Melancong ke Kota Daeng, Jangan Lupa Coto Makassar

MAKASSAR, SERUJI.CO.ID – Tidaklah lengkap pelancongan Anda di Kota Daeng, julukan Kota Makassar, jika tidak mencicipi coto Makassar. Bagaimana rasanya, aromanya dan racikan bumbunya, semuanya memang sangat unik. Begitulah kuliner khas warga Sulawesi Selatan, coto Makassar yang sudah dikenal meluas di tanah air.

Bagi warga Sulawesi Selatan, tentu tidak asing lagi dengan karakter coto. Masyarakat kota ini juga sudah hapal di mana tempat-tempat makan coto yang enak dan murah.

Tetapi bagi Anda yang belum hapal liku-liku jalan dan tempat-tempat strategis makan coto di Kota Makassar, sudah pasti harus rajin bertanya kepada warga kota ini.

Inilah 9 Lokasi Coto Terenak di Kota Makassar

 

Resto Coto Daeng Sirua di Jalan Abdullah Daeng Sirua, Makassar merupakan salah satu tempat makan coto yang direkomendasikan para penggemar coto.

Berbeda dengan Bondan Winarno, wartawan senior yang pernah lama memandu acara makanan enak di televisi nasional. Ia sudah hapal tempat-tempat makan coto yang “ngangenin” di Kota Daeng.

Buktinya saat ditelpon SERUJI dari Kota Makassar, Ahad malam (17/2), mantan Pimred Harian Sore Suara Pembaruan itu langsung menyebut sedikitnya ada 9 tempat makan coto yang sedap di Makassar.

Kesembilan tempat makan coto yang sedap itu, kata Bondan, semuanya pantas direkomendasikan kepada berbagai pihak, tentu termasuk Anda yang masih asing dengan coto Makassar dan berminat mencicipinya jika melancong ke kota Anging Mammiri, julakan lain Makassar.

“Tempat makan coto Makassar yang selalu ngangenin itu harus mulai dari rumah coto Nusantara,” kata Bondan.

Terletak di jalan Nusantara, dekat pelabuhan Soekarno-Hatta, warung coto Nusantara, kata Bondan, buka tiap hari kerja sejak jam 8 pagi sampai jam makan siang. Warung coto Nusantara relatif kecil, tapi yang mau makan coto disitu harus antri.

“Nggak jarang orang yang ngantri itu harus menunggui orang yang sedang makan. Maksudnya, agar kursi orang yang sedang makan bakal cepat didudukinya kalau orang yang sedang makan, beres. Itu artinya, coto di warung Nusantara memang maknyuss. Uenaak tenan…,” ujar Bondan.

Setelah itu ada resto coto Daeng Sirua, di Jalan Abdulah Daeng Sirua No 10 Makassar. Coto di situ, kata Bondan, terkenal dengan sebutan coto bening, dan top banget.

Lalu ada resto coto Paraikatte di jalan Andi Pangerang Petta Rani. Ada lagi resto coto di jalan Ranggong dan resto coto Arima Gagak di jalan Gagak.

Resto coto Dewi di Jalan Sunu dan resto coto Alaudin di Jalan Alaudin juga sudah dikenal banyak artis ibukota. Begitu pula dengan resto coto Daeng Bagadang di Jalan Alaudin 56, sering juga menjadi terminal pejabat makan siang bersama tamu tamunya.

Sebenarnya, menurut penuturan beberapa karyawan kantor Gubernur Sulsel, ada ribuan resto coto yang bertebaran di Kota Makassar. Tetapi beberapa resto yang disebutkan Bondan Winarno itu tergolong resto coto yang laris dan memang enak sehingga kerap direkomendasikan untuk dikunjungi wisatawan.

Coto Makassar, berbahan baku jeroan sapi dan daging sapi pilihan. Umumnya daging dimasak lebih dari 5 jam, dalam kaldu yang sudah dilaruti rempah rempah, sehingga empuk dan aromanya sangat khas.

Begini Cara Menikmati Enaknya Coto Makassar

Lokasi Coto enak di Makasaar
Coto Makassar.

Jika Anda masuk warung coto dan memesan untuk dimakan segera, sang juru masak akan bertanya apakah Anda ingin merasakan cotong dagingnya saja, atau campur. Bila Anda menjawab daging, maka dalam sekejab akan diantarkan semangkok coto irisan daging. Selanjutnya sang koki akan mengantarkan semangkok irisan daging dan jeroan jika Anda memesan coto campur.

Setelah coto terhidang di meja Anda, langkah selanjutnya yang jarus dilakukan adalah meracik bumbu tambahan. Beri bawang goreng, daun sup atau daun bawang, kecap secukupnya, garam, sambal dan perasan air jeruk.

Setelah itu coto siap disantap.

“Hmmm, coto daging atau campuran daging dan jeroan, nikmatnya luar biasa. Makan pakai ketupat, buras atau nasi, pasti pengen nambah…,” komentar Lerman Simatupang, Jaksa dari Medan, Sumut yang baru pindah ke Kejati Makassar.

“Di Medan ada juga warung coto. Orang Makassar yang jual. Tapi makan coto di tempat asalnya, di Makassar ini, ternyata lebih enak. Aroma cotonya dominan. Sampai sampai ketagihan aku. Hampir tiap jam makan siang aku ada di resto coto ini…,” ujar Lerman sambil menghabiskan sendokan terakhir cotonya saat ditemui di resto coto Abdullah Daeng Sirua, Makassar, Ahad (17/2) sore.

Anda tertarik juga mencicipi coto Makassar?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

TERPOPULER

TERBARU

Suka Gunakan Panggilan Mesra ke Teman Kerja? Waspada, Bisa Jadi Awal Perselingkuhan

Awalnya hanya memanggil 'cin', 'beb', 'say,.... lama-lama terjadi perselingkuhan kering seperti curhat. Akhirnya......

Mao Tse-Tung Dikubur oleh Generasi Ali Baba (Berakhirnya Komunisme di Cina?)

Data di tahun 2019 memberikan petunjuk. Komunisme Cina sebagaimana yang dulu kita kenal segera berakhir. Berangsur Cina beralih menjadi negara kapitalisme dengan karakteristik yang berbeda. Ialah kapitalisme negara. Atau Kapitalisme minus demokrasi.

Pedagang Buku Itu Menjadi Manusia Terkaya dalam Sejarah Modern

Data di tahun 2018 menunjuk itu. Dari 807 milyar dollar penjualan buku di AS, sebanyak 42 persen membeli dari Amazon. Ribuan toko buku lain, online dan offline kebagian hanya 58 persen. Bahkan untuk pembelian e-book, dari 560 milyar dollar, 89 persen berasal dari Amazon.

Resmi Bercerai, Janda Pendiri Amazon Jadi Triliuner dengan Gono-Gini Senilai Rp540 Triliun

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - MacKenzie Besoz masuk dalam jajaran orang super kaya di dunia dengan kekayaan triliunan rupiah, setelah perceraiannya dengan pendiri Amazon, Jeff Besoz...

Whatsapp Hentikan Dukungan Pada Beberapa OS, Simak Apakah Termasuk Milik Anda

WhatsApp mengumumkan akan menghentikan dukungan mereka untuk beberapa sistem operasi lama mulai Februari 2020, sehingga sejumlah fitur secara bertahap tidak bisa diakses lagi.

Samuel Wattimena: Kain Tenun Khas Bima Disukai Turis Mancanegara

Desainer yang pernah bersama wartawan SERUJI dipercaya jadi juri Festival Film Usmar Ismail di Jakarta ini menuturkan bahwa Menteri Pariwisata Arief Yahya meminta ia terus mempromosikan tenun Bima.