Dinas Anjurkan Petani Tanam Padi Varietas Inpari

0
61
Petani panen padi
Petani panen padi (ilustrasi)

BANTUL, SERUJI.CO.ID – Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menganjurkan para petani di daerah ini untuk menanam padi varieas Inpari 23 agar tidak mudah roboh terserang penyakit.

“Varietas Inpari 23 itu varietas baru yang memang lebih tahan untuk patah ‘leher’ (batang padi), makanya kami sudah menganjurkan agar ditanam,” kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi di Bantul, Jumat (30/3).

Menurut dia, anjuran tanam padi varietas Inpari 23 itu agar tanaman padi pada fase pembungaan tidak terserang penyakit yang berakibat patah leher dan kemudian roboh yang berpotensi memengaruhi produksi panen.

Meski demikian, pihaknya belum memastikan apakah robohnya tanaman padi di sejumlah lokasi hamparan sawah di Bantul karena penyakit patah leher atau karena terkena angin, karena memang masih banyak petani menaman varietas IR 64.

“Kan masih banyak petani kita itu senang menanam padi varietas IR 64, karena disamping bulirnya banyak, juga rasanya lebih lebih enak, padahal enak dan tidaknya itu tergantung segar dan tidaknya,” katanya.

Ketika ditanya apakah robohnya padi berpengaruh pada produksi panen, Ia mengatakan, kalau robohnya karena bekteri atau penyakit tentu bisa pengaruh baik hasil maupun kualitas panen, namun kalau karena angin tidak masalah.

“Dan biasanya kalau sudah mau panen itu kadang roboh kena angin, karena istilahnya sudah ketinggian dan anginnya besar, itu tidak pengaruh. Tapi kalau robohnya karena bakteri itu pengaruh dan memang itu menyerang pada varietas tidak tahan patah leher,” katanya.

Pulung juga mengatakan, petani atau pemilik sawah yang tanamannya roboh kena angin tidak perlu mencemaskan dan tidak perlu segera memanen, karena tidak terlalu berisiko, berbeda ketika karena penyakit yang butuh perlakuan khusus.

“Saya kira kalau karena angin tidak apa-apa, justru kalau yang tergenang pada saat sudah berisi atau pada fase pembungaan itu risiko, karena hasilnya tidak maksimal, tapi kalau pada masa pertumbuhan atau usia dua-tiga minggu tidak apa-apa,” katanya. (Ant/SU02)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA
Telur ayam naik

Heboh Soal Telur Naik: Mendag Tuding Piala Dunia, Mentan Sebut Karena Musim Haji

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Harga telur yang naik tinggi belakangan ini, sampai menyentuh Rp30 ribu perkilogram jadi perbincangan di tengah masyarakat. Bukan hanya karena tingginya...
Caleg

Terkait Menteri Nyaleg, Gerindra: Sebaiknya Mundur

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Wakil Ketua Komisi II DPR Ahmad Riza Patria menyarankan menteri-menteri yang menjadi calon anggota legislatif untuk Pemilu 2019 mundur dari jabatannya...

Terkait Pencalegan Kapitra lewat PDIP, Habib Rizieq: Jangan Lagi Ada di Kapal Kami

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Habib Rizieq Shihab telah mengeluarkan seruan yang tegas agar umat Islam tidak berhubungan dan mendukung partai-partai penista agama pada pemilu 2019....

Tiga Menteri PKB Nyaleg, Kata Cak Imin Tak Akan Ganggu Pemerintahan

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yakin bahwa tiga menteri dari PKB yang mencalonkan...
Telur ayam naik

Di Banjar, Harga Daging dan Telor Ayam Melonjak Tinggi

KOTA BANJAR, SERUJI.CO.ID - Harga telur ayam dan daging ayam di pasar Banjar, Jawa Barat, mengalami kenaikan harga. Berdasarkan pantauan di pasar Banjar Jumat...