Dinas Pertanian Dorong Petani Gunung Kidul Tanam Kedelai Lokal


GUNUNG KIDUL, SERUJI.CO.ID – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong petani setempat menanam kedelai lokal untuk mengurangi ketergantungan impor.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul Raharjo di Gunung Kidul, Rabu (28/3), mengatakan saat ini, pihaknya menggencarkan pertanian kedelai non-GMO atau kedelai organik di Gunung Kidul.

“Kedelai GMO ini lebih sehat, kalau impor yang selama ini dipakai itu mengandung GMO,” katanya.

Ia mengatakan pertanian kedelai di Gunung Kidul tidak sebagus padi dan jagung.

Padahal, pemkab menggencarkan target dari program upaya khusus (upsus) padi, jagung dan kedelai (pajale).

Minimnya tanaman kedelai di Gunung Kidul, dinilai karena harga jual belum terlalu menguntungkan petani, dan perawatannya cukup sulit. Selain itu, benih lebih susah dicari dibandingkan dengan padi dan jagung.

“Satu kilogramnya harga jual Rp7 ribu. Produktivitasnya pun rendah, hanya 1,2 ton per hektare. Untungnya sedikit sekali, jadi buat petani ini malas untuk menanam kedelai,” katanya.

Pihaknya terus mendorong agar petani menanam kedelai lokal. Kemudahan tanaman kedelai bisa ditanam di mana saja, tidak perlu harus lahan khusus untuk tanaman kedelai, petani bisa menanamnya di pekarangan, bahkan tanah pinggir jalan.

“Jadi ini yang sedang kami tekankan ke para petani. Kalau lahan dipakai untuk tanam padi dan jagung, sempatkanlah untuk tanam kedelai juga di pekarangan samping rumah atau pinggir jalan juga bisa,” katanya.

Saat ini, pihaknya mengajukan tiga ton bibit kedelai ke litbang. Jumlah itu terbilang cukup lumayan mengingat satu hektare lahan bisa digunakan kurang lebih 40 kilogram benih.

Di Gunung Kidul sampai Maret ini sudah memiliki 3.121 hektare lahan. Gunung Kidul memiliki sentra lahan kedelai di Kecamatan Semin, Playen, Semanu, Karangmojo, Wonosari, dan Nglipar.

Untuk memperbanyak tanaman kedelai, Raharjo berharap petani Gunung Kidul mau memanfaatkan pekarangan untuk kedelai.

“Kebutuhan kedelai cukup tinggi karena digunakan bahan dasar tempe dan tahu,” katanya. (Ant/SU02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

The SOMAD Power

Blunder

Fahira ke Haters Anies: Jangan Sering Gol Bunuh Diri Nanti Kehabisan Energi

Bedakan wilayah Bekasi, Tangerang dan DKI saja tidak mampu. Siapa pengelola Kawasan GBK dan Jembatan Utan Kemayoran saja tidak paham. Bagaimana mau mau kritik apalagi menyerang.

Sering Kesemutan di Tangan Maupun Kaki Sejak Usia Muda, Apakah Sebabnya?

Kesemutan yang saya derita mudah timbul, semisal saat mengendarai sepeda motor, tangan saya memegang stang meskipun tidak erat dalam waktu 10 menit kedua tangan saya merasa kesemutan bercampur kebas, dan akan normal kembali apabila saya lepas.

Dinilai Lembek ke China Soal Natuna, PA 212 Minta Presiden Jokowi Pecat Prabowo

Menurut PA 212, langkah yang diambil Prabowo sangat kontras dengan sikap Presiden Jokowi yang tidak mau berkompromi dengan China yang telah melakukan pelanggaran batas wilayah di perairan Natuna.

Inilah Kekayaan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah Yang Kena OTT KPK

Jumlah harta Saiful ini melonjak hampir empat kali lipat dibanding saat awal ia menjabat Wakil Bupati Sidoarjo periode 2005-2010, yang berdasarkan LHKPN tertanggal 28 April 2006 bernilai total Rp17.349.095.000.

Flash: Bupati Sidoarjo Kena OTT KPK Terkait Dugaan Pengadaan Barang dan Jasa

OTT KPK ini, adalah juga yang pertama kali sejak revisi UU KPK diundangkan menjadi UU Nomor 19 Tahun 2019 atas perubahan kedua atas UU Nomor 30 Tahun 2002.

Utang RI Meroket Rp4.778 Triliun, Sri Mulyani: Kita Masih Lebih Hati-hati Dibanding Malaysia

Bahkan, jika dibanding negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Filipina, jelas Sri Mulyani, pengendalian utang Indonesia jauh lebih hati-hati.

TERPOPULER

close