Surabaya, Kota Pahlawan Yang Tak Lagi Bernuansa Heroik

0
339
Asrori Muslich
Mohammad Asrori, mantan ketua GP Ansor Surabaya. (Foto: SERUJI)

SURABAYA, SERUJI.CO.ID –┬áBeberapa tahun belakangan ini pembangunan Surabaya berjalan dengan pesat. Hampir di setiap sudut kota berlangsung berbagai pembangunan, mulai dari pusat perbelanjaan, perkantoran, perumahan hingga berbagai pusat hiburan.

Namun beberapa pihak menilai, berbagai pembangunan tersebut ternyata malah menghilangkan identitas kota yang dikenal sebagai kota Pahlawan. Tidak ada icon baru yang dibangun yang menegaskan bahwa Surabaya sebagai kota pahlawan yang memiliki nilai historis tinggi.

Mohammad Asrori, mantan ketua GP Ansor Surabaya, dalam perbincangan dengan SERUJI menyampaikan keprihatinannya atas arah pembangunan kota, yang menurutnya mulai kehilangan identitas sebagai kota Pahlawan.

“Angan-angan saya bahwa Surabaya sebagai Kota Pahlawan, (tapi) tidak ada satupun juga icon yang bisa menunjukkan hal itu. Aura Surabaya sebagai Kota Pahlawan tidak pernah kita rasakan,” kata Asrori, kepada SERUJI, di Surabaya, Jumat (24/11).

Bahkan, menurut Asrori, pemkot Surabaya terkesan abai dalam menjaga dan mempertahankan berbagai bangunan peninggalan bersejarah, yang jadi saksi bisu bagaimana dimasa lalu arek-arek Surabaya berjuang mempertahankan kota ini.

“Misalnya Rumah Radio Bung Tomo, dibongkar pun pemkot diam seribu bahasa. Apa yang bisa dibanggakan dari Surabaya, kalau begini,” ujar Asrori.

Lebih jauh, Asrori mencoba membandingkan cara pemkot dalam menata pembangunan di pintu masuk kota Surabaya, dibandingkan dengan kota lain di Indonesia.

“Bedakan dengan aura kota-kota lain yang juga punya julukan. Jogja katakanlah, sebelum kita masuk kota, auranya saja sudah bisa kita rasakan ketika mulai masuk pintu gerbang kota Jogja. Bali pun juga demikian, sebelum kita menikmati segala sesuatunya di dalam kota, begitu kita baru masuk kota, sudah banyak tetenger yang bisa kita lihat dan auranya sudah kita rasakan tentang Bali,” katanya.

Surabaya Sparkling
Videotron Surabaya Sparkling di Bundaran Waru, pintu masuk Kota Surabaa. (Foto: Ferry Koto/SERUJI)

“Lha Surabaya, apa? katanya kota Pahlawan tapi malah di pintu masuk Surabaya nuansa heroik pun tidak kita rasakan,” tegasnya menyikapi adanya pembangunan Videotron layar besar di Bundaran Waru yang merupakan media promosi sebuah perusahaan rokok.

Asrori juga menyampaikan keprihatinannya dengan hilangnya berbagai bangunan bersejarah dan tidak terawatnya berbagai bangunan cagar budaya.

“Banyak yang hilang tak berbekas, sementara gedung-gedung yang menjadi peninggalan sejarah nggak diramut. Anggaran banyak terbuang percuma. Surabaya.. Surabaya.. Nasibmu kini,” katanya prihatin.

Asrori berharap, pemerintah kota memberi perhatian lebih pada berbagai bangunan cagar budaya yang ada, dan bangunan bersejarah lainnya yang ada di Surabaya.

“Dan munculkan aura kota ini sebagai kota Pahlawan, mulai sejak dari pintu masuk kota, hingga di tengah kota. Sehingga kita betul-betul merasa sedang di tengah kota Pahlawan,” pungkas Asrori. (SU02)

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama