Rumah Sakit Daerah Diharapkan Rawat Pasien Difteri

0
72
ruangan khusus
Ruang isolasi penderita penyakit difteri. (Foto: istimewa)

BANDA ACEH, SERUJI.CO.ID – Wakil Direktur Pelayanan Medis pada Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh Azharuddin mengharapkan rumah sakit di daerah-daerah merawat pasien difteri dan tidak langsung merujuk ke rumah sakit milik Pemerintah Aceh tersebut.

“Kami mengimbau rumah sakit di daerah tidak perlu merujuk semua pasien difteri ke RSUDZA. Kami yakin hampir semua rumah sakit di kabupaten/kota di Aceh mampu merawat pasien difteri,” kata Azharuddin di Banda Aceh, Rabu (20/12).

Azharuddin mengatakan, saat ini RSUDZA merawat 11 pasien difteri. Jumlah tersebut meningkat dari pekan sebelum. Padahal, jumlah pasien difteri awalnya diprediksi berkurang.

Dengan bertambah jumlah pasien, katanya, tentu menyulitkan pihak RSUDZA. Sebab, penanganan pasien difteri harus dengan ruangan khusus atau isolasi. Sementara, ruangan isolasi di RSUDZA jumlahnya terbatas.

“Difteri ini penyakit berbahaya dan mudah menular melalui pernapasan. Namun, penanganannya tidak sesulit yang dikira. Penanganan pasien hanya dengan isolasi, tidak dicampur dengan pasien lainnya. Serta memiliki dokter spesialis anak,” sebutnya.

Azharuddin menyebutkan, selama ini ada anggapan jika ada pasien difteri di daerah langsung dirujuk ke RSUDZA. Seharusnya, yang dirujuk itu dengan kondisi medis yang mengkhawatirkan.

“Sekarang ini tidak, yang belum positif difteri langsung dirujuk ke RSUDZA. Malah ketika dirujuk tanpa ada koordinasi dan komunikasi dengan kami. Seharusnya, koordinasikan dengan kami,” ujarnya.

Oleh karena itu, Azharuddin mengharapkan rumah sakit di daerah tidak langsung merujuk pasien difteri. Rujukan dilakukan bila pasien membutuhkan penanganan serius.

“Seperti pasien membutuhkan bedah saluran pernapasan di leher. Kalau rumah sakit daerah tidak memiliki ahli bedah, kami siap membantu,” kata Azharuddin menyebutkan.

Terkait Anti Serum Difteri atau ADS, Azharuddin menyebutkan, serum tersebut dipasok oleh Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. RSUDZA maupun rumah sakit lainnya tidak menyimpan obat antidifteri tersebut.

“Rumah sakit mengajukan permohonan serum ke Dinas Kesehatan sesuai kebutuhan. Kami tidak memiliki dan menyimpan serum antidifteri karena kedaluwarsanya sangat singkat,” pungkasnya. (Ant/SU03)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA

Terkait SP3 Kasus Habib Rizieq, Jokowi: Tidak Ada Intervensi Pemerintah

TANGERANG, SERUJI.CO.ID - Presiden Jokowi menegaskan bahwa tidak ada intervensi pemerintah dalam penerbitan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) kasus dugaan "chat" berkonten pornografi yang melibatkan...

Kemendagri Dukung Ketegasan Kapolri Menjaga Netralitas Polri di Maluku

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Kementerian Dalam Negeri menyatakan mendukung ketegasan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dalam menjaga netralitas Pilkada di Maluku. "Tentu kami 'respect' dan mendukung atas...

Bantah Karena Ketidaknetralan, Polri Enggan Jelaskan Alasan Mutasi Wakapolda Maluku

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Kadivhumas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto membantah mutasi jabatan Brigjen Pol Hasanuddin sebagai Wakapolda Maluku akibat ketidaknetralan Hasanuddin dalam mengawal pelaksanaan Pemilihan...

Hari Pertama Masuk Kerja, Wali Kota Langsa Pimpin Apel Bersama

KOTA LANGSA, SERUJI.CO.ID  - Hari pertama masuk kerja setelah libur Idul Fitri, Wali Kota Langsa Tgk. Usman Abdullah memimpin apel bersama dalam rangka halal...

Hari Pertama Masuk Kerja, 100 PNS Malah Bolos

MAKASSAR, SERUJI.CO.ID - Sebanyak 100 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar pada hari pertama masuk kerja setelah libur lebaran 2018 dinyatakan absen. "Dari...