Masih Percaya Jokowi, Aktivis dan Keluarga Korban Penculikan 1998 Tolak Pilih Prabowo

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Sejumlah aktivis dan keluarga korban penculikan 1998 yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) menyatakan sikapnya menjelang pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan berlangsung 17 April mendatang.

Secara tegas, mereka menyatakan menolak capres nomor urut 02, Prabowo Subianto yang dinilai ikut terlibat dan bertanggungjawab pada peristiwa penculikan 1998.

“Semua keluarga korban menyatakan menolak capres penculik, capres pelanggar HAM, Prabowo. Itu ekspresi konkret dari mereka semua,” ujar Ketua Dewan Penasihat IKOHI, Mugiyanto saat konfrensi pers di Hotel Grand Cemara, Jakarta, Rabu (13/3).

Untuk itu, IKOHI mengimbau masyarakat untuk tidak memilih Prabowo dan memberikan suaranya ke capres nomor urut 01, Jokowi.

“Kami tak membayangkan, pelanggar HAM yang belum mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum itu dipilih sebagai presiden,” kata Mugi yang juga salah satu aktivis yang jadi korban penculikan tahun 1998 tersebut.

Sementara itu, Paian Siahaan, ayah dari Ucok Munandar Siahaan salah satu korban penculikan 1998, berharap masyarakat memilih Jokowi.

Paian menilai, dari dua calon yang ada di Pilpres 2019 ini, Jokowi lah yang masih punya harapan untuk bisa menyelesaikan kasus pelanggaran HAM 1998.

“Kami menilai Pak Jokowi yang tepat. Dia memiliki hati nurani dan kepedulian yang tinggi kepada masyarakat,” kata Paian.

Walau selama pemerintahan Jokowi belum ada perubahan signifikan dalam mengungkap kasus tersebut, menurut Siahaan, keluarga korban berharap Jokowi terpilih kembali, sehingga dapat meyelesaikan kasus penculikan 1998.

“Jangan pilih capres yang pernah terlibat dalam tindakan kekerasan,” ujarnya.

Budiarti, ibu dari korban penculikan bernama Gilang, mengungkapkan betapa penculikan yang dialami anaknya sangat tidak manusia.

“Anak saya yang diculik, suatu hari jenazahnya ditemukan di hutan dalam kondisi tidak utuh. Apa salah anak saya?” tuturnya.

Menurut Budiarti, sudah 21 tahun kasus penculikan tersebut berlangsung, namun hingga saat ini belum jelas status para korban yang hilang dan meninggal, juga tanggungjawab dari para penculiknya.

Editor:Hrn

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Belajar, Bukan Bersekolah

Akhir pandemi belum juga jelas, satu hal sekarang makin jelas: Gedung-gedung megah persekolahan itu makin tidak relevan jika dipaksakan untuk kembali menampung kegiatan bersekolah lagi. Sekolah harus direposisi. Juga guru.

Bertema “Inovasi Beyond Pandemi”, AMSI Gelar Indonesian Digital Conference 2020

Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut mengatakan IDC yang digelar AMSI bertujuan untuk melihat sejauh mana berbagai sektor melakukan inovasi di tengah pandemi Covid-19 dan seperti apa ke depan.

Cek Fakta: Debat Pilkada Tangsel, Seluruh Paslon Minim Paparkan Data

Debat pemilihan umum kepala daerah (pilkada) Tangerang Selatan (Tangsel) membeberkan program kerja yang dimiliki para peserta. Sayangnya, dalam debat tersebut masing-masing pasangan calon (paslon) lebih banyak bicara dalam tatanan konsep.

PasarLukisan.com Gelar Pameran Lukisan Virtual Karya Pelukis dari Berbagai Daerah

"Ini adalah solusi yang diharapkan akan memecahkan kebekuan kegiatan kesenian, khususnya pameran seni rupa, akibat pandemi yang belum kunjung berakhir," kata M. Anis,

Paman Donald dan Eyang Joe

Banyak yang usil menyamakan pilpres Amerika dengan Indonesia, termasuk kemungkinan Biden akan mengajak Trump bertemu di MRT dan menawarinya menjadi menteri pertahanan.

Berikut Berbagai Larangan Bagi Penasihat Investasi Yang Diatur dalam Keputusan BPPM

Penasihat Investasi dalam menjalankan kegiatannya harus bersikap hati–hati, dikarenakan terdapat larangan yang harus diperhatikan oleh Penasihat Investasi agar terhindar dari sanksi.

TERPOPULER