Serangan Siber Global Ransomware Melanda 99 Negara

0
164
ransomware, wannacry
Penampilan komputer yang terserang Ransomware WannaCry. Akses data menjadi 'terkunci'. (FOTO: bbc.com)

INGGRIS – Serangan siber global yang menginfeksi banyak komputer di 99 negara yang terjadi menjelang akhir pekan ini diyakini menggunakan program yang dikembangkan National Security Agency (NSA) bernama Wanna Decryptor atau WannaCry.

Seperti dilansir laman berita BBC, Sabtu (13/5/2017), program ini dicuri dari NSA oleh kelompok peretas “The Shadow Brokers” pada April lalu. Kelompok tersebut mengklaim telah menyebarluaskannya secara online. Mereka menyebut perangkat dengan kode nama ‘Eternal Blue’ itu sebagai bagian dari perangkat peretasan yang dikembangkan NSA.

Jacob Kroustek, peneliti dari perusahaan keamanan internet, Avast, menyatakan ada lebih dari 75 ribu kasus serangan siber di 99 negara, terutama komputer berbasis sistem operasi Windows. Serangan siber ini melibatkan ransomware, malware paling cepat berkembang, bernama WCry atau WannaCry.

“Ini sangat massif. Semua kasus tampaknya terkait. Namun, bukan serangan teroris,” kata Jakub Kroustek dari Avast.

Peneliti dari perusahaan keamanan siber Karpersky, Costin Raiu, menyebut malware itu mereplika diri sendiri dan menyebar cepat dalam jaringan komputer.

Malware itu memperdaya korbannya untuk membuka attachment hingga email spam yang dari luar tampak seperti berisi tagihan, tawaran pekerjaan, peringatan keamanan dan dokumen-dokumen sah lainnya. Ransomware itu mengenkripsi data-data di dalam komputer yang diserangnya dan meminta bayaran US$ 300 dalam bentuk mata uang virtual Bitcoin, untuk memulihkan akses pada data yang ‘terkunci’.

Pembayaran harus dilakukan dalam 3 hari atau harga akan naik dua kali lipat. Jika tidak ada pembayaran dalam waktu 7 hari, maka data atau dokumen yang ‘terkunci’ itu akan dihapus.

National Health Service (NHS) di Inggris dan Skotlandia termasuk yang terkena serangan siber. Imbasnya, hampir seluruh operasional rumah sakit dibatalkan, termasuk janji konsultasi antara dokter dan pasien.

“Tentunya ini berdampak pada kesehatan pasien,” ujar seorang staf NHS.

Rusia dikabarkan telah “melokalisasi” virus menyusul serangan yang diterima. Di Italia, banyak mahasiswa mencuitkan foto komputer yang terkena serangan.

Sejumlah perusahaan di Spanyol, termasuk Telefonica dan penyedia listrik Iberdrola juga mengalami serangan yang sama. Perusahaan-perusahaan tersebut dikabarkan telah mematikan semua komputer mereka. Perusahaan telekomunikasi Portugal, Telecom, perusahaan ekspedisi pengiriman FedEx, otoritas lokal Swedia, jaringan telepon seluler di Rusia, tak luput dari serangan.

BBC melaporkan, kelompok peretas ini awalnya sempat berusaha menjual perangkat itu dalam lelang online. Namun kemudian mereka membuatnya tersedia secara bebas di internet. Mereka bahkan merilis password untuk perangkat itu pada 8 April. Saat itu, kelompok peretas ini menyebut aksinya sebagai ‘protes’ untuk Presiden AS Donald Trump.

Inspeksi Wannacry tampaknya dilakukan melalui Worm, sebuah program yang menyebar dengan sendirinya di antara komputer yang saling terhubung. Tak seperti program malware lainnya, WannaCry mampu bergerak secara independen tanpa bantuan manusia.

Setelah WannaCry berhasil masuk ke jaringan komputer sebuah lembaga, ia akan memburu mesin yang rentan dan mulai menginfeksi komputer lain. Yang terjadi kemudian adalah dampaknya begitu massif.

Sekelompok peneliti keamanan siber yang berbasis di Inggris membuat akun Twitter @MalwareTechBlog. Mereka menulis, tampaknya komplotan hacker sengaja menghentikan penyebaran WannaCry sementara ini.

Menanggapi serangan siber ini, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyatakan pihaknya telah berbagi informasi dengan mitra-mitra domestik maupun asing. DHS menyatakan siap memberikan bantuan teknis terkait hal ini.

Sedangkan pihak Microsoft, yang sistem Windows-nya paling terdampak ransomware ini menyatakan para teknisinya telah menambah perangkat pendeteksi dan perlindungan dari WannaCry. Microsoft menyatakan siap memberikan bantuan kepada para konsumennya yang terdampak.

 

EDITOR: Iwan Y

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

DPD: Indonesia Berbagi Pengalaman Atasi Terorisme

HANOI, SERUJI.CO.ID - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Nono Sampono mengatakan Indonesia berbagi pengalaman mengatasi aksi terorisme dalam upaya mendorong langkah bersama mencegah kejahatan tersebut. Dalam...

PSI Galang Dana Publik Untuk Partai

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) akan menggalang dana donasi publik untuk pendanaan partai dan mendorong perbaikan iklim politik di Tanah Air. "Agar independen, hanya...
Anugerah Humas

Website ITS Sabet Juara II Anugerah Humas Perguruan Tinggi

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil menyabet peringkat dua dalam ajang Anugerah Humas Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Koordinasi Perguruan...

Ketua MPR: Demokrasi Pancasila Jamin Kesetaraan

KUNINGAN, SERUJI.CO.ID - Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menilai demokrasi Pancasila yang dianut Indonesia menjamin kesetaraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, sehingga implementasinya dibutuhkan...
Pilbup Garut 2018

Persyaratan Paslon Perseorangan Pilbup Garut 2018 Belum Lengkap

BANDUNG, SERUJI.CO.ID - Calon Bupati/Wakil Bupati Garut dari jalur perseorangan belum melengkapi persyaratan bukti dukungan dari warga Garut sebagai syarat utama menjadi peserta Pilbup Garut...
loading...
fotozukifli

Paska Diperiksa, Ustadz Zukifli Muhammad Ali Diundang Live di TV Swasta Nasional

Berita tentang "penangkapan" ustadz baru-baru saja terjadi, dialami Ustadz Zukifli Muhammad Ali, yang ditetapkan sebagai tersangka dugaan menyebarkan kebencian berdasarkan SARA, lihat di berita...
tweet

Berjilbab Tapi Korupsi, Bukan Najwa Shihab

"Esensi Islam tidak terletak pada Pakaian yg dikenakan tapi pada Akhlak yg dilaksanakan (Gus Dur) Berhijab tp Korupsi, Najwa Sihab tak berhijab dapat Penghargaan Tokoh...
sumber: harianterbit

Peringatan 44 Tahun Peristiwa MALARI: Mengembalikan Reformasi yang Kita Mau

Pada 15 Januari 2018 lalu, bertepatan dengan 44 tahun Peristiwa 15 Januari 1974 yang lebih dikenal dalam catatan sejarah sebagai Peristiwa Malapetaka Lima Belas...