Siapa yang tidak menyukai wisata kuliner? Aktivitas satu ini menjadi agenda setiap kali ke luar kota atau daerah. Namun program diet kerap kali menggangu aktivitas favorit ini. Benarkah orang yang sedang melakukan program diet menjadi terlarang untuk wisata kuliner?

Pakar Gizi Eko Dwi Martini mengatakan bahwa wisata kuliner tidak perlu dihindari seseorang orang yang melakukan program diet. Hanya saja, pelaku diet harus lebih selektif dalam memilih menu kulinernya. Caranya yaitu dengan memilih menu rendah kalori. Agar mudah dipahami, berikut ini gambaran menu yang dapat dipilih jika Anda sedang melakukan wisata kuliner.

Pagi untuk sarapan, dapat memilih makanan dengan menu uatama sajian nasi. Hanya saja porsinya diperkecil dan ditambahkan porsi untuk sayur. Jika ingin lebih simpel, roti gandum dengan selai rendah lemak juga dapat menjadi menu pilihan sehat. Lengkapi dengan jus buah segar tanpa gula.

Loading...

Pada pukul 10.00 siang dapat memilih jajanan yang ringan namun dapat memberikan efek kenyang. Rujak buah, salad, nagasari atau yang lainnya. “Yang penting hindari makanan yang terlalu asin,” ungkap Eko. Karena dalam garam terdapat kandungan natrium yang dapat menahan dan mengendapkan cairan yang seharunya dibuang melalui urin. Jika cairan tersebut terlalu banyak yang diendapkan, padahal dia mengandung racun, maka dapat mengganggu kesehatan tubuh secara umum.

Untuk makan siang, pilih nasi atau sejenisnnya yang disukai. Gabung dengan sayur yang berkuah. Untuk makan siang ini tidak harus dengan nasi, tetapi bisa bakso dengan tambahan sayur yang lebih banyak. Mi ayam dengan tamabahan sayur, atau menu lain yang disukai. Gado-gado dengan tambahan sayur dan mengurangi porsi lontong, menjadi menu makan siang yang lebih bijaksana.

Untuk sore hari bisa memilih snack berupa roti bakar, pisang bakar/rebus, dengan teh tanpa gula atau jus tanpa gula. Selain itu, kebiasaan untuk mengisi perut per 3-4 jam merupakan langkah yang tepat. Karena sering makan dan camilan ini akan membantu membuat lambung terasa kenyang. Sehingga kita tidak harus mengonsumsi makanan dengan kalori lebih banyak.

Untuk makan malam, maksimal dilakukan tiga jam sebelum tidur. Dengan catatan menghindari makanan yang berlemak. Hal ini karena makanan yang kita dikonsumsi akan dicerna selama tiga jam ke depan. Sedangkan makanan berlemak membutuhkan waktu cerna lebih banyak yaitu hingga delapan jam. Sehingga dampak yang dirasakan secara langsung ketika malam hari mengonsumsi makanan yang berlemak adalah setelah bangun tidur tubuh terasa lesu, tidak segar. Hal ini dikarenakan, saat kita tidur, tubuh tidak benar-benar istirahat. Karena dia tetap bekerja mencerna makanan tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA

Kota Banjar Pecahkan Rekor Jahit Bendera Merah Putih Sepanjang 3,3 Kilometer

KOTA BANJAR, SERUJI.CO.ID - Pemerintah Kota Banjar bersama TNI, Polri, dan masyarakat Kota Banjar melaksanakan pemecahan rekor nasional menjahit bendera merah putih terpanjang se...

Sidang Tahunan MPR RI, Ketua MPR Sebut Cak Imin Tetap Cawapres

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Deklarasi pasangan calon Presiden (capres)-calon Wakil Presiden (cawapres) telah dilakukan. Banyak pihak yang tadinya disebut-sebut akan jadi cawapres Jokowi maupun Prabowo...

DPR Dukung Penuh Pemerintah Tetapkan Gempa Lombok Jadi Bencana Nasional

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menegaskan bahwa lembaganya mendukung penuh pemerintah apabila menetapkan peristiwa gempa bumi di Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai...
rupiah

Kembali Tertekan, Rupiah Sudah Menyentuh Rp14.618 per Dolar

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Nilai tukar rupiah kembali tertekan oleh kedigdayaan USD. Hal ini terlihat dari makin terpuruknya nilai tukar rupiah yang ditransaksikan di antarbank...

Terungkap, Perusahaan Vaksin China Produksi Ratusan Ribu Vaksin Bayi Tak Layak

SHANGHAI, SERUJI.CO.ID - Sebuah perusahaan yang memproduksi vaksin untuk bayi di China terungkap telah memproduksi hampir 500 ribu vaksin bayi dengan standar tidak layak. Kantor...
loading...