Kelompok Hasm Mesir Mengakui Serangan Terhadap Kedubes Myanmar

KAIRO, SERUJI.CO.ID – Kelompok Harakat Saad Masri (Hasm), Mesir, Ahad (2/10), mengaku bertanggung jawab terhadap sebuah ledakan kecil di Kedutaan Besar Myanmar di Kairo, dengan mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan balasan atas tindakan militer negara tersebut terhadap Muslim Rohingya.

Kementerian dalam negeri Mesir belum memberikan tanggapannya terkait ledakan Sabtu itu, yang oleh warga dan media pada awalnya dilaporkan sebagai dugaan ledakan akibat pipa gas yang bocor. Dua sumber keamanan mengatakan bahwa jejak bahan peledak ditemukan di tempat kejadian.

“Serangan bom ini menjadi peringatan kepada kedutaan rezim pembunuh, pembunuh wanita dan anak-anak di negara bagian Rakhine, dan dalam solidaritas terhadap anak-anak Muslim yang lemah ini,” kata Hasm dalam pernyataannya.

Ini adalah pertama kalinya Hasm, sebuah kelompok yang dituduh telah melakukan beberapa serangan menyasar hakim dan polisi di sekitar Kairo setahun belakangan, mengakui serangan terhadap sasaran sipil.

“(Kami telah) sangat hati-hati untuk memastikan bahwa tidak ada korban sipil atau orang yang tak bersalah (terluka) selama operasi,” kata Hasm dalam pernyataannya.

Juru bicara pemerintah Myanmar mendesak warga negaranya yang berada di luar negeri untuk meningkatkan kewaspadaannya.

“Dimohon untuk tingkatkan kewaspadaan kepada warga Myanmar yang berada di seluruh dunia,” kata juru bicara, Zaw Htay, dalam akun Twitter-nya.

Gelombang kekerasan terkini di Rakhine, Myanmar barat dimulai pada 25 Agustus, ketika gerilyawan Rohingya menyerang sejumlah pos polisi dan sebuah markas tentara, menewaskan sekitar 12 orang.

Serangan balasan Militer Myanmar telah menyebabkan lebih dari 410.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, kelompok pemantau hak asasi mengatakan bahwa operasi yang dilancarkan oleh militer Myanmar adalah sebuah upaya untuk mengusir masyarakat Muslim dari negara itu yang kebanyakan penduduknya beragama Buddha.

Mesir menuduh Hasm sebagai sayap pemberontak dari Ikhwanul Muslimin, sebuah kelompok organisasi Islam yang dilarang keberadaannya sejak 2013. Namun Ikhwanul Muslimin membantah tuduhan tersebut.

Ratusan tentara dan polisi Mesir tewas ketika berusaha memerangi pemberontakan di Sinai yang semakin meningkat sejak pertengahan 2013, ketika Jenderal Abdel Fattah al-Sisi, yang kini menjabat sebagai presiden, menggulingkan Mohamed Mursi setelah terjadi aksi unjuk rasa besar terhadap pemerintahannya. (Ant/SU02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Sambut Konferwil AMSI Jatim, Begini Pesan Kapolda Jawa Timur

"Saya terima kasih teman-teman dari AMSI, mudah-mudahan bisa mengawal suplai berita kepada masyarakat dalam koridor jurnalistik yang tetap menjaga objektifitas. Saya senang sekali bisa audiensi dan bersilaturahmi," kata Irjen Fadil di Mapolda Jatim

Hak Asuh Anak Dalam Perceraian

Retaknya perkawinan yang berujung perceraian sering kali mengakibatkan konflik perebutan hak asuh anak. Dalam artikel kali ini, Ruang Hukum akan menjelaskan tentang hak asuh anak sesuai perundangn yang berlaku dan prosesnya di Pengadilan jika terjadi perselisihan perebutan hak asuh anak. Selamat membaca.....

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

TERPOPULER