Kasus Cikupa, ICJR: Pengarakan Pasangan Mesum Adalah Tindakan Brutal

1
226
Pengarakan warga
Ilustrasi

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Pengamat hukum dari Institut for Criminal Justice Reform (ICJR) Maidina Rahmawati menilai aksi persekusi pengarakan yang dilakukan warga Cikupa, Tangerang, terhadap sepasang remaja yang diduga bertindak mesum dinilai melanggar kesusilaan.

“Kami mengecam keras tindakan pengarakan yang dilakukan warga. Tindakan itu sangat sewenang-wenang dan dilakukan secara brutal, bahkan tidak segan mempertontonkan kemaluan pelaku di depan umum,” ujar Maidina dalam pesan tertulisnya di Jakarta, Selasa (15/11).

Dia menilai, tindakan persekusi tersebut telah melanggar hak atas privasi yang bersangkutan dan dilakukan tanpa hak dan wewenang apapun.

Loading...

Hal itu dia sampaikan mengingat bahwa hingga saat ini peraturan perundang-undangan Indonesia sama sekali tidak mengatur adanya tindak pidana kesusilaan pada ranah privat dalam ruang tertutup, dan dilakukan dengan konsen atau persetujuan antar pihak yang terlibat.

“Padahal diketahui tidak ada perbuatan apapun terkait dengan kesusilaan yang dilakukan oleh pasangan tersebut. Tindakan warga yang main hakim sendiri atau persekusi tersebut malah bisa diganjar dengan pidana berlapis,” katanya menambahkan.

Salah satunya adalah tindak pidana kesusilaan di depan umum Pasal 282 ayat 1 KUHP dan Pasal 35 UU pornografi tentang menjadikan orang lain sebagai objek atau model yang bermuatan pornografi, pungkas Maidina.

Kasus ini kembali mengingatkan masyarakat betapa pentingnya menjaga kesusilaan secara hati-hati, jangan sampai pengaturan tindak pidana menjadi eksesif tidak hanya untuk mengatasi masalah kejahatan namun juga sebagai pengendali masalah moral masyarakat yang tidak relevan untuk dilindungi karena hukum pidana seharusnya bersifat “ultimum remedium”.

“Intinya kan masalah kesusilaan sangat erat kaitannya dengan moral di masyarakat, lengkap dengan tendensi dan subjektivitas populasi mayoritas di sekitarnya. Bagaimana pun juga hukum pidana harus dibuat berdasarkan asas legalitas yang tidak boleh dilanggar,” ujar Maidina menegaskan.

Asas legalitas yang tidak boleh dilanggar yaitu, hukum pidana tidak boleh berlaku surut, harus tertulis dan tidak boleh dipidana berdasarkan hukum kebiasaan, rumusan ketentuan pidana harus jelas, dan ketentuan pidana harus ditafsirkan secara ketat dan larangan analogi.

Sebelumnya, video aksi main hakim sendiri terhadap sepasang kekasih yang dituduh berbuat mesum beredar luas di media sosial.

Dalam video berdurasi sekitar 53 detik itu, sejumlah orang memaksa sepasang remaja, untuk melepaskan pakaian yang melekat di tubuh mereka.

Orang-orang itu bahkan sempat melakukan penganiayaan. Usai membuka pakaian kedua remaja itu, sekelompok orang mengaraknya keliling kampung. Remaja yang perempuan berteriak histeris karena pakaiannya dilucuti. (Ant/SU02)

Langganan berita lewat Telegram
loading...

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU