Ilustrasi

Hari Buruh
Puisi Esai, Oleh Denny JA

Karena tanah kita luas,
Tapi kau masih impor beras [1]

Karena banyak pengangguran
Tapi pekerja asing berkeliaran [2]

Karena hutan hijau menghampar
Tapi ketimpangan semakin lebar [3]

Karena pabrik di sini dan di sana
Tapi semua “bukan kami punya” [4]

Maka aku katakan TIDAK padamu
Maka aku melawanmu

Kemarahan bala tentaraku
Ketidak adilan pasukanku
Dulu aku membelamu
Bersiaplah aku mengalahkanmu!

(Tepuk tanganpun bergema
Sorak sorai di udara
Terdengar koor massa
Hanya satu kata: Lawan!)

Agus nama buruh itu
Di hari itu, hari buruh
Ia selalu dielu elu
Ia pandai merangkai kata
Ia ahli pidato
Ia pujaan ibu ibu

Selesai demo, Agus pulang
Anak dan istri menunggu
Laporan itu ia dengar lagi:
Debt kolektor datang lagi
Genteng kamar bocor lagi
Bahar si bungsu sakit lagi

Kredit motor dua bulan belum bayar
Kontrak rumah sebentar lagi habis
Uang kuliah si sulung kembali nunggak
Tetangga sudah nagih hutang

Agus terdiam
Duduk di kursi, di sudut
Di jalan ia pahlawan
Di rumah, ia selalu keok

Dua puluh tahun sudah
Ia pimpinan serikat buruh
Di hari buruh, ia menjadi raja
Namun mengapa?
Nasib tak kunjung berubah?

Agus, di sudut itu
Wajahnya kelu
Lihatlah batinnya luka
Lihatlah, ia tak berdaya.*

1 Mei 2018


[1] Indonesia tak hanya impor beras, tapi juga gula, garam dan sebagainya. Lihat: https://m.liputan6.com/amp/3237310/pengamat-jokowi-impor-beras-dan-garam-demi-jaga-inflasi
[2] Tenaga kerja asing di era masih banyaknya pengangguran kini menjadi isu yang sensitif: https://nasional.sindonews.com/newsread/1301935/12/bertambah-dukungan-pembentukan-pansus-tenaga-kerja-asing-1525078098
[3] Gini Cooefisien sebagai ukuran ketimpangan ekonomi Indonesia selama dua puluh tahun terakhir semakin buruk: https://amp.katadata.co.id/telaah/2015/12/10/laju-ketimpangan-orang-kaya-miskin-indonesia-tercepat-di-asia
[4] Puisi Bukan Kami Punya sempat menjadi isu yang panas karena terasa pas menggemakan situasi: https://m.cnnindonesia.com/nasional/20170524123808-20-216944/panglima-tni-ungkap-motif-baca-puisi-tapi-bukan-kami-punya
Langganan berita lewat Telegram
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama