Menkeu Ingatkan Golongan Menengah Jangan Bermental Gratisan

SEMARANG, SERUJI.CO.ID – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan masyarakat golongan menengah jangan punya mental “gratisan” yang selalu meminta pelayanan dari negara dalam bentuk subsidi.

“Saya sering dengar dari publik kalau kita punya mental harus semuanya negara yang mengurus. Negara itu mengurus yang paling ‘vulnerable’, paling lemah,” katanya di Semarang, Senin (9/4).

Hal itu diungkapkannya saat menyampaikan kuliah umum berjudul “Digital Disruption: Peluang dan Tantangan Membangun Pondasi Ekonomi Indonesia 2045” di Universitas Diponegoro Semarang (Undip).

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), kata dia, termasuk alat untuk mengurangi kemiskinan, antara lain 10 juta penduduk Indonesia yang mendapatkan santunan dalam bentuk Program Keluarga Harapan (PKH).

Masyarakat yang termasuk kelompok menengah, kata sosok kelahiran Bandarlampung, 26 Agustus 1962 itu, harus percaya diri dan senang menjadi bagian dari negara yang memberikan kontribusi.

“Harusnya, saya sudah bayar pajak, saya meminta dalam bentuk ‘services’, bukan subsidi. Kalau dapat sekolah, yang bagus, gurunya bener, ngurus KTP cepet, ngurus SIM juga cepet,” katanya.

Kalau berkuliah, kata dia, mendapatkan universitas yang bagus, fasilitasnya bagus, termasuk pengajarnya berkualitas, perpustakaan yang bagus, serta bisa mengakses buku-buku yang berkualitas.

Itulah, kata dia, sikap kelas menengah yang turut berkontribusi terhadap negara dan meminta pelayanan tidak dalam bentuk subsidi, melainkan “service” dengan kualitas yang bagus.

“Namun, kalau kelas menengah mentalnya ingin masuk gratis, nanti masuk kelas karena gratis gurunya masuk syukur, enggak masuk, ya, enggak apa-apa karena gratis,” katanya.

Menkeu menilai perlunya memasukkan “mindset” yang bagus kepada masyarakat, terutama generasi muda agar bisa membangun karakter yang baik dan benar untuk kekuatan menuju Indonesia 2045.

“Seiring kemajuan teknologi yang masuk, maka sikap yang penting. Yang tidak bisa digantikan robot adalah ‘critical thinking’ yang bisa berpikir kritis, punya empati, dan bisa merasakan emosional,” katanya.

Dengan pondasi “mindset” dan sikap yang benar dan tidak hanya sibuk memikirkan hal-hal yang bersifat sepele, ia menambahkan akan membuat Indonesia menjadi kuat dan terus maju.

“Kalau hanya sibuk mikirin hal-hal sepele, sementara hal-hal fundamental malah tidak terpikirkan maka kita semua kehilangan waktu,” pesan mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu. (Ant/SU02)

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Pribumi vs Non Pribumi

Belajar, Bukan Bersekolah

Akhir pandemi belum juga jelas, satu hal sekarang makin jelas: Gedung-gedung megah persekolahan itu makin tidak relevan jika dipaksakan untuk kembali menampung kegiatan bersekolah lagi. Sekolah harus direposisi. Juga guru.

Disabilitas Mental dan Pemilu

Ketika Komisioner Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Hasyim Asy'ari menyampaikan bahwa KPU mendata pemilih penyandang disabilitas mental atau sakit jiwa, muncul pertanyaan penderita penyakit jiwa mana yang diberikan hak untuk memilih?

Gus Ipul Mentransformasi Kota Pasuruan Menuju Smart City

Pemerintah cerdas adalah pemerintah yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakat secara lebih cepat, lebih murah sekaligus lebih terukur. Dinamika perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan.

E-Sambat, Cara Gus Ipul Manfaatkan Teknologi Digital untuk Layani Warga Kota Pasuruan

Program Smart City atau Kota Cerdas membuat kerja pemerintah menjadi lebih efisien, termasuk dengan cepat dapat merespon berbagai keluhan masyarakat. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Pasuruan dengan aplikasi e-Sambat.

Smart City di Surabaya Bukan Sekadar Urusan Aplikasi

Ada enam faktor pendukung terciptanya smart city di Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini bukan sekadar urusan aplikasi, namun juga untuk memberdayakan UMKM.

Terinspirasi Jack Ma, Khofifah Dorong UMKM Masuk ke Dunia Digital

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak awal berupaya agar usaha mikro kecil menengah diberikan peluang melalui digitalisasi sistem. Ia terinspirasi Jack Ma, pemilik Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok.

Ketum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Hard News

Media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. Masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

Target Pemerintah: 6,1 Juta UMKM On Boarding Setiap Tahun

Usaha mikro kecil menengah di daerah membutuhkan teknologi digital untuk berkembang di era pandemi.

TERPOPULER

Diserbu Penumpang, Tarif Kapal Pelni Kendari-Jakarta Hanya Rp529 Ribu

Kebetulan harga tiket kapal laut milik Pelni masih relatif murah. Untuk penumpang dewasa dari Kendari hingga Tanjung Priuk, Jakarta Utara hanya dibanderol Rp529 ribu, termasuk tiket kapal super ekspres Jetliner Kendari-Baubau hanya Rp100 ribu perpenumpang.

Mengenal Ide Pendirian Ruangguru.com, Berawal Dari Kesulitan Iman Usman dan Belva Devara

Inspirasi bisnis bisa datang darimana saja. Termasuk dari masalah yang kita hadapi sehari-hari.

Tentang Korupsi Sektor Publik

Sebenarnya fenomena korupsi sektor publik terjadi di hampir semua Negara. Bukan hanya di Indonesia yang masuk dalam kategori negara yang belum mapan secara ekonomi. Namun korupsi sektor publikpun terjadi di negara yang sangat mapan perekonomiannya seperti Saudi Arabia.