Sampai hari ini penderita penyakit diphteri di Indonesia masih terus bertambah. Hal ini tentu mengkhawatirkan para orang tua apalagi yang mempunyai anak yang semasa bayi  belum mendapatkan imunisasi diphteri sesuai anjuran pemerintah. Untuk mendapatkan informasi langkah apa yang sebaiknya dilakukan , jumat (11/01) SERUJI menghubungi guru besar UI di bidang ilmu kesehatan anak Prof. Dr. dr. Zakiudin Munasir, SpA(K)

Dokter yang juga salah satu pengasuh rubrik Dokter Seruji Menjawab tersebut menjelaskan bahwa orang tua yang  belum mengimunisasi anaknya sewaktu masih bayi maka sebaiknya segera datang ke fasilitas kesehatan yang ada pelayanan imunisasi untuk vaksinasi diphteri sebanyak 3 kali.

Idealnya jadwal imunisasi diphteri pada anak usia < 1 tahun dilakukan 3 kali imunisasi DPT yaitu pada usia 2, 3 dan 4 bulan. Pada usia 1-5 tahun diulangi 2 kali. Usia sekolah diulang saat kelas 1,2 dan 3 atau 5 SD melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

Diphteri merupakan penyakit infeksi yang mudah menular lewat udara saat bersin, batuk, atau sentuhan dan dapat menyebabkan kematian. Gejala awalnya mirip  penyakit flu seperti demam, nafsu makan turun, lesu, nyeri tenggorokan / nyeri saat menelan, ingus kuning kehijauan dan dapat disertai darah.

Diphteri merupkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae . Diphteri memiliki masa inkubasi dua hari hingga lima hari dan akan menular selama dua minggu hingga empat minggu. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak jika tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Sejauh ini pemerintah sudah melakukan upaya penanggulangan KLB diphteri ini dengan mencanangkan ORI (Outbreak Response Imunization ) dibeberapa propinsi, yaitu sebuah program pencegahan melalui imunisasi sebagai respon atas kejadian luar biasa pada suatu penyakit agar penularan penyakit segera bisa dihentikan.

“Agar KLB cepat teratasi sebaiknya serentak dilakukan imunisasi di Seluruh Indonesia pada anak usia 1 tahun sampai dengan kurang  dari 19 tahun dan seluruh masyarakat juga menyambutnya tanpa ada penolakan,” saran Prof. Zaki untuk pemerintah dan masyarakat.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama