh Bug Karno disebut nekolim. Penjajah membiarkan Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI, tapi tidak pernah sungguh-sungguh menghentikan penajajahannya. Kita gagal menyiapkan landasan budaya untuk merdeka.

Penjajah telah dan sedang menjajah kita dengan instrumen utang melalui sistem perbankan ribawi. Thomas Jefferson -Presiden AS- bahkan telah mengingatkan bahaya utang (bank sebagai institusi yang memperjualbelikan utang) yang bahkan lebih berbahaya daripada tentara yang siap tempur untuk merampas kemerdekaan kita.

Agar utang ini laku dijual oleh bank, maka masyarakat harus dibiasakan agar suka berutang. Penjajah membawa persekolahan sebagai instrumen nekolim untuk menyiapkan budaya utang ini. Belajar (learning) sebenarnya tidak pernah mensyaratkan persekolahan (schooling). Namun persekolahan secara diam-diam mengubah kebutuhan belajar menjadi keinginan (lalu menjadi permintaan atau demand) bersekolah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Daniel Mohammad Rosyid
Guru Besar ITS Surabaya, Pemerhati Pendidikan dan Kebijakan Publik.
Guru Besar ITS Surabaya, Pemerhati Pendidikan dan Kebijakan Publik.

TERPOPULER

Soal Islam Nusantara

Stop Riba Sekarang Juga !

Renungan di Hari Guru

Tulisan 1: Meme Pembubaran HTI