9 dari 25 Tersangka Perguruan Silat Lakukan Pengeroyokan Terhadap Polisi Wonogiri

WONOGIRI, SERUJI.CO.ID – Tim Penyidik Polres Wonogiri yang dibantu Polda Jawa Tengah menetapkan 9 dari 25 tersangka anggota perguruan silat terlibat melakukan pengeroyokan terhadap Kasat Rekrim AKP Aditia Mulya Ramdhani yang menjadi korban kasus penganiayaan di Kecamatan Sidoharjo kabupaten setempat.

“Polisi tetapkan 25 tersangka, dan 9 tersangka di antaranya, terlibat melakukan penganiayaan terhadap anggotanya, Kasat Rekrim Polres Wonogiri,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jateng Kombes Pol Agus Triatmaja yang didamiping Kapolres Wonoghiri AKBP Uri Nartanti Istiwiyati, dalam konferensi Pers di Mapolres Wonogiri, Rabu (29/5).

Agus Triatmaja mengatakan 9 pelaku pegeroyokan tersebut mengaku terlibat melakukan penganiayaan terhadap anggota polisi Aditia dengan menggunakan bambu, senjata tajam, dan tangan kosong.

Menurut dia, 9 pelaku tersebut berinisial AP, DFR, P, ER, AH, HPA, S, A, dan JN. Satu pelaku diketahui masih di bawah umur berisial AP (17). Sedangkan, dua pelaku lainnya mengaku terlibat melawan petugas, dan 14 orang sisanya melakukan pengrusakan atau berbuat anarkis saat kejadian.

“Kami menahan 15 tersangka dan 10 orang lainnya tidak ditahan dan dikenai wajib lapor, karena pertimbangan mereka masih di bawah umur,” katanya.

Tim penyidik mengungkapkan 9 pelaku merupakan anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) mengaku melakukan penganiayaan terhadap anggota polisi karena dikira salah satu anggota PSH Winongo di Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri.

“Kedua perguruan silat terjadi bentrok berawal dari membuat tulisan pengejek dan kemudian saling dendam kemudian terjadi bentrok kedua belah pihak, di Sidoharjo Wonogiri pada 8 Mei 2019,” katanya.

Menurut dia, ada kemungkinan jumlah tersangka yang melakukan penganiayaan terhadap anggota polisi tersebut bisa bertambah, karena tim penyidik terus melakukan pengembangan kasus penganiayaan itu.

Atas perbuatan para pelaku delapan tersangka dewasa akan dijerat dengan Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara. Satu pelaku masih di bawah umur akan dikenai Undang Undang Perlindungan Anak.

Selain itu, dua tersangka yang melawan petugas, akan dikenai Pasal 214 KUHP, dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara, sedangkan 14 tersangka lainnya ancaman lima tahun.

Peristiwa penganiayaan yang menimpa korban anggota polisi Kasat Reskrim Polres Wonogiri, AKP Aditia Mulya tersebut berawal kedua perguruan silat yang akan bentrok. Aditia dengan mengendarai mobil bersama anggotanya turun dan menghalau massa PSHT agar tidak terjadi bertemu bentrok.

Anggota polisi tersebut justru menjadi korban penganiayaan oleh massa PSHT. Korban dianiaya karena dikira salah satu anggota PSH Winongo. Korban dikeroyok hingga tidak sadarkan diri dan dibantu warga kemudian dibawa ke rumah sakit. Korban Aditia tidak sadarkan diri hingga sekarang.

Dia mengatakan korban Aditia yang dirawat di RS Singapora General Hospital, kondisinya sudah ada perkembangan. Kabar terbaru Aditia sudah dipindahkan dari ruang ICU ke ruang perawatan di Singapore General Hospital, Rabu ini. Kondisinya masih belum sadarkan diri.

Sumber:Ant

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Umat Islam Harus Menangkan Pilpres dan Pileg

Mengingat betapa pentingnya momentum Pemilu 17 April 2019, maka umat Islam harus benar-benar berjuang dan mempunyai komitmen untuk dapat memenangkan pertarungan politik baik untuk Pilpres maupun Pileg yaitu memilih calon Paslon Presiden/Wapres serta Caleg yang didukung oleh Partai Politik yang memang punya komitmen berjuang dan keberpihakan untuk kepentingan Umat Islam dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mengenal Lebih Dekat Komisi Anti Korupsi Hongkong

Hubungan persahabatan antara KPK dan ICAC telah terjalin dengan baik selama dua tahun terakhir. Kerjasama kedua lembaga anti rasuah tersebut sebagian besar menyangkut peningkatan kapasitas KPK, terutama dibidang akuntansi forensik, pemulihan aset, dan tehnik investigasi.

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

Boneka Cantik dari Balaikota

Seperti drama korea (drakor), ada yang menangis ada yang tertawa. Akhirnya perburuan rekom PDIP untuk pilwali Surabaya mencapai antiklimaks, Rabu (2/9). And the winner is...Tri Rismaharini sebagai sutradara terbaik. Whisnu berusaha tatag, berdiri di depan kamera menghadap Megawati Soekarnoputri. "Aku tidak akan buang kamu, Whisnu," kata Mega.

Pria 57 Tahun di Bogor: Jari Kaki Terasa Kaku, Bekas Luka Menghitam dan Bersisik

Dok, jari-jari kaki saya terasa kaku, agak mati rasa kadang nyeri, terus kaki kanan di atas mata kaki awalnta gatal saya garuk luka, sekarang sembuh tapi kulitnya jadi bersisik dan menghitam. Ini indikasi apa ya dokter?

TERPOPULER