Hujan deras turun sejak pagi tiada henti. Mataku menatap kosong keluar, dibatasi jendela sebuah klinik di sebuah kota industri sebelah barat kota metropolitan. Jarum infus dan alat transfusi darah bergantian menusuk nadi tanganku.

Ingatanku kembali pada lima tahun yang lalu. Aku datang bersama istriku tercinta untuk bersama-sama berjuang di kerasnya kota ini. Berusaha keras mencari nafkah dengan bekerja di pabrik yang banyak bertebaran di kota ini.

Ketidakmampuanku dalam mencukupi kebutuhan rumah tangga, menimbulkan gesekan-gesekan kecil dalam keharmonisan rumah tanggaku. Kontrakan sempit ini, yang dulu terasa seperti surga atau sebuah hotel tempat bulan madu kami, terasa begitu sempit. Melihat pintu kontrakan serasa seperti melihat pintu neraka, dengan istriku sebagai malaikat “Malik” yang seakan mau menarikku kedalamnya.

Kondisi makin menjadi, saat istriku mulai bekerja bahkan melampaui kemampuanku dalam menghasilkan uang. Aku seakan seperti sebuah hiasan rumah yang seakan-akan kapan saja dapat diganti atau dilepas dan dibuang.

Sempat terpikir untuk melakukan “perselingkuhan”, ah ide yang gila. Untuk mencukupi istri saja belum mampu kok mau selingkuh.

Mulailah aku menghabiskan waktu dengan kehidupan malam. Bukan sebagai seorang “Don Juan” dengan uang yang banyak dan mobil mewah, tetapi hanya sebagai seorang lelaki yang kere dalam kebingungan.

Dengan fisik yang tinggi, bibir tipis dan kulit yang putih sebagai khas sebuah daerah di luar jawa, aku mulai banyak mendapat teman. Kadang ditraktir minum ataupun makan. Bahkan kadang aku diajak menginap di kontrakan mereka. Banyak alasan kusampaikan untuk menolaknya. “Udah nanti bilang aja lembur kalau ditanya istri, nanti lemburan aku yang kasih” kata temanku. Hatiku terasa trenyuh, ini saudara bukan, tetangga sekampung juga bukan kok baik banget.

“Ikhlas mas?” kataku

“Udahlah jangan dipikirin, hidup cuma sebentar jangan dibuat susah atau bahkan sedih katanya” jawab temanku.

Mulailah aku mengenal kehidupan teman-teman baruku yang kalau di masyarakat awam suka disebut “Banci/Bencong”, kalau bahasa kerennya LGBT.

Aku tetap mampu mengfungsikan diriku sebagai seorang karyawan di pabrik, dan malam aku juga dapat melakukan kegiatan bersama teman-temanku. Bahkan istriku juga tidak peduli, dia merasa sudah mampu mencukupi kebutuhan hidupnya. Dan aku tetap setor keuangan seperti biasanya. Kebutuhan biologis dalam keluarga sudah bukanlah pembahasan penting. Bagiku istriku hanya yang urus kebutuhanku seperti baju juga makan. Dan mungkin baginya aku seperti seorang penyewa kontrakan.

Hari berganti hari, mingggu berganti minggu dan bulan berganti bulan.

Di suatu malam, badanku terasa lemas tak bertenaga, bahkan tanganku gemetar tak mampu menggenggam.

BACA JUGA:  Lima Macam Riba Yang Diharamkam

“Makanya jangan banyak begadang, tuh rasain akibatnya” kata istriku.

Kupaksakan bekerja juga di pabrik tempatku bekerja meskipun atasanku melarangku bekerja karena masih sakit.

“Kamu nggak usah kerja dulu, pulihkan dulu kesehatanmu, baru pikirkan pekerjaan. Jangan khawatir hak-hak kamu tetap akan kamu terima sebagaimana biasanya” kata atasanku.

Bahkan pernah saat jam istirahat, atasanku dan teman sekerjaku memaksaku untuk tes darah untuk mengetahui kondisi fisikku. Tapi aku tolak mentah-mentah dengan alasan ini kecapekan biasa.

Atasanku memang mengetahu kegiatanku diluar, bahkan sering menasehatiku baik dari sudut pandang kesehatan, hukum bahkan agama.

“Apa yang kamu cari dalam hidup ini? Kepuasan batin? Kepuasan Jasmani? Kekayaan atau jabatan? Hiduplah secara normal, bukalah obrolan dengan istri dan keluarga untuk ke depan lebih baik” kata atasanku.

“Ah, bulsyitlah” kataku dalam hati.

Sampai akhirnya aku pingsan di kontrakan, dan dibawa ke IGD sebuah klinik oleh tetanggaku yang orang Jogja. Semua beliau urus dengan baik, bahkan istriku masih sibuk bekerja dan lembur di tempat kerjanya.

“Udah lah, biarin bapaknya di rumah sakit, aku kan kerja nanti juga butuh biaya buat rumah sakitnya. Lagian ada dokter kok yang mengurus.” kata istriku ditelpon.

Setelah dua hari di rumah sakit aku dapat kabar bahwa ada seseorang yang sudah membayar biayaku selama dirumah sakit. Aku berpikir barangkali ini teman-temanku di dunia malam. Ternyata salah, orang itu adalah atasanku yang berkoordinasi dengan teman teman dipekerjaanku. Mereka semua sudah tahu kegiatanku, tapi mereka masih mau jadi teman kerja dan sering menasehatiku.

Hanya karena kebutaaan iman dan pikiranku, sehingga aku tidak pernah menganggap nasehat dari mereka.

Aku anggap mereka hanya omong kosong saja.

Akhirnya aku putuskan untuk pulang ke kampung halamanku dengan cara sembunyi-sembunyi dari kawan kerjaku. Istriku bahkan tidak mau mengantar kepulanganku ke kampung halamanku untuk beristirahat. Bahkan keluargaku yang selama ini aku sangat memanjakan mereka, dengan terpaksa menerima kepulanganku.

Kini aku tersadar bahwa aku telah salah jalan. Kesenangan dunia yang sesaat telah menjauhkan diriku dari Allah sebagai Tuhanku.

Bahkan istriku bukanlah menjadi belahan jiwaku, tetapi merasa merdeka akan kepergianku.

Aku hanya berharap pengalaman hidupku ini, jadikanlah sebagai pelajaran buat pembaca sekalian. Bahkan tanpa perlu dilarangpun, jauhkanlah keluarga, sahabat atau siapapun dari LGBT. Bahkan berjuanglah untuk para LGBT agar kembali kepada kodratnya sebagai manusia.

(Diceritakan kembali oleh teman dari yang bersangkutan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama