KUNTUM KHAIRA UMMATIN

Luthfi Bashori

Judul di atas adalah cuplikan dari firman Allah yang artinya, Kalian (wahai umat Islam) adalah sebaik-baik umat. Adapun arti secara lengkap firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 110 tersebut adalah :

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh kepada yang ma`ruf dan melarang yang munkar dan beriman kepada Allah, dan kalau sekiranya ahlul kitab beriman, tentulah hal itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada orang-orang yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik

Dalam ayat ini diterangkan bahwa umat Nabi Muhammad SAW itu hakikatnya adalah sebaik-baik umat di banding dengan umat-umat para Nabi AS yang terdahulu. Namun keutamaan itu dapat diperoleh oleh umat Nabi Muhammad SAW itu, jika mereka terjun dalam bidang Amar ma`ruf dan Nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan memerangi kemunkaran).

Sedangkan syarat bagi umat Islam yang akan terjun dalam bidang Amar ma`ruf dan Nahi munkar adalah mengerti ajaran agama Islam dengan baik dan benar. Sehingga apa yang disampaikan itu tidak keluar dari syariat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Demikian juga saat menilai sebuah perkara itu dianggap kemunkaran atau bukan, tentunya dengan kaca mata syariat Islam, bukan semata-mata baik dan buruk dalam kaca mata pribadinya masing-masing terlebih hawa nafsunya.

Saat Sayyidina Umar bin Khatthab berkhuthbah di musim haji, beliau membaca ayat di atas, lantas berkata: “Barang siapa yang ingin menjadi bagian sebaik-baik umat ini, maka hendaklah memenuhi syarat (Amar ma`ruf dan Nahi munkar) yang ditentukan oleh Allah.”

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ada sekelompok orang dari umatku yang senantiasa memperjuangkan kebenaran (syariat) dan tidak gentar kepada orang-orang yang melawannya, hingga datang hari Qiamat.” (HR. Muslim).

BACA JUGA:  Anjuran Ganti Nama Yang Lebih Baik

Saat ini banyak orang yang sengaja menentang para pejuang Islam yang getol memperjuangkan terlaksananya pemberlakuan syariat Nabi Muhammad SAW di muka bumi, yakni berjuang memberlakukan syariat Islam di seluruh negara-negara yang berpenghuni umat Islam.

Padahal, konon Nabi Muhammad SAW dalam melaksanakan kewajibannya dari Allah sebagai seorang Rasul, adalah memperjuangkan terlaksananya pemberlakuan syariat Islam yang diturunkan oleh Allah kepada seluruh umat manusia itu, hingga siapa saja yang menentang pemberlakuan syariat Islam itu dinamakan kafir, atau minimal fasiq dan yang mentaati serta mengamalkannya dinamakan muslim.

Coba perhatikan sabda Nabi SAW: “Bainal mar-i wal kufri tarkus shalaah (Benang tipis antara seseorang dengan kekafiran itu adalah jika meninggalkan shalat).” (HR. Muslim).

Betapa besar perhatian Nabi SAW tedrhadap penegakan syariat Islam dalam kehidupan nyata di kalangan umat Islam. Sehingga masalah shalat yang terkesan sebagai urusan pribadi itu, dipergunakan sebagai batasan tipis antara seseorang dengan kekafiran, tentunya bagi siapa saja yang sengaja meninggalkan shalat tanpa adanya udzur syari (alasan yang dapat diterima oleh syariat).

Ini baru gambaran seseorang yang sengaja meninggalkan satu bentuk dari syariat Islam yang wajib diterapkan oleh setiap pribadi muslim. Lantas bagaimana dengan orang yang sengaja menentang penberlakuan seluruh syariat Islam, yang sudah semestinya dilaksanakan secara kaaffah (menyeluruh) di kalangan umat Islam?

Tentu saja upaya menentang syariat Islam secara kaaffah itu berimplikasi terhadap kekafiran atau kefasiqan para pelakunya.

Maka, hendaklah umat Islam tetap eksis memperjuangkan pemberlakuan syariat Islam secara legal formal dan dilindungi oleh negara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama