Tersangka Korupsi RTH Pekanbaru Ajukan “Justice Collaborator”


PEKANBARU, SERUJI.CO.ID – Kejaksaan Tinggi Riau menyatakan terdapat sejumlah tersangka dugaan tindak pidana korupsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tunjuk Ajar Integritas Kota Pekanbaru sebagai “justice collaborator” atau JC.

“Lebih dari enam (tersangka yang mengajukan diri sebagai JC). Semuanya dari kalangan ASN (Aparatur Sipil Negara),” kata Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Riau, Sugeng Riyanta kepada Antara di Pekanbaru, Rabu (21/2).

Sugeng menjelaskan bahwa seorang yang ingin menjadi JC harus mengakui perbuatannya dan kooperatif membuka peran pihak-pihak lain secara lebih luas. Menjadi JC juga telah diatur dalam undang-undang perlindungan saksi dan korban.

Namun, menurut dia, pelaku utama tidak akan disetujui menjadi JC. Selain itu, dia juga mengatakan pihaknya akan mengkaji secara serius sebelum mengabulkan permohonan seseorang untuk menjadi JC dalam korupsi berjamaah melibatkan 18 tersangka tersebut.

Termasuk diantaranya menguji keterangan tersangka yang disampaikan ke penyidik hingga keterangan yang disampaikan ke majelis hakim ketika sudah sampai tahap pengadilan.

“Di Kejaksaan, JC kita kaji betul. Karena ada syarat-syarat, seperti kooperatif, bongkar fakta-fakta kejahatan termasuk apa yang dia lakukan,” ujarnya.

“Kemudian, sebelum dikabulkan, keterangannya diuji dulu. Di Persidangan apakah sama dengan keterangan kepada penyidik. Baru nanti keputusan JC,” ujarnya.

Lebih jauh, dia menjelaskan tersangka yang telah diterima sebagai JC akan disebutkan dalam amar tuntutan yang dibacakan oleh JPU. Keterlibatan JC dinyatakan dalam hal-hal yang meringankan terdakwa selama menjalani penyidikan dan persidangan.

Menurut Sugeng, Hakim boleh setuju atau tidak dengan tuntutan yang disampaikan JPU, “hakim boleh sepakat atau tidak. Kalau sepakat boleh dipertimbangkan untuk meringankan,” tuturnya.

Sementara itu, meski Sugeng menyampaikan telah ada enam orang yang mengajukan diri sebagai JC, mantan Kajari Muko-Muko tersebut masih belum bersedia mengungkap identitas para tersangka yang berupaya membongkar kasus tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

close