Padhang Mbulan: Jangan Memilih Pemimpin yang Meminta Kekuasaan

1
164

JOMBANG – Apabila niat menjadi pemimpin berorientasi politik untuk kepentingan individu atau dinasti, maka akan merusak. Apalagi meminta kekuasaan. Seharusnya orientasinya adalah iman dan ilmu. Itulah kajian sejarah tentang kepemimpinan dalam Majelis Maiyah Padhangmbulan, di Jombang, Minggu (12/2), yang disampaikan Cak Fuad, Cak Nun, dan Kiai Muzzamil.

Lebih jauh, Cak Fuad menjelaskan, menurut sejarawan, bisa dibedakan beberapa tipe orientasi tokoh berkaitan dengan kepemimpinan politik.

Yang pertama, yang tidak punya orientasi politik, tapi lebih kuat orientasi iman dan ilmu, juga tidak buta politik. Contohnya Ali bin Abi Thalib. Meskipun beliau tahu bahwa Rasul pernah mengisyaratkan bahwa dialah pemimpin masa depan dan beliau memiliki semua persyaratan untuk menjadi pemimpin, tapi Ali tetap mendukung kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Usman. Setelah Usman diberontak dan dibunuh, Ali diangkat sebagai khalifah oleh kedua kubu, yaitu kubu pemberontak dan kubu pendukung Usman.

Kedua,  punya orientasi politik tapi untuk kepentingan umat atau rakyat. Contohnya adalah tiga khalifah sebelum Ali. Mereka menjadi khalifah karena dipilih, bukan atas keinginan sendiri. Orientasi mereka kemaslahatan dan kepentingan umat. Dan yang ketiga, berorientasi politik untuk kepentingan individu atau dinasti. Contohnya kebanyakan khalifah sesudah Khulafaur Rasyidin.

“Orientasi ketiga inilah yang merusak, dan sangat dominan di masa sekarang. Meski dalam di dalam Al-Quran ada kasus Nabi Yusuf yang “meminta” jabatan sebagai “menteri ekuin”. Menjadi “menteri ekuin” itu bukan ambisi atau atas keinginan pribadi Yusuf, tapi atas perintah Allah untuk mengatasi krisis yang terjadi Mesir, ”tambahnya.

Nabi Yusuf tahu benar bahwa ekonomi Mesir benar-benar dalam keadaan yang sangat gawat, yang tidak bisa ditangani kecuali oleh orang yang benar-benar kuat dan terpercaya. Maka demi kepentingan negara dan rakyat dan atas isyarat dari Allah, Yusuf mengajukan dirinya.

“Jika dihubungkan dengan tiga orientasi di awal, Yusuf jelas bukan yang ketiga. Bisa yang pertama atau kedua. Mencalonkan diri sebagai presiden dan lain-lain karena prosedur demokrasi modern, bisa saja ditempuh dan mudah-mudahan tidak berdosa dengan syarat orientasinya adalah yang kedua (benar-benar untuk kepentingan ummat/rakyat),” tegas Cak Fuad. (Imam)

Foto : Hari/SERUJI

 

BAGIKAN
loading...

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Terbaru

Kemkominfo Blokir Laman Nikahsirri.com

PALEMBANG - Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Direktorat Jenderal Aplikasi dan Informatika menyatakan pihaknya memblokir situs nikahsirri.com karena telah meresahkan masyarakat. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala...
Yohana Yambise

Muncul Situs Kawin Kontrak-Lelang Perawan, Menteri Yohana Angkat Mengecam

JAKARTA - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise melarang lelang perawan dan kawin kontrak seperti penawaran yang beredar melalui situs nikahsirri.com. Dia mengatakan...

Kirim Bantuan ke Rohingya di Myanmar, Pekerja Sosial Hadapi Rintangan Berat

SITTWE - Lembaga-lembaga bantuan yang berusaha keras untuk mencapai ratusan ribu Muslim Rohingya yang terlantar akibat kekerasan di bagian barat laut Myanmar menghadapi permusuhan...

Jaringan Kabel Listrik Jembatan Suramadu Terbakar

SURABAYA - Jaringan kabel listrik jembatan Surabaya-Madura terbakar sehingga petugas mengalihkan arus lalu lintas di jembatan tersebut. "Yang kami alihkan adalah arus kendaraan roda yang menuju...

Rumah Doa Anak Yatim Pelihara Ratusan Ternak

BOGOR - Rumah Doa Anak Yatim yang terletak di Desa Cibuntu, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat memiliki aset ratusan ekor tenak mulai dari...
ott, korupsi

Basaria: Kasus Suap Wali Kota Cilegon Mengecewakan

JAKARTA - Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan mengungkapkan kekecewaannya dengan kasus dugaan suap senilai Rp1,5 miliar terhadap Wali Kota Cilegon Tubagus Imam Ariyadi terkait...