Gagal Bawa Jasad Tan Malaka, Sebongkah Tanah Makam Dibawa ke Sumbar

KEDIRI – Keluarga Ibrahim Datuk Tan Malaka dari Sumatera Barat harus bersabar dulu untuk sementara waktu. Rencana untuk membawa pulang jasad Tan Malaka yang dipercaya dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, tertunda. Pasalnya, mereka belum mendapatkan izin dari Kementerian Sosial  dan Pemerintah Kabupaten Kediri.

Keluarga Tan Malaka akhirnya gagal membawa pulang jasad tersebut. Akhirnya, mereka bersama Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat hanya menggelar upacara penjemputan gelar raja sesuai dengan adat daerah mereka dan membawa sebongkah tanah.

Upacara adat ini melibatkan sekurangnya 150 orang. Mereka terdiri dari tokoh adat dan keluarga serta simpatisan pahlawan nasional Tan Malaka. Ratusan orang ini datang dari Kabupaten Limapuluh Kota. Mereka harus berlelah-lelah  melalui serangkaian perjalanan darat untuk melaksanakan upacara penjemputan gelar raja.

Prosesi penjemputan gelar ini berlangsung secara sakral di makam Tan Malaka yang terletak di Desa Selopanggung. Ini berbeda dengan rencana awal, bahwa mereka berencana memindahkan jasad Tan Malaka ke tanah kelahirannya.

Proses penobatan gelar itu merupakan bagian dari adat yang berlaku di Minangkabau. Dalam acara itu, para pemangku adat melakukan prosesi pembahasan dan menyampaikan pernyataan sikap persetujuan, memakaikan baju, dan menyematkan keris kepada yang diberi gelar, lalu berdoa bersama.

Pihak keluarga dan pemerintah daerah Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar) hanya mengambil tanah makam. Ini sebagai prosesi pergantian baju atau penyerahan gelar raja dari Ibrahim Datuk Tan Malaka kepada Hengki Novaro Datuk Tan Malaka.

“Prosesi ini adalah penyempurnaan dari penyerahan gelar yang semenjak tahun 1948 disandang Ibrahim Datuk Tan Malaka, sebagai pucuk atau raja adat di Kelarasan Bungo Setangkai,”  kata Wakil Bupati Limapuluh Kota Ferizal Ridwan, Selasa (21/2) kemarin. Ia hadir mengikuti prosesi adat tersebut.

Selain terkendala di Kementerian Sosial, rencana penggalian dan pemindahan tulang belulang, dikhawatirkan Ferizal, akan merusak aqidah agama. Sehingga, segumpal tanah  dianggap cukup mewakili dari unsur manusia tersebut.

Kini, gelar Raja Ibrahim Datuk Tan Malaka, secara sempurna telah berpindah pada generasinya yang ketujuh Hengki Novaro Datuk Tan Malaka. Dia secara tegas juga menyatakan kesiapannya meneruskan semangat perjuangan dari pahlawan nasional Kemerdekaan Indonesia ini.

Sementara itu, Wakil Bupati Kediri Masykuri Ikhsan mengaku, pihaknya menyerahkan keberadaan makam pahlawan revolusioner ini kepada Kemensos  karena almarhum merupakan pahlawan bangsa sehingaa berhak dimiliki oleh seluruh masyarakat Indonesia. Pihaknya juga menunggu perintah dari kementerian untuk pemugaran lokasi makam tersebut.

Untuk diketahui, di wilayah Kabupaten Limapuluh Kota, gelar raja yang dimiliki almarhum Ibrahim Datuk Tan Malaka membawahi 142 niniak mamak atau kaum di Kelarasan Bungo Setangkai, yang terdiri dari tiga nagari atau desa. Antara lain, Pandam Gadang, Suliki, dan Kurai. Nantinya gumpalan tanah yang dibawa bersama peti kesayangan ibunda Tan Malaka ini, akan diletakkan di areal makam keluarga Tan Malaka dan disandingkan dengan orang tuanya.

EDITOR: Rizky

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Wanita Muda Kaki Sering Kesemutan dan Perut Bagian Bawah Sakit, Gejala Apa?

Dokter, sudah 4 hari ini kaki saya terasa kebas dan gampang kesemutan. Juga perut saya bagian bawah terasa sakit. Kira-kira sakit apa ya dok?

Gus Ipul Mentransformasi Kota Pasuruan Menuju Smart City

Pemerintah cerdas adalah pemerintah yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakat secara lebih cepat, lebih murah sekaligus lebih terukur. Dinamika perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan.

E-Sambat, Cara Gus Ipul Manfaatkan Teknologi Digital untuk Layani Warga Kota Pasuruan

Program Smart City atau Kota Cerdas membuat kerja pemerintah menjadi lebih efisien, termasuk dengan cepat dapat merespon berbagai keluhan masyarakat. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Pasuruan dengan aplikasi e-Sambat.

Smart City di Surabaya Bukan Sekadar Urusan Aplikasi

Ada enam faktor pendukung terciptanya smart city di Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini bukan sekadar urusan aplikasi, namun juga untuk memberdayakan UMKM.

Terinspirasi Jack Ma, Khofifah Dorong UMKM Masuk ke Dunia Digital

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak awal berupaya agar usaha mikro kecil menengah diberikan peluang melalui digitalisasi sistem. Ia terinspirasi Jack Ma, pemilik Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok.

Ketum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Hard News

Media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. Masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

Target Pemerintah: 6,1 Juta UMKM On Boarding Setiap Tahun

Usaha mikro kecil menengah di daerah membutuhkan teknologi digital untuk berkembang di era pandemi.

TERPOPULER

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Diserbu Penumpang, Tarif Kapal Pelni Kendari-Jakarta Hanya Rp529 Ribu

Kebetulan harga tiket kapal laut milik Pelni masih relatif murah. Untuk penumpang dewasa dari Kendari hingga Tanjung Priuk, Jakarta Utara hanya dibanderol Rp529 ribu, termasuk tiket kapal super ekspres Jetliner Kendari-Baubau hanya Rp100 ribu perpenumpang.