Remy Sylado, sastrawan Indonesia. (foto:istimewa)

Melalui tulisannya yang terbaru: Denny JA bagai Tupai Tergelincir, pola berpikir Remy yang salah semakin terlihat. Dalam tulisan terbaru, terbaca agakya Remypun tak paham cara merespon yang benar.

Ia tidak mengeksplor dan melengkapi data kasus dan prosedur apa yang digugat, pokok perkara, yang menjadi inti diskusi. Ia menjawab dengan berlari kepada kasus lain yang tak ada relevansinya.

Pokok perkara adalah itu: kasus Denny JA memperalat penyair. Kasus kontrak kerja menurunkan kualitas sastra. Bukan pokok perkara ini yang ia gali lebih dalam dengan tambahan data dan prosedur mengambil kesimpulan.

Loading...

Ia malah menujukkan penghargaan karya sastra yang ia terima. Tapi apa hubungan dengan tertib berpikir?

Mereka yang pandai membuat puisi dan novel dan mendapat penghargaan atasnya, tak otomatis pasti paham metodologi riset dan cara mengambil kesimpulan yang sahih.

Kini di tulisan terbaru, ia kutip pula aneka buku soal logika yang ia baca dan sebagainya. Apa pula relevansinya? Remy hanya diminta menunjukkan bukti bahwa kontrak menurunkan kualitas sastra. Kok yang ia bawa judul buku soal logika?

Kita teringat kisah Abu Nawas. Ia berjam- jam mencari kunci di ruangan yang terang. Ditanya oleh kawannya. Dimana kau hilangkan kunci itu, wahai Abu Nawas? Jawab Abu Nawas, aku kehilangan kunci di kamarku.

Lalu mengapa kau cari kunci itu di sini, tanya temannya lagi. Jawab Abu Nawas: Kamarku gelap. Di sini terang. Lebih mudah mencari di tempat yang terang.

Untuk kasus di atas, Remy Sylado telah menjadi sejenis Abu Nawas. Kunci yang perlu ia cari ada di kamar gelap sana. Yaitu aneka kasus dan prosedur menarik kesimpulan yang sahih.

Eeehhhh, Remy tidak mencari di sana. Ia lebih senang di ruang yang terang: mengumbar penghargaan karya sastra yang ia terima dan judul buku yang ia baca. Padahal itu tak ada hubungannya.

Ada yang menyedihkan dalam percakapan ini. Tak saya duga, saya harus menuntun setahap demi setahap dengan bahasa yang mudah bagi seorang senior semacam Remy Sylado untuk menunjukkan kesalahan berpikirnya.

Awalnya saya ada rasa tak enak. Namun saya harus pula bisa memisahkan. Remy Sylado memang senior dalam karya sastra. Namun untuk tertib berpikir, cara mengambil kesimpulan yang sahih, Remy hanya seorang pemula yang melakukan kesalahan elementer.

Tak apa kakanda Remy. Kita saling belajar saja. Bro Remy bisa ajarkan saya cara menulis novel yang belum pernah saya lakukan. Dan saya bisa membriefing bro Remy cara memgambil kesimpulan yang sahih yang memang menjadi bidang saya.

Kita saling asih, asah, asuh. Begitukah Kakanda?*

Juni 2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama