Kasus Kekerasan Siswi SMPN Surabaya Berakhir Damai

0
137
  • 4
    Shares
Kekerasan guru
Kekerasan (ilustrasi)

SURABAYA, SERUJI.CO.ID –┬áKomisi D Bidang Kesra dan Pendidikan DPRD Kota Surabaya menyatakan kasus kekerasan berupa pemukulan yang dilakukan oknum guru SMPN 55 Surabaya NK terhadap siswinya AR akhirnya berakhir damai.

Ketua Komisi D DPRD Surabaya Agustin Poliana, di Surabaya, Jumat (17/11), mengatakan setelah mendapat laporan adanya dugaan kekerasan oleh guru, pihaknya langsung mengklarifikasi hal itu ke Dinas Pendidikan Surabaya.

“Dinas pendidikan terus menindaklanjuti kejadian itu dengan memanggil pihak-pihak terkait pada Kamis (16/11). Akhirnya oknum guru itu sepakat untuk tidak melakukan pelanggaran lagi. Alhamdulillah sekarang sudah damai,” katanya.

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya meminta sekolah dan Dinas Pendidikan Surabaya secara intensif melakukan pembinaan terhadap guru-guru yang masuk kategori galak atau kasar.

“Meski ada siswa yang melakukan pelanggaran kami berharap adanya pembinaan secara persuasif bisa dilakukan. Jangan asal pukul dan tampar. Siswanya bukan takut tetapi malah trauma,” ujarnya.

Ia juga berharap tidak ada lagi laporan terkait ulah dari guru yang melakukan kekerasan terhadap siswanya. Hal tersebut bisa jadi preseden buruk bagi dunia pendidikan di Kota Pahlawan.

“Jangan sampai terulang. Dinas Pendidikan dan sekolah harus tegas,” katanya.

Seperti diketahui, AR bersama orang tuanya Arifin pada Rabu (15/11) mengadu ke DPRD Surabaya. AR mengaku ditampar NK karena kepergok membawa Handphone (HP). HP tersebut digunakan AR untuk menelepon bapaknya Arifin untuk menjemput dirinya karena kakinya sakit bekas kecelakaan.

Kepala Dinas Pendidikan Surabaya M. Ikhsan sebelumnya mengatakan setelah mendapat laporan pihaknya langsung memanggil kepala SMPN 55 beserta NK untuk meminta kronologis.

“Pihak sekolah juga telah mengundang orang tua siswi untuk membicarakan masalah tersebut. Akhirnya damai dan semua legawa agar tidak terjadi hal yang serupa,” katanya.

Ia mengatakan tindakan main tangan oleh guru juga tidak dibenarkan, sehingga pihaknya juga meminta sekolah untuk melakukan pembinaan terhadap guru yang nakal.

“Kami ingin agar sekolah membina guru termasuk juga meminta siswa untuk menaati peraturan sekolah,” ujarnya. (Ant/SU02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU