Gamelan Sekaten, Peninggalan Sejarah Penyebaran Islam di Jawa

0
379
  • 2
    Shares
Gamelan Sekaten
Para penabuh gamelan menabuh Gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari. (Foto: Vita Kurnia/SERUJI)

SOLO, SERUJI.CO.ID – Dua perangkat gamelan diboyong menuju Masjid Agung Surakarta, Jumat (24/11). Gamelan tersebut akan dibunyikan oleh Keraton Kasunanan Surakarta, sebagai penanda dimulainya peringatan Maulid Nabi tahun ini yang oleh masyarakat sering disebut tradisi sekaten.

Dua perangkat gamelan itu dikenal dengan nama Kiai Guntur Sari dan Kiai Guntur Madu. Keduanya merupakan peninggalan sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa.

Budayawan KPA Winarnokusumo memaparkan, penyebaran agama Islam melalui gamelan dimulai sejak masa Kerajaan Demak. Saat itu, Sunan Kalijaga mendapatkan petunjuk untuk berdakwah dengan pendekatan budaya.

“Gamelan saat itu ditempatkan di depan masjid. Tak sedikit masyarakat yang ingin melihat dan pada saat itu banyak masyarakat mengucapkan syahadatain. Gamelan menjadi media penyebaran agama,” paparnya.

Gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari terus dimainkan hingga kini. Gamelan memainkan gending khusus, yakni Rambu dan Rangkung.

“Ditabuh sejak 5 Rabiul Awal selama tujuh hari,” urai dia.

Pengunjung Gamelan Sekaten
Pengunjung mengunyah kinang saat gamelan dibunyikan pertama kali. (Foto: Vita Kurnia/SERUJI)

Begitu gamelan dibunyikan, masyarakat beramai-ramai mengunyah kinang. Mereka yang datang dari berbagai daerah juga antusias memperebutkan daun janur yang terpasang di sekitar lokasi gamelan.

Sebagian masyarakat setempat percaya, mengunyah kinang pada saat gamelan Sekaten dibunyikan akan membuat awal muda. (Vita Kurnia/SU02)

Langganan berita lewat Telegram
loading...
Loading...
BACA JUGA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

TERBARU