PALANGKA RAYA – Banyaknya pekerja asal Tiongkok yang berada di proyek pembangunan PLTU di Desa Tanjung Kajuei, Kecamatan Rungan, Kabupaten Gunungmas, Kalimantan Tengah menjadi jawaban atas desas desus dominasi pekerja asing di Indonesia selama ini. Faktanya, ratusan pekerja asal Negeri Tirai Bambu tersebut, Selasa (13/2/2018) tampak berlalu lalang dan beraktifitas di area tersebut.

Eronisnya, sebagian besar tulisan pada papan peringatan di area tersebut juga lebih banyak menggunakan bahasa Mandarin daripada bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Setelah ditelusuri, rupanya kontraktor asal Tiongkok berada di balik pembangunan PLTU Kalteng-1 berkapasitas 2×100 Megawatt (MW) yang diperkirakan rampung pada 2019 mendatang.

Menyikapi hal itu, Bupati Gunungmas, Arton S Dohong beberapa waktu lalu melakukan kunjungan ke lokasi proyek PLTU di Tanjung Kajuei.

“Keberadaan warga asing harus didata. Bukannya anti pendatang, tapi saya juga tidak mau kalau ada orang yang datang tapi kemudian jadi masalah di tempat kita,” papar Arton kepada kami di area PLTU beberapa waktu lalu.

Bahkan, orang nomor satu di Gunungmas tersebut meminta Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) dan Kantor Imigrasi setempat untuk mengawasi dan mengawal persoalan tenaga kerja di proyek PLTU Kalteng-1.

“Saya kira kalau ada niat dan pembimbingan atau pelatihan, tenaga kerja lokal bisa kok,” ujar Arton.

Sementara itu pada hari yang sama, saat ditemui di lokasi proyek, Chief Mechanical Gatot Widiyanto menjelaskan, keberadaan pekerja asing yang berasal dari Tiongkok itu diperlukan keahliannya untuk tugas supervisi, pengecekan serta pekerjaan teknis.

Proyek itu, kata dia, dikembangkan PT Surya Kalimantan Sejati (SKS) Listrik Kalimantan, anak perusahaan tidak langsung PT Dian Swastatiska Sentosa (DSSA) Tbk. Nama terakhir merupakan salah satu perusahaan di bawah naungan Sinarmas yang fokus pada bisnis energi dan infrastruktur.

“Kontraktor EPC pada proyek ini adalah Dongfang Electric Corporation Ltd dan Hubei Second Electric Power Construction Enggineering Company, yang berbasis di Tiongkok” sebut dia.

Di lokasi pembangunan PLTU, jelas dia, saat ini setidaknya ada 100 tenaga kerja asing. Namun jumlah pekerja lokal masih mendominasi yakni sektiar 400-an orang.

“Tenaga lokal tetap masih mendominasi,” kilahnya.

Nanti setelah pekerjaan akan selesai, lanutnya, secara bertahap dilakukan pelatihan bagi tenaga kerja lokal sehingga berlangsung alihteknologi, yakni teknisi lokal memiliki keahlian sendiri dalam mengoperasikan selanjutnya.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama