Foto. detik.com

Bermula dari desakan hati, akhirnya Lula Kamal bisa berhijab hingga kini. Meski ia mendapat cobaan dari orang-orang yang tidak menyukai penampilan syar’inya, Lula bersyukur, suami dan anak-anaknya justru memberi dukungan. Kini, setelah cobaan itu terlewati, Lula akan istiqomah untuk tidak membuka hijabnya lagi.

Foto. kapanlagi.com

Pasca berhijab, Lula memang nampak makin percaya diri. Terlihat mulai dari gaya busana hijabnya yang fashionable. Bahkan, dari menjalankan perintah Islam tersebut, perubahan di kehidupannya kian membaik. Muslimah kelahiran Jakarta 10 April 1970, ini mengisahkan, 2012 silam, sebelum Ramadan, dirinya mendapatkan semacam hidayah. Saat itu Lula ingin sekali pas Ramadan bisa mengenakan hijab. “Waktu itu sebenarnya bukan hidayah sih. Tapi bismillahirrahmanirahim, pas Ramadan nanti aku mau pakai hijab,” tutur dia.

Lula juga berkeinginan, dengan memakai hijab, lantas dirinya bisa terus istiqomah menjalankannya. Malahan, awal dia berhijab, Lula terus bersyukur dan berharap Allah benar-benar memberikan jalan terang untuknya. Sempat juga waktu itu, ada kegiatan yang menututnya untuk membuka hijabnya. Tapi, itu tidak jadi karena dia sendiri sudah berkomitmen tidak akan membuka hijabnya.

Loading...

“Syukur-syukur nanti dikasih hidayah dan bisa berhijab terus. Waktu itu sempet ada kegiatan yang harus buka. Dan, itu aku sedih banget. Tapi, ternyata di situ aku ngerasa bahwa aku sudah siap nih pakai hijab. Dari hari ke-15 puasa aku tetap berhijab dan alhamdulillah, sampai saat ini aku bisa terus berhijab,” ujarnya.

Tentu sebagai artis yang sebelumnya tidak berhijab, kemudian memutuskan berhijab, pasti ada alasan tersendiri. Tapi, yang pasti, bagi Lula Kamal, niatannya berhijab itu semata-mata karena desakan dalam hati. Terlebih setelah ia menyadari bahwa kewajiban seorang muslimah yakni harus menutup auratnya dengan berhijab.

“Alasannya ‘kan memang pertama seorang perempuan itu wajib berhijab. Dari pertimbangan itulah, bismillah deh akhirnya coba untuk mengerjakannya.,” ungkap perempuan berdarah Arab, Sunda dan Betawi itu.

Tepat setelah memutuskan berhijab, Lula berniat untuk membeli perlengkapan muslimah. Ia juga menanggalkan pakaian-pakaian yang sedikit terbuka. Misalnya, seperti pakaian berlengan pendek, lebih baik dibagikan kepada orang lain. Sejak itulah perempuan yang lulus menyabet gelar master di King’s College London, itu tak mau setengah-setengah menjalankan perintah agama. “Jadi, aku mulai koleksi busana-busana muslim yang syar’i,” imbuhnya.

Bagi Lula ketika memutuskan berhijab, maka akan ada banyak cobaan yang menerpa. Ia membenarkan jika ada sekelompok orang yang suka dan ada yang tidak suka dengan penampilan syar’inya. Di awal berhijab, cobaan tersebut diterima Lula dengan hati yang lapang. Ia tidak mau menggubris orang lain yang tidak suka dengan penampilannya. Yang penting bagi dirinya, tidak sekali-kali untuk membuka hijabnya.

“Saya yang penting berhijab saja. Saya sudah mutusin apapun yang terjadi insya Allah enggak akan kebuka lagi. Cobaan itu dilewati saja. Setelah cobaan itu lewat, Allah berikan semua yang kita mau,” terang dia.

Lalu, kesulitan apa yang dirasakan Lula sejak berhijab? Rupanya awal berhijab Lula merasa kesulitan ketika memakai hijabnya. Sebab, dulu pertama berhijab masih menggunakan stylish. Ia bercerita, ketika ada kunjungan kerja ke daerah-daerah, tidak banyak stylish yang bisa membantunya. Karena itulah, akhirnya Lula mau tak mau harus berlajar sedikit demi sedikit untuk mengatasi kesulitan dalam menggunakan hijab.

“Sekarang alhamdulillah, di manapun bisa berhijab. Mau pakai di mobil atau pas di jalan kemana langsung bisa menggunakan hijab. Karena dulu, pas di daerah, enggak ada stylish, orang enggak bisa bantuin. Trus akhirnya bawa tas yang isinya jarum pentul semua. Dan, yang paling penting lagi karena memang kemana-mana sendiri, akhirnya mau enggak mau harus belajar sedikit demi sedikit,” kenang Lula.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama