Hakim Vonis Penjara Bartender Jual Magic Mushroom

MATARAM, SERUJI.CO.ID – Hakim pengadilan Mataram menjatuhkan vonis hukuman penjara kepada Gita Kusuma (31), seorang “bartender” di kawasan wisata Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, selama enam tahun penjara karena menjual “magic mushroom”.

Terdakwa yang perannya sebagai kurir pemilik barang tersebut dinyatakan terbukti bersalah melanggar Pasal 114 Undang-Undang RI Nomor 35/2009 tentang Narkotika. Terdakwa juga terbukti secara sah menjual narkotika golongan I dalam bentuk tanaman, kata Ketua Majelis Hakim Didiek Jatmiko dalam putusannya di Pengadilan Negeri Mataram, Rabu (25/4).

“Kami menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa Lalu Gita Kusuma selama enam tahun dan denda sebanyak Rp1 miliar,” kata Ketua Majelis Hakim.

Jika terdakwa yang berasal dari wilayah Ampenan, Kota Mataram, itu tidak sanggup membayarkan denda pidana hingga batas waktu yang telah ditentukan. Maka wajib menggantinya dengan kurungan badan selama dua bulan.

Sebelumnya dalam tuntutan JPU, Gita Kusuma dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara dengan pidana denda Rp1 miliar subsider dua bulan kurungan.

Vonisnya diberikan lebih rendah dibandingkan tuntutan, karena alasan terdakwa yang tidak mengetahui bahwa “magic mushroom” yang didapat dari kotoran sapi itu masuk dalam daftar narkotika golongan I dalam bentuk tanaman.

Akhir persidangannya, Gita Kusuma kepada Majelis Hakim mengaku bahwa “magic mushroom” yang ditemukan petugas kepolisian pada akhir Oktober 2017 di Abeeza Bar, Gili Trawangan, tempatnya bekerja adalah milik si bos.

“Saya tahu kalau itu (magic mushroom) banyak dijual di sana (Gili Trawangan). ‘Magic mushroom’ itu juga masuk dalam menu bar, disimpannya di kulkas. Yang beli bos saya, saya cuma bartender, tugasnya hanya menyediakan sesuai menu yang ada,” kata Gita Kusuma.

Karena itu dalam kesempatannya, Gita Kusuma meminta Majelis Hakim dengan memerintahkan jaksa agar turut menyidangkan si pemilik bar. Karena yang memiliki tanggung jawab atas keberadaan “magic mushroom” tersebut adalah pemilik bar, Rangga.

“Saya mau ada keadilan saja. Saya mengaku salah, tapi ada orang lain juga yang harus dimintai pertanggungjawabannya,” ujarnya.

Pada akhir Oktober 2017, “bartender” Abeeza Bar itu ditangkap oleh petugas kepolisian dari Polda NTB ketika sedang meracik pesanan minuman jus yang berbahan dasar “magic mushroom”.

Dari hasil penggeledahannya, petugas kepolisian mengamankan 34 stok “magic mushroom” yang sudah tersimpan dalam bentuk kemasan plastik berdaun pisang. (Ant/SU02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Mengarahkan Gerakan NKRI Bersyariah

Walau begitu, sekali lagi percayalah bahwa perjuangan Islam politik untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam tak akan pernah mati. Ia akan terus bermetamorfosa dan tersimpan rapi dalam memori kolektif kelompok Islam politik.

5 Gili Paling Indah di Lombok Selain Gili Trawangan

Lombok enggak melulu soal Gili Trawangan karena ada gili-gili lainnya yang enggak kalah menarik untuk dikunjungi.

Orang Lebih Suka Cari Rumah Saat Sedang Bekerja

Berdasarkan traffic pengunjung portal properti Lamudi.co.id, ternyata waktu favorit masyarakat mencari rumah adalah saat di hari kerja, yakni pada hari Selasa hingga Kamis mulai pukul 10.00 pagi sampai 14.00 siang.

Nilai Nadiem Belum Layak Jadi Menteri, Driver Online: Lebih Baik Fokus Besarkan Gojek

Rahmat menilai, Nadiem belum layak menjadi menteri. Contoh skala kecil saja, dalam menjalankan bisnisnya di Gojek, Nadiem belum mampu mensejahterakan mitra nya, para driver online, baik yang roda dua maupun roda empat.

Tidak Larang Demo Saat Pelantikan, Jokowi: Dijamin Konstitusi

Presiden Jokowi menegaskan bahwa pihaknya tidak melarang aksi unjuk rasa atau demonstrasi yang ingin dilakukan masyarakat, menjelang dan saat pelantikan Presiden-Wakil Presiden terpilih Pilpres 2019, pada tanggal 20 Oktober mendatang.

La Nyalla: Kongres PSSI Merupakan Momentum Mengembalikan Kedaulatan Voters

"Dengan hak suaranya di kongres, voters lah yang akan menjadi penentu hitam putihnya sepakbola negeri ini. Sebab, voters-lah yang memilih 15 pejabat elit PSSI untuk periode 2019-2023. Yaitu Ketua Umum, 2 Wakil Ketua Umum, dan 12 Exco," kata La Nyalla

Rhenald Kasali: CEO Harus Bisa Bedakan Resesi dengan Disrupsi

Pakar disrupsi Indonesia, Prof Rhenald Kasali mengingatkan agar pelaku usaha dan BUMN bisa membedakan ancaman resesi dengan disrupsi. Terlebih saat sejumlah unicorn mulai diuji di pasar modal dan beralih dari angel investor ke publik.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Demokrasi di Minangkabau