Warga Ternate Enggan Berlayar Karena Cuaca Ekstrem

0
75
nelayan
Nelayan enggan berlayar karena cuaca ekstrem. (foto: istimewa)

TERNATE, SERUJI.CO.ID – Sejumlah warga Ternate, Maluku Utara (Malut) enggan untuk berlayar dari Ternate ke berbagai kabupaten lainnya di Malut, menyusul cuaca ekstrem disertai gelombang tinggi di sekitar laut Ternate.

“Akibat cuaca buruk, saya membatalkan berlayar ke Sofifi,” kata salah seorang PNS Pemprov Malut Zulkifli, di Ternate, Kamis (14/12).

Menurutnya, pembatalan untuk berangkat ke Sofifi karena cuaca yang tidak baik disertai angin kencang, sehingga dikhawatirkan terjadi musibah saat berlayar.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Kilimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ternate meminta nelayan yang menggunakan kapal berukuran kecil untuk mewaspadai cuaca buruk yang terjadi di perairan Pulau Halmahera.

Prakirawan Cuaca BMKG Kota Ternate Vianca Adjie D Putra ketika dihubungi mengimbau para nelayan dan kapal cepat berukuran kecil harus mewaspadai tinggi gelombang, terutama di perairan Ternate, Pulau Halmahera, dan Kepulauan Sula dalam sepekan terakhir.

Dia mengatakan, tinggi gelombang tersebut diakibatkan oleh adanya angin kencang dari arah timur barat laut dengan kecepatan 40-50 km/jam.

Selain itu, dirinya juga meminta agar jalur yang perlu diwaspadai terdapat pada lintasan Ternate-Bitung dan Halut-Pulau Morotai, mengingat jalur ini pada saat terjadi cuaca ekstrem akan berpotensi terjadi gelombang tinggi.

Apalagi, untuk saat ini perlu diwaspadai sesuai dengan yang disampaikan oleh BMKG untuk lintasan Ternate-Bitung, karena diketahui dalam beberapa hari ini tinggi gelombang sangat mengganggu aktivitas berlayar dari Ternate tujuan Bitung maupun Bitung-Ternate.

Sebelumnya, BPBD Kota Ternate menyatakan telah mengantisipasi terjadi cuaca ekstrem dengan melakukan sosialisasi dini menghadapi bencana bagi warga yang bermukim di daerah rawan bencana.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Ternate Mansur P Mahli ketika dikonfirmasi mengatakan, sosialisasi ini agar warga dapat memahami dan mengetahui deteksi dini hadapi bencana.

“Biasanya daerah rawan banjir dan longsor petugas sudah disiagakan, kalau terjadi kenaikan debit air langsung dilaporkan, petugas sudah disiapkan HT dan alarm setiap kelurahan, didukung mahasiswa geologi UGM untuk merancang alat peringatan dini deteksi longsor,” pungkasnya. (Ant/SU03)

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama