Remy Sylado, sastrawan Indonesia. (foto:istimewa)

Dalam satu komentar (reportase wartawan), dan dua tulisannya, segera terbaca dua pola berpikir Remy.

Pertama, kesalahan logika, yang disebut false generalization. Ini kesalahan yang umum dilakukan banyak pihak karena tak terlatih tertib berpikir. Hanya dengan satu dua kasus, ia melakukan generalisasi.

Saya sudah beri contoh kasus false generalization itu. Seorang Ayah menyaksikan anaknya di pesawat alergi memakan kacang yang disajikan. Iapun memperjuangkan agar pesawat tak lagi menyediakan kacang. Ia mengira kasus yang menimpa anaknya seorang bisa ia generalisasi untuk semua penumpang pesawat.

Ketika kita masuk ke dalam public policy, false generalization itu musuh utama. Kita tak akan bisa mengambil kebijakan dan cara merespon yang benar karena kita salah menarik kesimpulan. Realitas yang sebenarnya gagal kita baca karena kesalahan generalisasi. Ini fatal bin fundamental!!!

Remy melakukan kesalahan sang Ayah di atas. Hanya melihat satu atau dua kasus puisi esai, langsung menyatakan Denny JA memperalat penyair. Padahal banyak penyair lain, yang lebih banyak jumlahnya, yang bisa ia temui. Banyak penyair itu bisa jadi memberikan kesaksian yang berbeda.

Hal yang sama soal kontrak. Hanya karena ia mungkin tak suka dunia sastra melakukan kontrak kerja, lalu selera pribadi itu ia generalisasi untuk semua. Keluarlah kesimpulan ajaib: kontrak kerja merendahkan kualitas sastra.

Padahal di masa kini kontrak kerja menulis novel itu biasa. Bahkan saya tunjukan pula, 100 tahun lalu, Charles Dickens yang karya sastranya bermutu sudah pula melakukan kontrak kerja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama