Pemilihan umum  (Pemilu) sebagai wadah penyaluran aspirasi rakyat sudah didepan mata. Baik pemilihan kepala daerah, anggota legislatif dan kepala negara akan membawa banyak harapan rakyat menuju kehidupan yang lebih baik. Lobi-lobi antar partai dengan partai maupun antara partai dengan calon kepala daerah membuat mata rakyat makin terbuka terhadap kenyataan dunia politik. Kepentingan partai politik membuat mereka berkoalisi di daerah yang satu dan beroposisi di daerah lainnya.

Hal ini mengingatkan akan kegiatan “adu jangkrik”. Untuk memenuhi ambisi politik dan kekuasaan terkadang seseorang berusaha mengadu domba antara calon kepala daerah yang satu dengan kepala daerah yang lain. Kalau dalam adu jangkrik memakai batang rumput maka dalam perpolitikan memakai data-data yang menunjukkan “kelemahan” lawan politiknya. Para calon kepala daerah yang berkompetisi menjadi semakin memanas suasananya dengan kondisi semacam ini. Kompetisi untuk memberikan program yang berkualitas berubah menjadi kompetisi “buka aib” antar lawan politik.

Akhirnya dengan kondisi politik rasa adu jangkrik ini, rakyat diberikan pilihan yang dilematis. Bukan lagi dengan kata pilihan yang baik dari yang baik akan tetapi pilihan yang tidak lebih jelek dari pilihan yang lainnya. Standar pilihan akhirnya makin turun semakin berjalannya waktu.

Loading...

Ketika kedua jangkrik beradu maka jangkrik yang kalah akan kabur dari gelanggang atau bahkan mati. Bagaimana dengan para pendorong adu jangkrik ini, dengan mudah akan cari jangkrik yang baru untuk diadu di masa mendatang.

Banyak calon kepala daerah yang kondisinya mirip dengan jangkrik-jangkrik ini. Ketika acara pemilihan kepala daerah usai, mereka yang kalah seperti di telan bumi. Meskipun ada yang sebagian tetap berkarya untuk kemajuan bangsa ini. Mereka yang tetap berkaryalah yang dapat dijadikan sebagai politikus panutan yang memang memiliki niat untuk mengabdikan diri pada bangsa dan negara. Bukan sebagai “politikus musiman” yang tumbuh subur saat pemilihan umum dilaksanakan.

Bahkan terkadang jangkrik-jangkrik tersebut dipindahkan tempat aduannya demi kebutuhan ambisi pemilik jangkriknya. Pada pemilihan kepala daerah periode ini dengan mudah kita dapati beberapa calon kepala daerah yang tiba-tiba mencalonkan diri di daerah yang tidak dikuasai kondisi wilayahnya. Sah-sah saja jika sebagian berpendapat sebagai putra bangsa siap berjuang untuk rakyat dimanapun ditempatkan.

Lalu apa bedanya dengan “jangkrik aduan” yang siap diadu di gelanggang mana saja sesuai kebutuhan pengadu jangkrik. Bahkan yang kadang tidak masuk akal, ada jangkrik yang sudah diduga kalah oleh pengadu jangkrik tetap diadukan dengan jangkri yang lebih kuat dengan pemikiran asal tidak mendukung jangkrik pengadu lain.

Harapan rakyat sangat tertumpu terhadap niat baik para politikus negera ini. Para politikus inilah yang mengolah para putra terbaik negara ini untuk menjadi para pemimpin dan wakil rakyat. Tidak tega rasanya jika nanti ada yang menyebut negara republik ini sebagai “Republik Jangkrik” dikarenakan cara perpolitikan seperti orang adu jangkrik.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama