Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menggelar acara Olimpiade Audit Untuk Negeri bertajuk BPK Audination di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) BPK, Kalibata, Jakarta. Acara yang pertama kali dilaksanakan ini merupakan bentuk sosialisasi BPK atas ilmu audit pemerintahan sekaligus profesi auditor negara. BPK Audination diselenggarakan untuk mengedukasi masyarakat, khususnya para mahasiswa di seluruh Indonesia agar memahami tugas dan fungsi BPK sebagai auditor negara.

BPK Audination diselenggarakan dari 27 sampai dengan 30 November 2017, berisi Seminar Auditing, focus group discussion (FGD) tentang kurikulum audit sektor publik, lomba cerdas cermat, lomba debat auditing, lomba praktikum auditing, lomba karya tulis terkait auditing, dan lomba karya publikasi.

Cabang lomba praktikum auditing menuntut peserta menyelesaikan berbagai kasus terkait auditing. Sementara untuk lomba karya tulis dan karya publikasi, peserta diharuskan mempresentasikan makalah dan berbagai kreativitas seperti pembuatan poster, infografis, film, video, music games untuk menerangkan berbagai hal terkait auditing.

Sedangkan seminar mengusung tema “Sinergi Praktisi dan Akademisi dalam Mewujudkan Nilai Guna Pemeriksaan untuk Mencapai Tujuan Negara”. Beberapa subtema yang dibahas dalam dua hari seminar adalah Ada Kasus di Opini Bagus; Pidana Penjara untuk Temuan Kerugian Negara; 60 Hari Menindaklanjuti Rekomendasi BPK; dan Jalan Damai Bagi Pengawas dan Pemeriksa.

Dalam sambutan pada penutupan acara Audination 2017 di Auditorium Pusdiklat BPK di Jakarta, Kamis (30/11/2017), Anggota III BPK menyampaikan bahwa, “BPK bukanlah lembaga yang menakutkan, namun BPK bekerja untuk memastikan uang negara betul-betul bermanfaat untuk bangsa dan negara”. Kegiatan Olimpiade Audit ini diharapkan akan menarik minat dan menambah keahlian bagi para calon auditor.

Untuk memeriahkan BPK Audination dilaksanakan pula pameran foto, galeri pengetahuan, bazar, music corner oleh pemusik jalanan, dan penayangan film “Sang Penjaga” karya para pegawai BPK.

 

Tulisan terbaru Nico Andrianto (semua)

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin. SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
BAGIKAN
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Kanal Warga Terbaru

KH. Luthfi Bashori

Jangan Makan Daging Biawak

Konon, di Mina pada kisaran tahun 1990-an, saat berlangsung ibadah mabit dan lempar Jumrah di musim haji, banyak sekali para pendatang dari berbagai daerah...
Untitled

Utopia Share Syndrome

Hadirnya media sosial di tengah kerasnya kehidupan telah melahirkan "penyakit" baru yang bolehlah saya sebut dengan istilah "Share Syndrome". Sederhananya, Share Syndrome adalah semacam...

Max Havelaar dan AMDK Ummat

Dowwes Dekker adalah salah satu pencabut tonggak kejam kolonialisme di bumi Nusantara. Ia menjadi amtenaar saat Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memaksa penduduk...
Diky Supratman

Tiga Tahun Bocah Ini Berjuang Dengan Penyakitnya

Kotawaringin Barat - Diky Supratman (16) anak dari pasangan Mustofa dan Marni jl. Ahamd Yani gg. Baning RT 29 Kelurahan Baru Arut Selatan Kotawaringin...