Korban Pemerkosaan di India Dipermalukan Lewat Tes Dua Jari

0
317
Demo tingginya kasus perkosaan di India
Para aktivis perempuan India melakukan unjuk rasa atas maraknya kasus perkosaan dalam aksi di New Delhi, India, Sabtu, 31/5/2014. (Foto: AP Photo)

MUNBAI, SERUJI.CO.ID – Lima tahun setelah pemerkosaan maut di bus Delhi, India, makin banyak wanita India melaporkan serangan yang mereka alami. Namun menurut laporan para aktivis, Rabu (8/11), mereka kerap dipermalukan oknum polisi dan petugas medis atau diintimidasi untuk menarik kasusnya.

Sebuah penelitian oleh Human Rights Watch (HRW) menemukan “tes dua jari” terjadi di sebuah rumah sakit di negara bagian Rajasthan.

Tindakan terlarang itu dilakukan seorang dokter yang memasukkan beberapa jarinya ke dalam vagina korban pemerkosaan untuk menentukan apakah sang korban aktif secara seksual.

“Di beberapa negara bagian, baik polisi maupun sistem medis belum menerapkan langkah-langkah yang ditetapkan pemerintah,” ujar Meenakshi Ganguly, direktur Asia Selatan dalam kelompok advokasi yang berbasis di AS tersebut.

“Sementara niatnya ada (untuk membantu korban perkosaan), hal tersebut tidak menurun ke dalam sistem,” ujarnya.

Pejabat kementerian dalam negeri mengatakan mereka hanya bisa berkomentar begitu mereka telah melihat laporan tersebut.

India memiliki beberapa jumlah perkosaan tertinggi di dunia, namun banyak kejahatan seks tidak dilaporkan. Pelaku sering kali tidak dihukum dan roda keadilan berubah perlahan, menurut aktivis tersebut.

HRW menganalisis dampak reformasi yang diterapkan menyusul pemerkosaan maut oleh suatu kelompok terhadap seorang siswi di bus di New Delhi pada 2012. Peristiwa itu mengundang kemarahan nasional dan menempatkan pemerkosaan di India di bawah sorotan internasional.

Hampir 35.000 kasus perkosaan dilaporkan ke polisi dan 7.000 putusan dibuat pada 2015, keduanya meningkat sekitar 40 persen dalam tiga tahun, menurut data pemerintah.

Namun akses terhadap layanan pendukung, mulai dari bantuan hukum hingga perawatan kesehatan, sangat buruk dan pedoman pemerintah yang ramah gender sering kali dilecehkan, kata HRW.

“Wanita dan anak gadis mengatakan bahwa mereka hampir tidak memperhatikan kebutuhan kesehatan mereka, termasuk bimbingan, bahkan ketika sudah jelas mereka sangat membutuhkannya,” demikian bunyi laporan tersebut.

Pengadilan tinggi India mengatakan pada 2013, uji dua jari tersebut melanggar hak pribadi wanita. Praktik itu dilarang dan Indian Council of Medical Research mengeluarkan panduan baru pada 2014.

Namun, HRW menemukan bahwa tes itu disebutkan dalam sebuah formulir yang diisi dokter saat mereka memeriksa korban perkosaan di sebuah rumah sakit di Rajasthan.

Kekerasan seksual tetap menjadi tabu dalam demokrasi terbesar di dunia, dan wanita serta anak gadis takut akan stigma atau pembalasan jika mereka melaporkan serangan yang dialaminya.

HRW meminta India untuk memperkenalkan sistem perlindungan korban dan saksi guna mendorong masyarakat memberanikan diri untuk maju.

Mereka mewawancarai lebih dari 20 korban perkosaan, juga pengacara, dokter dan pejabat polisi di empat negara bagian dengan tingkat perkosaan yang tinggi, juga New Delhi dan Mumbai. (Ant/SU02)

Komentar

BACA JUGA

Pemerintah Batalkan Rencana Penunjukan Plt Gubernur dari Polri

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Pemerintah telah membatalkan rencana penunjukan pelaksana tugas, atau disingkat plt gubernur dari Polri, yang sedianya akan mengisi kekosongan kepemimpinan di dua daerah...
Zakat ASN 2,5%

Presiden Tidak Akan Tandatangani UU MD3

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Presiden Jokowi tidak akan menandatangani revisi Undang-Undang No 17 tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD, atau dikenal UU MD3 yang...
pistol, senjata api

Balik Melawan, Polrestro Jakbar Tembak Mati Perampok Bersenjata

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Petugas Polres Metro Jakarta Barat menembak mati perampok bersenjata api, Hendri, lantaran berusaha melawan anggota usai dilakukan penangkapan. "Petugas mengambil tindakan tegas dan...
luhut binsar panjaitan

Luhut: Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Tetap Berlanjut

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memastikan proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung tetap berjalan meski meleset dari target awal beroperasi. Luhut menggelar...

KPU Bali Targetkan Partisipasi Pemilih Lebihi Nasional

DENPASAR, SERUJI.CO.ID - Komisi Pemilihan Umum Provinsi Bali menargetkan partisipasi pemilih dalam Pilkada 2018 di daerah itu melebihi target nasional yang ditetapkan sebesar 75,5 persen. "Kami...
loading...
Marah

Marah

Marah. Sebuah kata yang sederhana tapi punya implikasi yang besar.  Akibat marah, hubungan silaturrahim badunsanak bisa putus, dengan tetangga tidak berteguran, pejabat bisa kena...

SUARA WARGA MUHAMMADIYAH BISA JADI PENENTU PEMENANG PILGUB JATIM 2018

Suara Warga Muhammadiyah, Bisa Jadi Penentu Pemenang Pilgub Jatim 2018 By: Syaifulloh Penikmat Pendidikan Kedua calon Gubernur Jawa Timur kedua-duanya memiliki back ground dari Ormas terbesar di...
KH. Luthfi Bashori

Nikah Mut’ah Pernah Dihalalkan, Lantas Dilarang Untuk Seterusnya

Sy. Abdulah RA mengisahkan, ia dan para shahabat pergi berperang besama Rasulullah SAW tanpa disertai wanita (istri mereka). Lalu para shahabat bertanya kepada Rasulullah...