Dino: Kepercayaan dan Kepemimpinan Faktor Kesuksesan ASEAN

JAKARTA – Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal mengatakan kepercayaan serta kepemimpinan menjadi faktor kesuksesan dari Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) pada umurnya yang mencapai setengah abad.

“Di usianya yang mencapai 50 tahun, Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) sekarang telah jauh sangat berbeda dengan keadaan lima dekade lalu,” ujar Dino Patti Djalal dalam Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP), di Jakarta, Sabtu (21/10).

Pada saat ASEAN didirikan dan dideklarasikan di Bangkok, pada tanggal 8 Agustus 1967 ada lima negara yang merupakan anggota pertama ASEAN seperti Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Penandatanganan Deklarasi Bangkok dilakukan oleh lima menteri luar negeri negara-negara anggota yang seluruhnya berasal dari negara-negara di Asia tenggara yakni: dari Indonesia (Adam Malik), Malaysia (Tun Abdul Razak), Filiphina (Narsisco Ramor), Thailand (Thanat Koman), dan Singapura (S. Rajaratnam).

Sejak dideklarasikan pada tahun 1967 hingga saat ini ASEAN sudah memiliki 10 negara anggota. Lima negara anggota pertama sekaligus pendiri ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina dan Tailand. Pada tanggal 7 Januari 1984 Brunei Darussalam ikut bergabung menjadi anggota Asean ke-6. Selanjutnya sembilan tahun kemudian, tepatnya tanggal 28 Juli 1995 Vietnam juga ikut bergabung, diikuti Laos dan Myanmar tanggal 23 Juli 1997. Setahun kemudian Kamboja juga mulai bergabung tepatnya pada tanggal 16 Desember 1998) “Dulunya Konfrontasi sekarang menjadi kerjasama. Dulunya kawasan ini banyak perang dan konflik, saat ini kondisi kawasan damai,” kata dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Bangsa

Walaupun telah merdeka secara politik sejak tahun 1945, akan tetapi RI masih terus tergantung produk perusahaan-perusahaan asing hingga saat ini. Mulai dari bangun pagi ke bangun pagi berikutnya kita menggunakan dan mengkonsumsi produk-produk perusahaan asing. Mulai dari urusan remeh temeh seperti semir sepatu dan jarum jahit sampai urusan canggih-canggih seperti pesawat terbang dan gadged.

Gus Ipul Mentransformasi Kota Pasuruan Menuju Smart City

Pemerintah cerdas adalah pemerintah yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakat secara lebih cepat, lebih murah sekaligus lebih terukur. Dinamika perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan.

E-Sambat, Cara Gus Ipul Manfaatkan Teknologi Digital untuk Layani Warga Kota Pasuruan

Program Smart City atau Kota Cerdas membuat kerja pemerintah menjadi lebih efisien, termasuk dengan cepat dapat merespon berbagai keluhan masyarakat. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Pasuruan dengan aplikasi e-Sambat.

Smart City di Surabaya Bukan Sekadar Urusan Aplikasi

Ada enam faktor pendukung terciptanya smart city di Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini bukan sekadar urusan aplikasi, namun juga untuk memberdayakan UMKM.

Terinspirasi Jack Ma, Khofifah Dorong UMKM Masuk ke Dunia Digital

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak awal berupaya agar usaha mikro kecil menengah diberikan peluang melalui digitalisasi sistem. Ia terinspirasi Jack Ma, pemilik Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok.

Ketum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Hard News

Media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. Masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

Target Pemerintah: 6,1 Juta UMKM On Boarding Setiap Tahun

Usaha mikro kecil menengah di daerah membutuhkan teknologi digital untuk berkembang di era pandemi.

TERPOPULER