Denyut Teater Greget Jantuk Betawi

20

Jakarta, Seruji.com—Pertengahan Desember lalu Taman Ismail Marzuki menampilkan GregetJantuk. Diselingi oleh tarian penuh tenaga berunsur gerakan pencak silat dan tarian Betawi yang kental, drama penuh canda-tawa mengalir lancar.

Pertunjukan Topeng Betawi ini merupakan perpaduan seni musik, seni tari, dan seni rupa sekaligus. Sejatinya, kesenian tradisional-kontemporer ini termasuk ke dalam ragam seni teater.

Identitas asli Metropolitan Jakarta adalah budaya Betawi yang unik. Sederet perwujudan budaya Betawi yang kaya itu, antara lain pencak silat palang pintu, boneka ondel-ondel,  tanjidor, Tari Belenggo, dan Tari Lenggang Nyai. Kesenian-kesenian itu biasanya ditampilkan menjelang temu pengantin, acara sunatan, acara budaya resmi pemerintah, dan acara budaya masyarakat umum.

Mengobati kerinduan para penonton, pertunjukan GregetJantuk yang memadukan berbagai unsur kesenian Betawi dalam sebuah pertunjukan teater itu memunculkan kembali seni topeng Betawi Jantuk yang sudah mulai jarang dipertunjukkan. Kemunculan Topeng Jantuk dalam sebuah karya seni kontemporer melahirkan kembali teater tradisional yang kaya akan makna.

Penampilannya di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki yang gedongan dengan pencahayaan dan tata suara yang bermutu tinggi seakan menaikkan kelas sebuah pertunjukan rakyat.  Taman Ismail Marzuki memang dibangun demi visi kebudayaan mendiang Gubernur Ali Sadikin untuk mewujudkan Jakarta sebagai ibukota kebudayaan Indonesia.

Namun,seperti yang telah diungkapkan oleh Irawan Karseno, terjadi ironi karena anggaran Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai penyelenggara pertunjukan ini ternyata sangatlah kecil, dan itu pun masih harus berbagi dengan kegiatan lain, seperti lomba menulis novel dan puisi.

Anggaran DKJ ialah sekitar Rp 5 miliar per tahun. Jauh di bawah anggaran olah raga di DKI yang sekitar Rp800 miliar. Hal ini juga kontras jika dibandingkan dengan hura-hura perayaan Tahun Baru yang berbiaya sangat mahal.

Sedangkan,seperti yang diketahui, Pendapatan Daerah Pemprov DKI Jakarta Tahun 2015 sangatlah besar, yaitu senilai Rp 44,21 triliun (78,51 persen dari anggaran Rp 56,3 triliun).

Yayasan Seni Ratna yang menampilkan kesenian Topeng Betawi Greget Jantuk ini telah lama bergiat dalam kesenian Betawi. Sederet prestasi internasional pernah diraih olehlembaga yang didirikan pada 1975.Sejumlah acara yang telah diikuti,antara lain World Drum Festival di Sydney, Australia (1988), Festival Mundial De Danzas Folkrolicasdi Palmade Mallorca, Spanyol (2001), Anugerah Budaya Gubernur DKI Jakarta (2006), dan Misi Kebudayaan Betawi ke Museum Peranakan di Singapura (2011). Yayasan yang sekarang dipimpin oleh Entong Sukirman Kisam inisudahberanggotakan 20 orang seniman.(NA)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama