Gagal Bawa Jasad Tan Malaka, Sebongkah Tanah Makam Dibawa ke Sumbar

125
Prosesi adat pengambilan segumpal tanah di makam Tan Malaka.

KEDIRI – Keluarga Ibrahim Datuk Tan Malaka dari Sumatera Barat harus bersabar dulu untuk sementara waktu. Rencana untuk membawa pulang jasad Tan Malaka yang dipercaya dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, tertunda. Pasalnya, mereka belum mendapatkan izin dari Kementerian Sosial  dan Pemerintah Kabupaten Kediri.

Keluarga Tan Malaka akhirnya gagal membawa pulang jasad tersebut. Akhirnya, mereka bersama Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat hanya menggelar upacara penjemputan gelar raja sesuai dengan adat daerah mereka dan membawa sebongkah tanah.

Upacara adat ini melibatkan sekurangnya 150 orang. Mereka terdiri dari tokoh adat dan keluarga serta simpatisan pahlawan nasional Tan Malaka. Ratusan orang ini datang dari Kabupaten Limapuluh Kota. Mereka harus berlelah-lelah  melalui serangkaian perjalanan darat untuk melaksanakan upacara penjemputan gelar raja.

Prosesi penjemputan gelar ini berlangsung secara sakral di makam Tan Malaka yang terletak di Desa Selopanggung. Ini berbeda dengan rencana awal, bahwa mereka berencana memindahkan jasad Tan Malaka ke tanah kelahirannya.

Proses penobatan gelar itu merupakan bagian dari adat yang berlaku di Minangkabau. Dalam acara itu, para pemangku adat melakukan prosesi pembahasan dan menyampaikan pernyataan sikap persetujuan, memakaikan baju, dan menyematkan keris kepada yang diberi gelar, lalu berdoa bersama.

Pihak keluarga dan pemerintah daerah Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar) hanya mengambil tanah makam. Ini sebagai prosesi pergantian baju atau penyerahan gelar raja dari Ibrahim Datuk Tan Malaka kepada Hengki Novaro Datuk Tan Malaka.

“Prosesi ini adalah penyempurnaan dari penyerahan gelar yang semenjak tahun 1948 disandang Ibrahim Datuk Tan Malaka, sebagai pucuk atau raja adat di Kelarasan Bungo Setangkai,”  kata Wakil Bupati Limapuluh Kota Ferizal Ridwan, Selasa (21/2) kemarin. Ia hadir mengikuti prosesi adat tersebut.

Selain terkendala di Kementerian Sosial, rencana penggalian dan pemindahan tulang belulang, dikhawatirkan Ferizal, akan merusak aqidah agama. Sehingga, segumpal tanah  dianggap cukup mewakili dari unsur manusia tersebut.

Kini, gelar Raja Ibrahim Datuk Tan Malaka, secara sempurna telah berpindah pada generasinya yang ketujuh Hengki Novaro Datuk Tan Malaka. Dia secara tegas juga menyatakan kesiapannya meneruskan semangat perjuangan dari pahlawan nasional Kemerdekaan Indonesia ini.

Sementara itu, Wakil Bupati Kediri Masykuri Ikhsan mengaku, pihaknya menyerahkan keberadaan makam pahlawan revolusioner ini kepada Kemensos  karena almarhum merupakan pahlawan bangsa sehingaa berhak dimiliki oleh seluruh masyarakat Indonesia. Pihaknya juga menunggu perintah dari kementerian untuk pemugaran lokasi makam tersebut.

Untuk diketahui, di wilayah Kabupaten Limapuluh Kota, gelar raja yang dimiliki almarhum Ibrahim Datuk Tan Malaka membawahi 142 niniak mamak atau kaum di Kelarasan Bungo Setangkai, yang terdiri dari tiga nagari atau desa. Antara lain, Pandam Gadang, Suliki, dan Kurai. Nantinya gumpalan tanah yang dibawa bersama peti kesayangan ibunda Tan Malaka ini, akan diletakkan di areal makam keluarga Tan Malaka dan disandingkan dengan orang tuanya.

EDITOR: Rizky

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama