Wisata Misteri Tana Toraja Butuh Nyali

6
263
Pemakaman Londa di sepanjang tebing di Toraja. (FOto: Abdul Kholik)

TANA TORAJA – Setelah hampir satu minggu hidup di atas kapal, start dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan sehari transit di Balikpapan, Kalimantan Timur, akhirnya kami tiba di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan. Kami membawa dua unit mobil untuk tur ke Tana Toraja. Selanjutnya perjalanan darat kami mulai dari Kota Makassar menuju Toraja melewati perbukitan yang cukup menantang andrenalin karena harus berkelok tajam dan juga licin (maklum sedang musim hujan).

Setelah hampir 9 jam, akhirnya kami memasuki Ibukota Kabupaten Tana Toraja, Makale, dan disambut oleh patung Lakipadada di Alun-alun Kota Makale yang berdiri gagah di tengah kolam yang berada persis di tengah alun-alun. Patung Pahlawan Lakipadada ini menjadi landmark Kota Makale dengan segala kisah dan sejarahnya yang pada masa penjajahan sosok Lakipadada ini adalah pejuang melawan penjajahan yang memimpin rakyat Toraja untuk mengusir penjajah dari bumi Tana Toraja.

Seperti kita ketahui bersama, bahwa pada tahun 2008 Tana Toraja dimekarkan menjadi dua wilayah Kabupaten. Tana Toraja dengan ibukota Makale, dan yang satu menjadi Kabupaten Toraja Utara dengan ibukota Rantepao. Jadi jangan heran hampir fasilitas umum dan publik kebanyakan masih didominasi berada di wilayah Tana Toraja, seperti bandara, hotel berbintang, dan cafe. Sebaliknya di kabupaten hasil pemekaran Toraja Utara masih relatif minim fasilitas walaupun sebagian besar destinasi wisata yang kesohor ke seluruh penjuru
dunia ini berada di wilayah Kabupaten Toraja Utara.

Akhirnya, selepas Maghrib kami hunting hotel dan memutuskan untuk menginap di Rantepao, karena spot-spot wisata ada di wilayah ini. Eksotisme Toraja dimulai saat saya bernegoisasi dengan kasir sekaligus owner sebuah penginapan di Kota Rantepao. Dengan ramah ibu ini melayani kami, walau saya sempat gemetaran karena di samping ibu ini duduk dengan tenang seorang kakek memperhatikan kami dari tadi. Setelah menyelesaikan segala urusan administrasi penginapan, saya mengucapkan terima kasih pada ibu kasir sambil bertanya siapa gerangan kakek di sebelah ibu ini.

Dengan tenang ibu menjawab, “Beliau ini adalah patung almarhum kakek saya, pendiri hotel ini, Mas”

“Hah.. patung..?”. Kami pun meninggalkan ruangan tersebut dengan merinding.

Keesokan harinya kami pun mengawali tur ini dengan mencari masakan yang halal. Dan pilihannya jatuh di masakan Padang yang terletak di depan pasar induk Rantepao. Setelah semua selesai, kami meluncur ke destinasi wisata Londa. Londa ini sudah menjadi salah satu objek wisata yang unik dan juga penuh misteri di Toraja.

Londa berada di selatan Kota Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, berjarak sekitar kurang lebih 7 km arah selatan. Keberadaannya dikelilingi oleh pegunungan nan hijau dan berhawa sangat sejuk. Nuansa eksotisme, unik, dan dibalut mistis menggelayuti kami karena sangat penasaran dengan objek wisata yang sangat kesohor ini.

Pemakaman Londa ini sudah nampak di sepanjang tebing komplek pemakaman. Pahatan lubang-lubang yang sengaja dibuat sudah menyerupai goa untuk ditempati oleh jenazah yang sudah diletakkan dalam peti mati. Keberadaan peti peti jenazah tersebut juga menggambarkan status sosial dalam adat istiadat dan budaya masyarakat Toraja. Garis keturunan juga menentukan dalam meletakkan posisi peti peti jenazah tersebut disesuaikan dengan nazab keluarga sesuai dengan tingkat kebangsawanannya.

Deretan patung-patung yang terbuat dari kayu yang disebut Tau-Tau juga diletakkan di setiap lubang goa yang dipahat dan diukir sedemikian rupa sampai menyerupai dengan rupa jenazah yang sudah diletakkan di dalam goa tadi. Aroma seni tingkat tinggi masyarakat Toraja juga terlihat di sini, karena pembuatan patung-patung yang seakan menjadi “penunggu” goa makam tersebut yang dibuat dengan sedetil serumit mungkin. Terbuat dari kayu nangka kuning sehingga menyerupai dengan warna dan sosok manusia dan diletakkan di posisi batu nisan.

Sekitaran di deratan Tau-Tau ini juga terdapat “Erong”, yaitu peti-peti mati yang letaknya ditopang oleh kayu-kayu agar peti-peti ini aman dan tidak jatuh karena keberadaannya di atas tebing-tebing yang curam. Nah, peti-peti mati inilah yang dikenal oleh masyarakat dan disebut sebagai Makam Gantung.

Dalam kultur masyarakat Toraja, “Erong” yang dimakamkan dan diletakkan dengan cara digantung ini ialah peti-peti mati yang khusus bagi kaum bangsawan dan dari keluarga terhormat. Letak dan posisi tinggi rendahnya sebuah peti-peti mati atau “Erong” ini disesuaikan dengan derajat dan status sosialnya jenazah. Semakin tinggi letaknya peti-peti jenazah, berarti semakin tinggi status derajat dan kebangsawanannya jenazah tersebut.

Ada banyak usaha dan cara yang dilakukan oleh masyarakat Toraja dalam menjaga dan melestarikan tradisi dan adat istiadat yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya. Upacara dan ritual adat juga sering dilakukan oleh masyarakat setempat, seperti tradisi Ma’nene dan lain-lain. Juga terdapat bangunan adat yang kuno dan eksotis yang digunakan untuk melaksakan ritual-ritual adat upacara tertentu. Di antaranya seperti bangunan ikonik “Tongkonan”.

Kete Kesu merupakan wilayah dan kawasan desa wisata, yang berada di arah tenggara ibukota Kabupaten Toraja Utara, Rantepao, yang berjarak sekitar 4 km. Destinasi wisata yang sangat ikonik ini terletak di kawasan persawahan dan perbukitan yang menampilkan sebuah pemandangan alam yang hijau nan asri. Nah, di Desa Kete Kesu ini terdapat sebuah kompleks rumah adat masyarakat Toraja yang biasa disebut tongkonan. Bangunan tradisi unik inilah yang kerap dijadikan tempat penyimpanan sementara untuk jenazah yang telah dibungkus kain kafan sebelum dikebumikan.

Di samping itu, di bagian atas tebing perbukitan Kete Kesu, juga terdapat kuburan batu yang konon merupakan peninggalan purbakala. Diperkirakan sudah berusia ribuan tahun. Di Toraja ini, peti mati tempat menyimpan jenazah biasanya diletakkan di goa-goa batu tertentu tanpa kuburan dalam tanah. Oleh sebab itu, tak aneh juga kalau peti-peti mati tersebut juga dianggap sebagai kuburan.

Terdapat kuburan menyerupai sebuah perahu yang terbuat dari batu di tebing yang paling atas. Di kuburan batu yang menyerupai perahu ini, terdapat tulang-belulang dan tengkorak manusia yang telah meninggal selama ratusan. Bahkan mungkin ribuan tahun lampau. Terdapat juga beraneka sesajen di beberapa titik-titik tebing yang terdiri dari aneka makanan juga rokok dan minuman. Konon, beraneka sesajen ini adalah kesukaan dari jenazah-jenazah di masa hidupnya yang lalu.

Selanjutnya turun ke bagian bawah tebing, kita akan menemukan banyak kuburan yang berbentuk rumah dengan ukuran yang begitu besar. Di depan kuburan-kuburan ini diletakkan patung-patung manusia yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai orang-orang yang meninggal. Biasanya orang yang dikuburkan dengan jenis begini adalah dari kalangan tertentu dalam masyarakat Toraja.

Ternyata, selain berbentuk yang menyerupai perahu dan lubang di sepanjang tebing, juga ada kuburan sekaligus peti-peti mati yang diukir dan dipahat rapi berbentuk babi maupun kerbau. Yang berbentuk babi diperuntukkan bagi jenazah perempuan, sedangkan jenazah lelaki biasanya berbentuk kerbau.

Selanjutnya kita beralih dari sisi kemistisan dan peti mati ini. Ternyata di wilayah Kete Kesu ini juga terdapat deretan toko-toko souvenir khusus yang menyediakan oleh-oleh khas Tana Toraja. Souvenir khas Tana Toraja ini berupa ukiran-ukiran kayu dengan berbagai motif khas. Motif yang terukir di kayu ini berupa gambar hewan maupun tanaman yang melambangkan kesejahteraan dan kebaikan.

Setelah puas berkeliling di berbagai spot-spot wisata, akhirnya kami kembali ke penginapan. Dan kami sempat berbincang dengan salah satu anggota DPRD Kabupaten Toraja utara. Dia menuturkan bahwa para wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara baiknya kalau ingin berkunjung ke Tana Toraja di bulan Desember. Pasalnya, di bulan tersebut banyak diadakan festival maupun upacara adat dan kematian.

EDITOR: Rizky

BAGIKAN
loading...

6 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA TERBARU

Kapal terbakar

Belasan Nelayan Jabar Alami Musibah di Lombok

MATARAM, SERUJI.CO.ID - Sebanyak 16 nelayan asal Desa Karangsong, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mengalami musibah kebakaran kapal di perairan utara Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara,...
Imunisasi

Kemenkes Imunisasi Difteri Serentak di Tiga Provinsi

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Kementerian Kesehatan akan melakukan imunisasi difteri serentak pada tiga provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten pada Senin (11/12) untuk...
Imunisasi

Menkes dan Anies Sosialisasi ORI Cegah Difteri

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Menteri Kesehatan, Nila Moeloek dan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan melakukan sosialisasi program penanggulangan penyakit difteri bernama "Outbreak Response Immunization" (ORI) secara...

KANAL WARGA TERBARU

Sohibul Iman

Selain Sampaikan Pernyataan Sikap, Presiden PKS Ajak Masyarakat Indonesia Boikot Produk AS

JAKARTA - Selain menyampaikan resmi pernyataan sikapnya atas pengakuan Yerussalem sebagai ibukota Israel, Partai Keadilan Sejahtera juga mengajak masyarakat Indonesia untuk memboikot produk-produk Amerika...
images(1)

Keindahan Hawa Nafsu

Muhammad Hanif Priatama Keindahan, sesuatu yang jika dilihat, didengar dan dirasakan, membawa diri bahagia, gembira, lega, kagum, atau senang. Ringkasnya, apapun yang diinginkan, selalu terlihat...

Muslim Klaten Bersatu dalam Aksi Damai Selamatkan Palestina

Muslim Klaten hari ini telah menampakkan ukhuwahnya dalam aksi damai selamatkan Palestina di masjid Al-Aqsho Klaten, Ahad (10/12). Berbagai elemen muslim klaten yang berasal...