Mantan Direktur RSUD Djoelham Binjai Serahkan Diri


MEDAN, SERUJI.CO.ID – Mantan Direktur RSUD Djoelham Binjai, Sumatera Utara yang menjadi tersangka kasus korupsi pengadaan alat kesehatan RSUD Djoelham senilai Rp14 miliar pada 2012, MS, menyerahkan diri ke kejaksaan negeri setempat.

Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Sumut Sumanggar Siagian di Medan, Senin, mengatakan penyerahan diri tersangka itu, didampingi tiga pengacaranya dan diterima Kepala Kejari Binjai Victor Antonius Saragih Sidabutar.

Tersangka menyerahkan diri ke institusi hukum tersebut pada Jumat (19/1) sekitar pukul 10.30 WIB. Penyidik kemudian melakukan pemeriksaan terhadap dia, termasuk mengecek kesehatannya, untuk selanjutnya menahan tersangka itu di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-A Binjai.

Kejari Binjai telah beberapa kali melayangkan surat pemanggilan terhadap tersangka, namun MS tidak pernah hadir dan kooperatif.

Penyidik juga melakukan pencarian terhadap tersangka karena menghilang dan tidak pernah lagi masuk kerja di RSUD Djoelham Binjai.

“Penyidik juga menggeledah rumah tersangka yang berlokasi di Kelurahan Selayang I, Kota Medan,” kata juru bicara Kejati Sumut itu.

Kejari Binjai telah menahan empat tersangka dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan untuk selanjutnya dititipkan di Lapas Klas II-A Binjai.

Keempat tersangka itu, yakni CPT, mantan Kepala ULP RSUD Djoelham Binjai, SYA, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), SHD, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Pengadaan Barang dan Jasa, serta TD, Direktur PT Masarinda Abadi. Dua tersangka lainnya, yakni BA, Kepala Cabang Kimia Farma Medan pada 2012 dan FNC, Direktur PT Petan Daya. Keduanya tidak dilakukan penahanan karena kooperatif.

Kasus korupsi pengadaan alat kesehatan RSUD Djoelham Binjai itu, pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp14 miliar. Kerugian negara dalam kasus itu, sesuai hasil audit BPKP Sumut, mencapai Rp3,5 miliar .

Dalam kasus korupsi tersebut, para tersangka melakukan penggelembungan harga untuk pengadaan barang dan jasa yang dilakukan pihak RSUD Djoelham Binjai. Hal itu tidak sesuai dengan Peraturan Presiden (Pepres) Nomor 54 Tahun 2010. (Ant/SU03)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close