Ekspor Pakaian Jadi Dari Bali Turun

DENPASAR, SERUJI.CO.ID – Ekspor pakaian jadi bukan rajutan dari Bali ke mancanegara menurun 17,22 persen, karena Pulau Dewata hanya meraup devisa sebesar 5,128 juta dolar AS selama November 2017, padahal Oktober 2017 mencapai 6,195 juta dolar AS.

“Perolehan devisa tersebut dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya juga merosot 219.485 dolar AS atau 4,10 persen, karena bulan November 2016 menghasilkan 5,348 juta dolar AS,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Adi Nugroho di Denpasar, Senin.

Ia mengatakan, hasil usaha industri skala rumah tangga itu mampu memberikan kontribusi sebesar 11,17 persen dari total nilai ekspor Bali sebesar 45,901 juta dolar AS selama bulan November 2017, atau merosot 1,79 juta dolar AS atau 3,76 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat 47,69 juta dolar AS.

“Namun total ekspor Bali tersebut dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya itu mengalami peningkatan sebesar 1,69 juta dolar AS, atau 3,84 persen, karena November 2016 menghasilkan 44,20 juta dolar AS,” kata Adi Nugroho.

Busana untuk pria dan wanita dalam berbagai jenis rancang bangun (desain) hasil sentuhan tangan-tangan terampil wanita Bali itu paling banyak diserap pasaran Amerika Serikat yakni mencapai 35,97 persen.

Selanjutnya, pasaran Australia menyerap hingga 6,15 persen, Singapura 5,65 persen, Hong Kong 2,27 persen, Thailand 0,98 persen, Tiongkok 0,24 persen, Jepang 1,25 persen, dan Jerman 1,24 persen.

Sisanya sebanyak 46,24 persen diserap berbagai negara lainnya di belahan dunia, karena aneka jenis busana itu sangat disenangi masyarakat setempat dengan harga yang terjangkau.

“Aneka jenis busana tersebut diproduksi secara manual, bukan produksi pabrik itu dikombinasikan dengan manik-manik sehingga menjadi unik dan menarik bagi konsumen,” ujar Adi Nugroho. (Ant/SU05)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Gus Ipul Mentransformasi Kota Pasuruan Menuju Smart City

Pemerintah cerdas adalah pemerintah yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakat secara lebih cepat, lebih murah sekaligus lebih terukur. Dinamika perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan.

E-Sambat, Cara Gus Ipul Manfaatkan Teknologi Digital untuk Layani Warga Kota Pasuruan

Program Smart City atau Kota Cerdas membuat kerja pemerintah menjadi lebih efisien, termasuk dengan cepat dapat merespon berbagai keluhan masyarakat. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Pasuruan dengan aplikasi e-Sambat.

Smart City di Surabaya Bukan Sekadar Urusan Aplikasi

Ada enam faktor pendukung terciptanya smart city di Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini bukan sekadar urusan aplikasi, namun juga untuk memberdayakan UMKM.

Terinspirasi Jack Ma, Khofifah Dorong UMKM Masuk ke Dunia Digital

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak awal berupaya agar usaha mikro kecil menengah diberikan peluang melalui digitalisasi sistem. Ia terinspirasi Jack Ma, pemilik Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok.

Ketum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Hard News

Media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. Masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

Target Pemerintah: 6,1 Juta UMKM On Boarding Setiap Tahun

Usaha mikro kecil menengah di daerah membutuhkan teknologi digital untuk berkembang di era pandemi.

TERPOPULER