Ustadz Alfian Tanjung Divonis Dua Tahun Penjara

SURABAYA, SERUJI.CO.ID –  Majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya memvonis dua tahun penjara kepada ustadz Alfian Tanjung, Rabu (13/12). Hakim menilai ustadz Alfian terbukti bersalah melakukan ujaran kebencian saat memberikan ceramah di Masjid Al Mujahidin Tanjung Perak pada Februari 2017 lalu.

“Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan deskriminasi ras dan etnis,” kata Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya, Dedi Fardiman.

Alfian dinyatakan terbukti melanggar Pasal 16 juncto Pasal 4 huruf b butir 2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Ras dan Etnis. Hakim juga memerintahkan terdakwa untuk ditahan. Vonis yang dijatuhkan majelis hakim itu lebih ringan satu tahun dibanding tuntutan jaksa.

Menanggapi vonis itu, ustadz Alfian dan tim kuasa hukumnya memutuskan banding.
“Saya menyatakan banding,” kata ustadz Alfian sesaat setelah hakim membacakan amar putusan sembari disambut takbir pendukungnya.
Adapun jaksa dari Kejaksaan Negeri Tanjung Perak menyatakan pikir-pikir.
Kuasa hukum ustadz Alfian Tanjung, Abdullah Alkatiri, menyampaikan alasan banding karena putusan tak sesuai dengan fakta persidangan, dan dia menyebut dasar putusan majelis hakim berdasarkan transkrip yang bukan alat bukti yang sah.
“Flashdisk oleh majelis hakim diakui sebagai alat bukti. Padahal sudah jelas flashdisk tak melalui uji forensik sehingga tak sah sebagai alat bukti,” jelasnya.
Tidak hanya itu, kata Alkatiri, dalam kasus ini tak ada korban sehingga putusan tersebut masuk delik materiil.
“Tak ada yang dirugikan kok diputus bersalah,” tandasnya.
Kasus ini bermula dari sebuah video yang diunggah di YouTube pada 26 Februari 2017. Saat itu, Ustadz Alfian Tanjung menyampaikan kuliah subuh di Masjid Al Mujahidin Perak Surabaya. Ia dilaporkan oleh seorang warga Surabaya, Jawa Timur, bernama Sujatmiko lantaran diduga memberikan ceramah dengan materi tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Partai Komunis Cina (PKC).
Sidang pada hari ini diwarnai aksi unjuk rasa di depan PN Surabaya oleh ratusan pendukung ustadz Alfian dari sejumlah ormas Islam dari pelbagai daerah. Berkostum putih-putih, perwakilan dari mereka berorasi menyatakan bahwa ustadz Alfian merupakan figur perlawanan melawan komunis di Indonesia.
Mereka, yang sebagian besar dari Front Pembela Islam (FPI), kemudian membubarkan diri setelah tim kuasa hukum ustadz Alfian menjelaskan hasil sidang putusan kepada peserta unjuk rasa. Diiringi takbir dan yel-yel perjuangan, secara berkelompok mereka meninggal PN Surabaya. (Setya/SU02)

4 KOMENTAR

  1. Ustadz AT adalah anti komunis.
    Pancasila juga anti komunis.
    Jika ada pihak yg memusuhi beliau dan memvonis bersalah, maka bisa disimpulkan bhw mereka adalah … (terusno dewe ae cak!)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BUMN, Pseudo CEO, dan Efek Negatifnya

vonis hakim menunjukkan bahwa sejatinya Karen bukan direktur sesungguhnya. Bukan direktur utama yang sesungguhnya. Bukan CEO. Karen hanyalah seorang direktur semu. Seorang direktur-direkturan.

Sambut Konferwil AMSI Jatim, Begini Pesan Kapolda Jawa Timur

"Saya terima kasih teman-teman dari AMSI, mudah-mudahan bisa mengawal suplai berita kepada masyarakat dalam koridor jurnalistik yang tetap menjaga objektifitas. Saya senang sekali bisa audiensi dan bersilaturahmi," kata Irjen Fadil di Mapolda Jatim

Hak Asuh Anak Dalam Perceraian

Retaknya perkawinan yang berujung perceraian sering kali mengakibatkan konflik perebutan hak asuh anak. Dalam artikel kali ini, Ruang Hukum akan menjelaskan tentang hak asuh anak sesuai perundangn yang berlaku dan prosesnya di Pengadilan jika terjadi perselisihan perebutan hak asuh anak. Selamat membaca.....

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

TERPOPULER