Pemerintah: Era Digital Ancam PHK Massal

0
105
  • 4
    Shares
bambang brodjonegoro
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro .

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – ‎Data Indonesia E-commerce Association. (IDEA) menunjukan pengguna e-commerce ‎saat ini sudah mencapai 24,74 juta orang, dengan tingkat penetrasin 9 persen dari total penduduk Indonesia. Adapun total nilai perdagangan e-commerce 2016 sebesar 5,6 milyar dollar. Rata-rata revenue per user tahun lalu mencapai 228 dollar.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Kepala Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, perkembangan e-commerce yang kian masif mesti diwaspadai. Sebab, e-commerce justru akan ‎mengganggu produksi dalam negeri.

Menurut Bambang, e-commerce tidak hanya meningkatkan import, tetapi juga efisiensi tenaga kerja.  Sehingga, dengan perkembangan e-commerce yang masif ini dikhawatirkan terjadi PHK massal. Sebab, mulai dari perbankan hingga sektor ritel tidak menutup kemungkinan semua produk dan layanananya akan menggunakan serba digital.

Apalagi, kata Bambang, secara absolut memang terjadi penambahan pengangguran sebesar 10.000 orang per November 2017. Hal ini dikarenakan penambahan jumlah pengangguran absolut lebih cepat dibanding angka kesempatan kerja.

Namun, lanjut dia, sebenarnya pertumbuhan ekonomi triwulan III 2017, sebesar 5,06 persen mampu menciptakan tambahan kesempatan kerja sebesar 2,61 juta. Adapun target tingkat pengangguran terbuka dalam RPJMN 2015-2019 sebesar 4,0 sampai 5,0 persen dan menciptakan kesempatan kerja sebesar 10 juta atau 2 juta lapangan kerja per tahun.

“Proporsi pekerja di sektor jasa adalah paling besar, industri tetap, dan pertanian cenderung menurun sejak krisis 1997/1998. Hal ini dikarenakan terjadi transformasi struktural tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor jasa‎ yang banyak menyerap lapangan kerja,” kata Bambang, di Jakarta, Senin (13/11). ‎

Sayangnya, salah satu penopang pertumbuhan ekonomi kuartal III, yaitu ekspor yang mampu tumbuh doble digit atau 17,27 persen, ‎rupanya diikuti dengan peningkatan impor yang juga ikut naik hingga double digit atau 15,09 persen. Padahal, impor barang dan jasa pada kuartal III tahun lalu hanya tumbuh 3,67 persen.

“Impor didominasi barang konsumsi 17,7 persen, bila dibandingkan kuartal III tahun lalu hanya 11,2 persen,” kata Bambang.

Menurut Bambang, pertumbuhan barang konsumsi yang tinggi dapat menjadi indikasi masih kuatnya konsumsi atau daya beli masyarakat. Data ini, sekaligus mengkonfirmasi pertumbuhan impor barang modal dan bahan baku masing-masing sebesar 24,1 persen dan 23,2 persen.

“Peningkatan impor barang modal dan bahan baku yang cukup tinggi sejalan dengan pertumbuhan investasi. Sedangkan pertumbuhan konsumsi urmah tangga yang seakan-akan mengalami de-coupling dengan peningkatan impor barang konsumsi yang cukup tinggi,” kata dia.

Menurut Bambang, kenaikan impor barang konsumsi juga berkaitan dengan maraknya kegiatan e-commerce di dalam negeri. Kendati begitu, dengan masifnya perkembangan e-commerce sesungguhnya mencerminkan demand yang tinggi. “Banyak barang yang kalian beli dari online itu sebenarnya diimpor,” katanya. (Achmad/Hrn)

Langganan berita lewat Telegram
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU