Ambang kebahagiaan orang memang tidak sama, ada orang yang karena keterbatasan ekonomi, bisa makan nasi dengan sambal dan ikan asin saja sudah bisa merasakan nikmatnya dan membuat hati bahagia. Di sisi lain ada orang yang mampu secara ekonomi belum bisa merasakan kenikmatan makan bila belum tersedia berbagai menu di meja makan. Dan apabila belum lengkap menunya maka hatinya merasa kecewa bahkan marah-marah.

Demikian juga banyak orang yang tidak bersyukur dengan kehidupan yang sedang dijalani, padahal bisa jadi ujian yang dijalaninya tidk ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ujian yang sedang dijalani orang lain.

Seperti yang terjadi pada pasienku pagi ini. Seorang bapak pensiunan PNS datang dengan berjalan pincang dengan punggung kaki bengkak. Rupanya dia sedang mengalami kejadian nyata pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”. Dia memang benar jatuh dari tangga yang kemudian tangga tersebut menimpanya.

Bapak tersebut menurutku cobaan hidupnya sungguh luar biasa, dia mempunyai dua anak lelaki dan perempuan, namun keduanya mengalami gangguan jiwa. Pagi ini  dia berusaha membetulkan sendiri eternit di rumahnya, dia menggunakan tangga untuk melakukan pekerjaannya tersebut. anak perempuannya dimintai tolong agar memegangi tangga yang sedang dia naiki agar tidak jatuh.

Namun apa hendak dikata, karena anaknya mengalami gangguan jiwa maka terjadilah kejadian yang  tidak diinginkan. Setelah dia naik tangga dan mulai membetulkan apa yang harus dibetulkan, si anak malah melepaskan pegangan tangganya dan pergi begitu saja. Otomatis tangga tersebut meleset dan jatuhlah si bapak. Mendengar cerita tersebut kami berdua (saya dan pasien tersebut) langsung spontan tertawa

“Ya salahku juga dok, lha wong anak kondisinya begitu saya suruh pegangin” katanya sambil terus tertawa.

Sebelumnya saya memang sudah kenal baik dengan pasien tersebut karena dia dan istrinya sering berobat kepada saya. Sehingga sudah tidak ada hambatan psikologis dalam percakapan kami.

Sebelum mengalami gangguan kejiawaan, dahulu kedua anaknya tergolong cerdas, anak yang lelaki bekerja di Telkom. Saat mendapatkan promosi jabatan yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan, namun justru sebaliknya promosi tersebut menjadi titik awal dia mengalami gangguan kejiwaan. Anak keduanya yang perempuan mengalami momen naas berupa gangguan jiwa di saat sedang menempuh pendidikan S1 di ITB.

Terkadang bapak tersebut berobat dengan muka lebam-lebam karena habis dipukuli anaknya. Alasan pemukulan terkadang hanya sepele, misal lauk yang disajikan tidak cocok. Ada kelakuan lain anaknya yang sangat merepotkan,yaitu bersepeda keluar rumah entah kemana, namun pulangnya jalan kaki tanpa membawa sepeda alias sepedanya ditinggal di suatu tempat begitu saja. Tentu sang bapak repot harus melacak keberadaan sepedanya.

Bagi kita yang masih gemar mengeluh dengan apa yang sudah dianugerahkan Allah kepada kita maka seringlah melihat kebawah, lalu syukurilah keadaan kita.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

#Liku2MejaPraktek

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama