Gerakan Selasa Wage Malioboro Masih Fokus Kebersihan

0
78
Hari Reresik Malioboro
Pedagang kaki lima libur berjualan untuk bergotong royong membersihkan trotoar di kawasan Jalan Malioboro, Selasa (31/10). (Foto: Hanif/SERUJI)

YOGYAKARTA, SERUJI.CO.ID –¬†Gerakan Selasa Wage di Malioboro Yogyakarta yang sudah dilakukan untuk ketiga kalinya masih difokuskan pada sektor kebersihan dengan melibatkan seluruh komunitas di kawasan itu untuk melakukan pembersihan bersama-sama.

“Hingga pelaksanan kegiatan Selasa Wage yang ketiga ini, kegiatan masih difokuskan pada kebersihan. Saya kira, sampai kegiatan keempat yang akan dilakukan 35 hari lagi, fokus kegiatan tetap pada kebersihan,” kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi di Yogyakarta, Selasa (5/12).

Kegiatan membersihkan Malioboro pada pelaksanaan Selasa Wage ketiga tersebut dilakukan dengan memotong ranting pohon, menyapu trotoar di sisi timur dan barat jalan, hingga menggelontor saluran drainase dengan air agar tidak tersumbat.

Loading...

“Kondisi drainase memang kerap tersumbat oleh limbah dari pedagang hingga kotoran kuda. Kami berharap, ada kesadaran seluruh pihak agar kondisi ini tidak terus berlanjut karena akan membuat wisatawan tidak nyaman,” katanya.

Heroe mengingatkan bahwa tujuan utama untuk membersihkan Malioboro setiap Selasa Wage adalah mewujudkan kawasan Malioboro yang nyaman sehingga bisa dinikmati oleh wisatawan termasuk komunitas yang sehari-hari berada di kawasan tersebut.

“Kawasan Malioboro ini harus nyaman dan bisa dinikmati. Saya berharap, kegiatan Selasa Wage ini menjadi budaya. Artinya, seluruh komunitas di kawasan ini termasuk wisatawan menjaga kebersihan Malioboro setiap waktu,” katanya.

Ia juga meminta agar gerakan Selasa Wage terus dikembangkan sehingga tidak hanya terbatas pada kegiatan membersihkan kawasan secara bersama-sama tetapi bisa berkembang dalam bentuk kegiatan lain dengan pola yang lebih terpadu.

“Jika biasanya hanya komunitas pedagang kaki lima yang terlibat, maka kegiatan ke depan harus bisa melibatkan lebih banyak komunitas seperti pemilik toko. Pemilik bisa mengecat bangunan toko mereka agar terlihat lebih rapi,” kata Heroe.

Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Yogyakarta Aki Lukman mengatakan, kondisi drainase kerap tersumbat oleh kotoran baik dari limbah pedagang maupun dari kotoran kuda.

“Kami berharap, ada kesadaran bersama bahwa saluran drainase bukan untuk memasukkan limbah. Jika sudah tersumbat, maka bisa menggenang dan menimbulkan bau tidak sedap. Padahal, untuk membersihkannya tidak mudah karena petugas harus membongkar tutup saluran,” katanya. (Ant/SU02)

Langganan berita lewat Telegram
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU