BI: Data Inflasi AS Normalkan Pasar

0
45
  • 2
    Shares
Bank Indonesia
Bank Indonesia

JAKARTA, SERUJI.CO.ID –┬áBank Indonesia menyatakan pengumuman inflasi Februari Amerika Serikat (AS) pada Selasa (13/3) malam yang menunjukkan penurunan dibanding Januari membuat pelaku pasar kembali memproyeksikan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS The Fed, hanya tiga kali atau tidak akan terlalu “agresif”.

“Tampaknya pasar agak sedikit mereda. Jadi kembali ke ekspektasi maksimal kenaikan tiga kali. Namun data ekonomi terbaru bisa muncul sewaktu-waktu,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Doddy Zulverdi di Jakarta, Rabu (14/3).

Angka inflasi AS pada Februari 2018 sebesar 0,2 persen atau lebih kecil setelah lonjakan yang dicatatkan pada Januari 2018 sebesar 0,5 persen. Secara tahunan, inflasi AS tercatat 2,2 persen atau lebih tinggi dari 2,1 persen di bulan sebelumnya.

Loading...

Pelaku pasar sebelumnya memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed sebanyak empat kali dari besaran saat ini sebesar 1,25-1,5 persen, menyusul pidato perdana Gubernur The Fed Jerome Powell yang menyiratkan nada “hawkish” atau cenderung berani menaikkan suku bunga pada tahun ini.

“Sebelumnya di awal Februari 2018 setelah Komite Pasar Terbuka (FOMC) di Januari dan pernyataan Powell masih ada ekspektasi lebih dari tiga kali. Saat ini, dari data inflasi dan tingkat upah sesuai ekspetasi, tampaknya sentimen pasar agak sedikit mereda,” ujar dia.

Bank Sentral, kata Doddy, terus mencermati perkembangan ekonomi AS. Ekspetasi pasar masih akan dinamis yang tentu mempengaruhi pergerakkan arus modal asing dan juga nilai tukar mata uang.

Namun, untuk saat ini, Doddy meyakini, gejolak eksternal dari AS terhadap rupiah akan selesai pada pengumuman kebijakan suku bunga The Fed pada 20-21 Maret 2018.

Setelah pengumuman kebijakan suku bunga The Fed, pergerakkan rupiah diperkirakan akan cenderung menguat. Doddy menjamin BI tetap akan mengintervensi pasar saat rupiah bergerak ke luar nilai fundamental.

“Sepanjang penguatan tidak terlalu drastis dan tetap sesuai fundamental, kita tidak ada alasan menahan, sejauh ini karena yang terjadi saat ini pelemahan kemarin berlebihan,” ujar dia.

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

TERBARU