Kejati DKI Jakarta Selamatkan Uang Negara Rp 83,7 Miliar

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta menyelamatkan kerugian keuangan negara dari bidang tindak pidana khusus dari tahap penyidikan, penuntutan sampai eksekusi sebesar Rp 83,709 miliar.

“Diantaranya dari uang pengganti sebesar Rp 41 miliar terpidana kasus pencairan BLBI Samadikun Hartono,” kata Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DKI Jakarta, Tony Spontana di Jakarta, Jumat (8/12).

Selain itu, juga mendapatkan uang pengganti juga dari terpidana kasus pengadaan bus TransJakarta yang juga mantan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udhar Pristono sebesar Rp 7,709 miliar, kemudian terpidana Dicky Chandra Adrianus Rp 9,029 miliar.

Uang pengganti itu merupakan putusan terpidana yang sudah inkracht atau memiliki putusan tetap dengan totalnya Rp 70,738 miliar. Sedangkan untuk perkara masih dalam penyidikan Rp 6,887 miliar dan penuntutan Rp 6,083 miliar.

Sementara itu, rekapitulasi pencapaian kinerja Bidang Pidana Khusus periode 2017 di Kejati DKI Jakarta untuk penyelidikan 10 perkara dan penyidikan 15 perkara, Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat untuk penyelidikan dua perkara dan penyidikan lima perkara, Kejari Jakarta Utara penyelidikan empat perkara dan penyidikan satu perkara.

Kejari Jakarta Barat tiga perkara penyelidikan dan satu perkara penyidikan, Kejari Jakarta Timur sembilan perkara penyelidikan dan delapan perkara penyidikan, dan Kejari Jakarta Selatan penyelidikan 14 perkara dan tiga perkara penyidikan.

Kemudian di tahap penuntutan, penyidikan asal kejaksaan di Kejati DKI sebanyak tujuh perkara dan penyidikan Polri tujuh perkara, Kejari Jakpus penyidikan kejaksaan 23 perkara dan penyidikan Polri enam perkara, penyidikan Kejari Jakarta Utara tiga perkara dan penyidikan Polri empat perkara.

Kejari Jakarta Barat di tahap penuntutan dari kejaksaan sebanyak tiga perkara dan perkara dari kepolisian enam perkara, Kejari Jakarta Timur lima perkara dan dari kepolisian enam perkara, dan Kejari Jakarta Selatan tujuh perkara dan dari kepolisian tujuh perkara.

Samadikun merupakan terpidana kasus korupsi BLBI dan menjadi buron belasan tahun. Sejak mengeksekusi Samadikun, akhir April 2016 lalu, Kejagung mengincar asetnya untuk disita jika ia tidak bisa mengembalikan uang ke kas negara.

Samadikun ditangkap di Shanghai, China, oleh kepolisian setempat dan dipulangkan ke Indonesia.

Ia divonis bersalah dalam kasus penyalahgunaan dana talangan dari Bank Indonesia atau BLBI senilai sekitar Rp 2,5 triliun yang digelontorkan ke bank modern menyusul krisis finansial 1998.

Berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) tertanggal 28 Mei 2003, mantan komisaris bank modern Tbk itu dikenai hukuman penjara selama empat tahu. (Ant/SU02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Tragedi Lion Air JT-610: Momentum Peningkatan Kesadaran Hukum Keselamatan Penerbangan

Hasil penelitian penyebab kecelakaan penerbangan yang dilakukan Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) hanya merupakan masukan secara tertutup kepada Pemerintah sebagai bahan evaluasi untuk pencegahan antisipasi agar tidak terulang lagi penyebab kecelakaan yang sama.

Sambut Konferwil AMSI Jatim, Begini Pesan Kapolda Jawa Timur

"Saya terima kasih teman-teman dari AMSI, mudah-mudahan bisa mengawal suplai berita kepada masyarakat dalam koridor jurnalistik yang tetap menjaga objektifitas. Saya senang sekali bisa audiensi dan bersilaturahmi," kata Irjen Fadil di Mapolda Jatim

Hak Asuh Anak Dalam Perceraian

Retaknya perkawinan yang berujung perceraian sering kali mengakibatkan konflik perebutan hak asuh anak. Dalam artikel kali ini, Ruang Hukum akan menjelaskan tentang hak asuh anak sesuai perundangn yang berlaku dan prosesnya di Pengadilan jika terjadi perselisihan perebutan hak asuh anak. Selamat membaca.....

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

TERPOPULER