Peduli Rohingya, AS Pertimbangkan Jatuhkan Sanksi ke Myanmar

WASHINGTON, SERUJI.CO.ID – Amerika Serikat akan mengambil langkah dan mempertimbangkan serangkaian tindakan lebih lanjut mengenai perlakuan Myanmar terhadap minoritas Muslim Rohingya, termasuk sanksi yang ditargetkan berdasarkan undang-undang Global Magnitsky, demikian Departemen Luar Negeri AS pada Senin (23/10).

“Kami mengungkapkan keprihatinan kami yang paling dalam dengan kejadian baru-baru ini di negara bagian Rakhine Myanmar dan tindak kekerasan di sana, siksaan traumatis terhadap Rohingya dan komunitas lainnya yang bertahan,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Pihaknya menambahkan, sangat penting bahwa setiap individu atau entitas bertanggung jawab atas tindak kekejaman, termasuk pelaku dan warga negara non-negara bagian juga turut bertanggung jawab.

Muslim Rohingya telah meninggalkan Myanmar secara besar-besaran sejak akhir Agustus. Tindakan militer Myanmar yang ganas, menyebabkan orang-orang melarikan diri dan menuduh pasukan keamanan melakukan pembakaran, pembunuhan dan pemerkosaan.

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan pada Rabu pekan lalu bahwa AS berpendapat bahwa kepemimpinan militer Myanmar yang bertanggung jawab atas tindakan kerasnya terhadap minoritas Muslim Rohingya.

Tillerson secara mendadak menyebutkan bahwa AS akan mengambil langkah terhadap para pemimpin militer Myanmar, karena sebuah serangan yang telah mendorong lebih dari 600.000 Muslim Rohingya keluar dari negara tersebut, sebagian besar ke negara tetangga Bangladesh.

Departemen Luar Negeri AS membuat pengumuman itu menjelang kunjungan Presiden Donald Trump ke daerah tersebut awal bulan depan, ketika dia akan menghadiri pertemuan puncak negara-negara ASEAN, termasuk Myanmar, di Manila.

Hal tersebut menandai tanggapan terkuat AS sejauh ini dalam krisis Rohingya selama sebulan, namun gagal menerapkan senjata ampuh Washington berupa sanksi ekonomi yang lebih luas, yang ditangguhkan di bawah pemerintahan Obama.

Kritikus menuduh pemerintahan Trump bertindak terlalu lambat dan ketakutan dalam menanggapi krisis Rohingya.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan pada Senin bahwa pihaknya sedang mendalami mekanisme tanggung jawab yang tersedia berdasarkan undang-undang AS, termasuk sanksi yang ditargetkan Global Magnitsky.

Langkah-langkah yang diambil termasuk mengakhiri keringanan pemberian izin perjalanan untuk anggota militer saat ini dan mantan anggota militer di Myanmar, serta unit pembatas dan petugas di negara bagian Rakhine utara dari bantuan AS.

“Kami telah membatalkan undangan untuk pasukan keamanan senior Myanmar untuk menghadiri acara yang disponsori AS, kami bekerja sama dengan mitra internasional untuk mendesak agar Myanmar mengizinkan akses tanpa hambatan ke wilayah yang relevan untuk Misi Pencarian Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa, organisasi kemanusiaan internasional, dan media,” demikian pernyataan itu. (Ant/SU02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Sambut Konferwil AMSI Jatim, Begini Pesan Kapolda Jawa Timur

"Saya terima kasih teman-teman dari AMSI, mudah-mudahan bisa mengawal suplai berita kepada masyarakat dalam koridor jurnalistik yang tetap menjaga objektifitas. Saya senang sekali bisa audiensi dan bersilaturahmi," kata Irjen Fadil di Mapolda Jatim

Hak Asuh Anak Dalam Perceraian

Retaknya perkawinan yang berujung perceraian sering kali mengakibatkan konflik perebutan hak asuh anak. Dalam artikel kali ini, Ruang Hukum akan menjelaskan tentang hak asuh anak sesuai perundangn yang berlaku dan prosesnya di Pengadilan jika terjadi perselisihan perebutan hak asuh anak. Selamat membaca.....

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

TERPOPULER

Cerita Hamzah Izzulhaq, Pengusaha di Bidang Pendidikan Yang Sukses di Usia Muda

Meski terbilang sukses di usia muda, nyatanya perjuangan Hamzah Izzulhaq tidaklah mudah.

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Lima Macam Riba Yang Diharamkam