Bimanesh Menyesal Larang Setnov Dijenguk

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Dokter RS Medika Permata Hijau Bimanesh Sutardjo menyesal telah membuat tulisan larangan membesuk di depan ruang rawat Setnov.

“Saudara mengatakan menyesal, dalam arti ‘Saya menyesal membuat tulisan di pintu kamar VI ‘Pasien perlu istirahat karena penyakitnya, mohon tidak dibesuk’ yang mana tulisan saya ini disalahgunakan Fredrich Yunadi untuk melarang masuk penyidik KPK, saya mengakui ini sebagai kesalahan’, apakah benar?” tanya jaksa penuntut umum KPK Kresno Anto Wibowo di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (7/6).

“Iya,” jawab Bimanesh.

Bimanesh adalah terdakwa yang bersama-sama dengan advokat Fredrich Yunadi didakwa menghindarkan Ketua DPR Setya Novanto diperiksa dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi KTP elektronik.

Pada 16 November 2017, Setnov masuk ke RS Medika Permata Hijau karena mengalami kecelakaan mobil, namun sebelumnya Fredrich sudah berpesan kepada Bimanesh bahwa Setnov akan datang ke rumah sakit tersebut karena diagnosa hipertensi, padahal pada 15 November 2017 KPK memanggil Setnov untuk diperiksa dan Setnov tidak diketahui keberadaannya sehingga penyidik menduga kecelakaan itu hanya untuk menghindari pemeriksaan.

Saat penyidik KPK mendatangi RS Medika Permata Hijau pada 16 November 2017 malam, Fredrich menggunakan tulisan yang dibuat Bimanesh untuk mengusir para penyidik.

“Saya hanya ingin pasien itu beristirahat tapi setelah disalahgunakan Fredrich saya menyesal kenapa ini disalahgunakan jadi saya yang ditimpa kesalahan itu, jadi saya mengaukui ini kesalahan saya,” ungkap Bimanesh.

Bimanesh juga membuat visum yang diminta oleh penyidik Polri mengenai sebab kecelakaan Setya Novanto.

“Saya merasa bersalah meladeni permintaan (Fredrich) itu, karena itu bukan kecelakaan lalu lintas, makanya saya tidak berani mencantumkan disebabkan kecelakaan lalu lintas yang tertulis di visum yang saya salin dari permintaan polisi untuk keperluan (laporan) kecelakaan lalu lintas, saya tulis karena benda tumpul,” tambah Bimanesh.

“Saudara menganggap visum itu sebagai kesalahan yang saudara perbuat?” tanya jaksa Kresno.

“Saya lihat belakangan itu kesalahan, tapi waktu itu saya hanya melakukan demi kepentingan pasien, tidak melihat siapa pasien ini,” ucap Bimanesh. (Ant/SU02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Belajar, Bukan Bersekolah

Akhir pandemi belum juga jelas, satu hal sekarang makin jelas: Gedung-gedung megah persekolahan itu makin tidak relevan jika dipaksakan untuk kembali menampung kegiatan bersekolah lagi. Sekolah harus direposisi. Juga guru.

Bertema “Inovasi Beyond Pandemi”, AMSI Gelar Indonesian Digital Conference 2020

Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut mengatakan IDC yang digelar AMSI bertujuan untuk melihat sejauh mana berbagai sektor melakukan inovasi di tengah pandemi Covid-19 dan seperti apa ke depan.

Cek Fakta: Debat Pilkada Tangsel, Seluruh Paslon Minim Paparkan Data

Debat pemilihan umum kepala daerah (pilkada) Tangerang Selatan (Tangsel) membeberkan program kerja yang dimiliki para peserta. Sayangnya, dalam debat tersebut masing-masing pasangan calon (paslon) lebih banyak bicara dalam tatanan konsep.

PasarLukisan.com Gelar Pameran Lukisan Virtual Karya Pelukis dari Berbagai Daerah

"Ini adalah solusi yang diharapkan akan memecahkan kebekuan kegiatan kesenian, khususnya pameran seni rupa, akibat pandemi yang belum kunjung berakhir," kata M. Anis,

Paman Donald dan Eyang Joe

Banyak yang usil menyamakan pilpres Amerika dengan Indonesia, termasuk kemungkinan Biden akan mengajak Trump bertemu di MRT dan menawarinya menjadi menteri pertahanan.

Berikut Berbagai Larangan Bagi Penasihat Investasi Yang Diatur dalam Keputusan BPPM

Penasihat Investasi dalam menjalankan kegiatannya harus bersikap hati–hati, dikarenakan terdapat larangan yang harus diperhatikan oleh Penasihat Investasi agar terhindar dari sanksi.

TERPOPULER

Bantah Keterangan Polisi, BPK Tegaskan Belum Pernah Audit Dana Kemah Pemuda Islam

Ternyata BPK menyatakan belum ada permintaan audit terkait kegiatan Apel dan Kemah Pemuda Islam 2017. Bahkan, BPK pun belum pernah melakukan ekspose terkait dugaan penyimpangan dana atas kegiatan tersebut yang menjerat Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak.

dr. Antina Nevi Hidayati, SpKJ