Cinta Mey Rosa, Berjuang Hidup Dengan Selang di Perutnya

0
206
Cinta Mey Rosa
Cinta Mey Rosa, 8 tahun, terlahir tanpa lubang anus dan kemaluan. (FOTO: SERUJI/Imam Sulaeman)

BATAM – Cinta Mey Rosa, terlahir tanpa dilengkapi alat pembuangan (anus) dan saluran air kencing di organ kewanitaannya. Di usianya yang sudah 8 tahun, gadis kecil ini telah tujuh kali menjalani operasi, tetapi masih harus buang air kecil/pipis melalui selang dari lubang di perutnya.

Operasi yang terakhir adalah operasi batu ginjal di RSCM Jakarta, akibat dari pembuangan air kecil tidak lancar sehingga menimbulkan batu dalam ginjal. Proses pembuangan air kecil bagi Cinta bukanlah hal yang mudah karena keterbatasannya itu.

“Dokter di Jakarta dan Batam sudah memvonis Cinta seumur hidup harus pakai selang untuk jalur pembuangan air kecil,” kata Ahmad Robert yang ditemui di rumahnya di Perumahan Ricci A4 NO 5 Marina, Batu Aji, Batam, Kepulauan Riau, kepada SERUJI, Sabtu (13/5).

Cinta sempat dibawa ke RS di Malaysia, dokter mendeteksi kedua ginjalnya bengkak dan kurang berfungsi sehingga harus segera dioperasi agar tidak jadi komplikasi lainnya.

Kepada SERUJI, kedua orang tua Cinta menceritakan perjalanan operasi anaknya.

Operasi pertama, adalah pembuatan lubang anus melalui tindakan medis colostomy di sebelah kiri perutnya, yang mana usus besar langsung dikeluarkan di perut. Operasi ini dilakukan di Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB) Batam dengan bantuan dokter dari Jakarta.

Saat itu usianya masih sebelas bulan. Namun di usianya yang belum menginjak satu tahun, Cinta Mei Rosa, sudah mengalami penderitaan yang jarang dirasakan balita seusianya.

Operasi kedua, saat usia Cinta 1 tahun 2 bulan. Ia harus menjalani operasi pembuatan lubang anus yang dilubangi di dubur. Operasi yang dilakukan di Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam kali ini memakan waktu yang cukup lama.

“Setelah selesai operasi, kami harus menusuk lubang anus tersebut pakai besi khusus lubang anus agar lubangnya tidak tertutup. Namun BAB-nya masih di perut karena menunggu lubang anus yang baru dilubangi bisa dipergunakan untuk bisa BAB,” ujar Ahmad Roberd.

Operasi ketiga, saat usia Cinta 1 tahun 4 bulan. Ia kemudian menjalani operasi pemisahan antara lubang kencing dan lubang BAB di perut, karena menurut dokter jika tidak dipisahkan akan jadi racun dalam perutnya. Oleh tim dokter RSBK dibuatkan saluran pembuangan air kencing di bawah pusarnya.

“Jadi lubang yang di atas pusar (di perut, red) sementara untuk pembuangan kotoran, yang di bawah pusar untuk saluran kencing,” ujarnya.

Operasi keempat, saat usia Cinta 2 tahun. Ia menjalaninya di RSBK Batam untuk penutupan BAB yang di perut dan menyambungkan saluran BAB ke lubang anus buatan.

“Jadi, sampai usia 2 tahun, Cinta harus buang air besar (BAB) di perut. Setelah operasi keempat, sudah dipindahkan ke lubang anus buatan,” papar Ahmad.

Operasi kelima, masih di RSBK Batam, usia Cinta saat itu 2 tahun 6 bulan. Ia menjalani operasi untuk pembuatan lubang kencing pada daerah kemaluannya, akan tetapi operasi kali ini gagal.

Operasi keenam, ia jalani setahun kemudian. Operasi yang dijalaninya adalah pembuatan lubang kencing di perut menggunakan selang kateter. Di perutnya dilubangi langsung dimasukkan selang kateter yang terhubungkan langsung ke kandung kemih di dalam perut cinta.

“Sampai sekarang masih kencing lewat selang kateter di perut karena lubang kencing di bawah tidak ada,” jelas Ahmad.

Operasi ketujuh, kali ini dilakukan di RSCM Jakarta, saat usianya menginjak 4 tahun. Ia harus menjalani operasi batu ginjal, akibat pembuangan air kecilnya tidak lancar sehingga menimbulkan batu dalam ginjalnya.

“Ini termasuk operasi besar, sehingga dokter di Batam merujuknya ke RSCM Jakarta,” ujar Ahmad.

Pasca operasi, kondisinya belum begitu membaik. Orangtuanya membawanya ke RS di Malaysia. Di sana terdeteksi kedua ginjalnya bengkak dan berfungsi kurang sempurna, sehingga harus segera dilakukan tindakan operasi agar tidak jadi komplikasi lainnya.

“Namun, biaya operasinya membutuhkan dana yang sangat besar yaitu sekitar RM 60 ribu (Rp 180 Juta, red),” tutur ibunya Cinta, Sariah.

Akibat besarnya dana yang dibutuhkan sampai saat ini operasi yang diharapkan dapat membantu kesembuhan Cinta belum dapat dilakukan.

Kedua orang tua Cinta berharap ada uluran tangan dari berbagai pihak untuk membantu meringankan biaya operasi untuk kesembuhan buah hati mereka.

 

CJ: Imam Sulaeman
EDITOR: Iwan Y

BAGIKAN
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA TERBARU

Bupati Malinau Hadiri Rapat Paripurna DPRD Penetapan APBD 2018

MALINAU, SERUJI.CO.ID - Bupati Malinau hadiri rapat paripurna ke IX masa sidang III DPRD kabupaten Malinau tahun 2017 yang diadakan di ruang sidang kantor...
Setya Novanto dan KPK

Pengacara Belum Pastikan Setya Novanto Hadir di Persidangan

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Kuasa Hukum Setya Novanto, Firman Wijaya, menyatakan belum mengetahui apakah kliennya dapat dihadirkan sebagai terdakwa pada sidang perdana perkara tindak pidana korupsi...
Polrestabes Surabaya

Polrestabes Surabaya Raih Predikat Wilayah Bebas Korupsi

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya meraih predikat "Wilayah Bebas Korupsi" dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. "Kami mengucapkan terima kasih kepada...

KANAL WARGA TERBARU

Untitled

Utopia Share Syndrome

Hadirnya media sosial di tengah kerasnya kehidupan telah melahirkan "penyakit" baru yang bolehlah saya sebut dengan istilah "Share Syndrome". Sederhananya, Share Syndrome adalah semacam...

Max Havelaar dan AMDK Ummat

Dowwes Dekker adalah salah satu pencabut tonggak kejam kolonialisme di bumi Nusantara. Ia menjadi amtenaar saat Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memaksa penduduk...
Diky Supratman

Tiga Tahun Bocah Ini Berjuang Dengan Penyakitnya

Kotawaringin Barat - Diky Supratman (16) anak dari pasangan Mustofa dan Marni jl. Ahamd Yani gg. Baning RT 29 Kelurahan Baru Arut Selatan Kotawaringin...