Telah lama dikatakan oleh banyak orang, bahwa dunia itu dapat digambarkan sebagai jelmaan dari Harta, Tahta dan Wanita.

Orang yang dalam hidupnya hanya mengejar harta, tahta dan wanita, maka seringkali sampai berani mengorbankan prinsip hidupnya, bahkan terkadang imannya saja digadaikan, hingga tak tersisa walaupun hanya sebesar biji jagung.

Hubbud dun-ya raksu kulli khati-atin, cinta buta terhadap dunia itu adalah sumber kesalahan. Begitulah yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.

Tidak jarang orang yang hidupnya hanya untuk memburu harta atau proyek pekerjaan, mereka berani mengorbankan kehormatan dirinya, kehormatan keluarganya, durhaka melawan dan tidak mentaati orang tuanya, bahkan hingga berani menjual agamanya.

Demikian juga bagi para pemburu Tahta atau jabatan, maka di antara mereka ada juga yang sampai berani mengorbankan akal sehatnya. Karena demi persaingan untuk mendapatkan tiket menjadi seorang pejabat, maka tidak jarang ada orang yang harus berbohong, menipu umat demi meraup suara, membuat cerita palsu tanpa data-data yang valid, memalsukan data pribadi, bahkan ada orang awam yang demi mendapatkan dukungan suara, ia berpenampilan bak seorang Kyai/Gus yang alim, walaupun dirinya tidak bisa mengaji kitab karena sama tidak memiliki berbackground pendidikan pesantren, atau sampai ada yang berani mengorbankan harta benda miliknya hingga mengorbankan nyawanya sekalipun.

Padahal Rasulullah SAW telah mewasiatkan:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ لِيْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ وَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ

Dari Abdurrahman bin Samurah dia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda kepadaku, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan! Karena sesungguhnya jika diberikan jabatan itu kepadamu dengan sebab permintaan, pasti jabatan itu (sepenuhnya) akan diserahkan kepadamu (tanpa pertolongan dari Allah). Dan jika jabatan itu diberikan kepadamu bukan dengan permintaan, pasti kamu akan ditolong (oleh Allah Azza wa Jalla) dalam melaksanakan jabatan itu. Dan apabila kamu bersumpah dengan satu sumpah kemudian kamu melihat selainnya itu lebih baik darinya (dan kamu ingin membatalkan sumpahmu), maka bayarlah kaffarah (tebusan) dari sumpahmu itu dan kerjakanlah yang lebih baik (darinya)”.

Ini hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari (6622). Muslim (1652). Abu Dawud (2929). Tirmidzi (1529). AnNasa-i (5384).

Biasanya bumbu penyedap bagi para pengejar harta dan tahta, adalah godaan Wanita. Entah itu karena dorongan kuat dari istri dan keluarga wanitanya, agar ia dapat menumpuk harta dan meraih tahta, walaupun harus menghalalkan segala cara. Atau wanita sebagai umpan dalam urusan kebutuhan biologis, yang disetting hingga menjadi jebakan maut bagi para pemburu harta dan tahta.

Rasulullah SAW juga mengingatkan:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ

“Sesungguhnya wanita (non mahram) itu datang dalam rupa setan dan pergi dalam rupa setan, maka apabila seorang dari kalian melihat wanita, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena dengan begitu akan menenteramkan gejolak syahwat di jiwanya.” (HR. Muslim)

Al-Imam An-Nawawi berkata:

قال العلماء معناه الاشارة إلى الهوى والدعاء إلى الفتنة بها لما جعله الله تعالى في نفوس الرجال من الميل إلى النساء والالتذاذ بنظرهن وما يتعلق بهن فهي شبيهة بالشيطان في دعائه إلى الشر بوسوسته وتزيينه له ويستنبط من هذا أنه ينبغى لها أن لا تخرج بين الرجال الا لضرورة وأنه ينبغى للرجل الغض عن ثيابها والاعراض عنها مطلقا

“Ulama berkata, makna hadits ini adalah peringatan dari hawa nafsu dan (bahaya) ajakan kepada fitnah (godaan) wanita, karena Allah telah menjadikan di hati-hati kaum lelaki adanya kecenderungan terhadap para wanita dan merasa nikmat ketika memandang mereka dan apa yang terkait dengan mereka, maka wanita menyerupai setan dari sisi ajakannya kepada kejelekan dengan bisikannya dan tipuannya. Dan dapat diambil kesimpulan hukum dari hadits ini bahwa tidak boleh bagi wanita untuk keluar di antara kaum lelaki kecuali karena satu alasan darurat (sangat mendesak), dan hendaklah kaum lelaki menundukkan pandangan; tidak boleh melihat pakaiannya dan hendaklah berpaling darinya secara mutlak.” (Syarah Muslim, 9/178)

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama