7 Tentara Myanmar Dipenjara 10 Tahun Terkait Pembantaian Muslim Rohingya


YANGON, SERUJI.CO.ID – Tujuh tentara Myanmar dijatuhi hukuman penjara 10 tahun disertai kerja paksa di sebuah daerah terpencil karena terlibat dalam pembunuhan massal terhadap 10 pria Muslim Rohingya September tahun lalu, kata militer, Selasa (10/4).

Militer mengatakan dalam pernyataan, yang dimuat pada halaman Facebook kantor Panglima Tertinggi Min Aung Hlaing, bahwa tujuh prajurit telah dikenai tindakan karena berperan dan berpartisipasi dalam pembunuhan.

Pembantaian maut itu sedang diselidiki oleh dua wartawan Reuters, Wa Lone (31) dan Kyaw Soe Oo (28). Kedua wartawan itu sendiri ditangkap pada Desember dan masih ditahan dengan menghadapi tuduhan melanggar Undang-undang Kerahasiaan Pejabat Myanmar.

Pihak berwenang mengatakan kepada Reuters pada Februari bahwa militer telah meluncurkan penyidikan internal secara independen dan bahwa penyidikan itu tidak berhubungan dengan para wartawan Reuters, yang dituduh memiliki dokumen-dokumen pemerintah yang rahasia.

Para pria Muslim Rohingya yang berasal dari desa Inn Din di negara bagian Rakhine itu dimasukkan ke liang lahat di sebuah kuburan massal pada awal September setelah dibunuh oleh sejumlah tetangga beragama Buddha dan tentara.

Reuters menerbitkan laporan soal pembunuhan tersebut pada Februari.

Pembunuhan itu merupakan bagian dari tindakan keras tentara terhadap kalangan Muslim Rohingya. Tentara dihujani tuduhan melakukan pembunuhan, pemerkosaan, pembakaran dan penjarahan sebagai tindakan yang dipicu oleh serangan-serangan militan sekelompok warga Muslim Rohingya terhadap pasukan keamanan pada akhir Agustus.

Perserikatan Bangsa-bangsa dan Amerika Serikat menggambarkan kekerasan itu sebagai pembersihan etnis. Myanmar membantah tuduhan tersebut.

Dalam pernyataannya, militer mengatakan bahwa proses hukum terhadap para personel kepolisian dan warga sipil yang terlibat dalam kejahatan itu masih berjalan.

Pada 10 Januari, militer mengatakan bahwa kesepuluh pria Muslim Rohingya yang tewas itu merupakan bagian dari kelompok garis keras yang beranggotakan 200 orang dan melakukan penyerangan terhadap pasukan keamanan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Riset di Indonesia ‘Mandul’? Belajar dari Thomas Edison-GE

Mengapa riset di perguruan tinggi kita mandul? Mengapa hanya menghasilkan dokumen  di rak-rak perpustakaan atau link internet yang hanya dibaca secara terpaksa oleh para mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi? Simak jawabannya di sini

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

Ternyata Menteri Agama Berasal dari Ormas Islam Yang Sama dengan Ustadz Tengku Zulkarnain

Fachrul Razi tercatat sebagai anggota Majelis Amanah Pusat PB Math'laul Anwar sejak 2018 berdasarkan Surat Keputusan nomor A.166/KPTS/PBMA/V/2018 yang ditandatangani Ketua Umum PB MA, Ahmad Sadeli Karim dan Sekjen Oke Setiadi
close