Myanmar dan Bangladesh Sepakati Pemulangan Pengungsi Rohingya

0
72
Pengungsi Rohingya
Muslim Rohingya yang mengungsi menuju perbatasan Bangladesh, 1/9/2017. (foto:AFP)

NAYPYITIAW, SERUJI.CO.ID – Myanmar dan Bangladesh, Selasa (24/10), sepakat untuk bekerja sama memulangkan para pengungsi Muslim Rohingya kembali ke Myanmar.

Kedua negara juga setuju mengambil langkah untuk meningkatkan pengamanan perbatasan di tengah hubungan yang memburuk antara kedua negara tetangga terkait gelombang pengungsi dari Myanmar yang terus mengalir ke Bangladesh.

Jumlah warga Muslim Rohingnya yang telah mengungsikan diri dari Myanmar sejak 15 Agustus telah mencapai lebih dari 600.000 orang.

Dalam pertemuan di ibu kota negara Myanmar, Naypyitiaw, yang dihadiri oleh menteri dalam negeri Myanmar Letnan Jenderal Kyaw Swe dan mitranya dari Bangladesh, Asaduzzaman Khan, kedua negara menandatangani perjanjian menyangkut kerja sama keamanan dan perbatasan.

“Kedua pihak juga sepakat untuk menghentikan aliran warga Myanmar ke Bangladesh, serta membentuk kelompok kerja bersama,” kata Tin Myint, sekretaris permanen pada kementerian dalam negeri Myanmar setelah pertemuan tersebut.

“Setelah kelompok kerja bersama, verifikasi, kedua negara telah sepakat untuk mengatur berbagai langkah agar orang-orang ini bisa kembali ke tanah air mereka dengan selamat dan terhormat serta dalam keadaan aman,” kata Mostafa Kamal uddin, sekretaris pada kementerian dalam negeri Bangladesh.

Para pejabat itu tidak memberikan keterangan rinci soal langkah-langkah yang akan diambil oleh pihak berwenang terkait pemulangan kembali. Mereka menambahkan bahwa sebagian besar diskusi yang berlangsung pada pertemuan itu diarahkan pada masalah perjanjian kerja sama perbatasan dan keamanan, yang telah lama dalam proses pembuatan.

Tin Mying mengatakan kedua negara sepakat untuk mengembalikan keadaan normal di Rakhine guna memungkinkan para warga Myanmar yang kehilangan tempat tinggal kembali dari Bangladesh secepat mungkin.

Ribuan pengungsi terus mengalir menyeberangi sungai Naf yang memisahkan negara bagian Rakhine di Myanmar barat dan Bangladesh dalam beberapa hari terakhir ini, kendati Myanmar mengatakan operasi militer telah berakhir pada 5 September.

Amerika Serikat mengatakan, Senin, pihaknya sedang mempertimbangkan sejumlah tindakan sebagai tanggapan terhadap perlakuan Myanmar atas kalangan warga minoritas Muslim Rohingya.

Sementara para pejabat pada Selasa mengatakan bahwa pertemuan berlangsung secara bersahabat, ketegangan antara kedua negara masih tinggi. Bangladesh bulan lalu menuduh Myanmar berkali-kali melanggar wilayah udaranya dan memperingatkan negara tetangganya itu bahwa “tindakan provokatif” akan “ada konsekuensi yang tidak seharusnya”.

Ratusan orang di Rakhine pada Ahad berunjuk rasa untuk mendesak pemerintah Myanmar agar tidak mengembalikan warga Rohingya. (Reuters/Ant/SU02)

Langganan berita lewat Telegram
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU