Warga Ternate Enggan Berlayar Karena Cuaca Ekstrem

0
57
nelayan
Nelayan enggan berlayar karena cuaca ekstrem. (foto: istimewa)

TERNATE, SERUJI.CO.ID – Sejumlah warga Ternate, Maluku Utara (Malut) enggan untuk berlayar dari Ternate ke berbagai kabupaten lainnya di Malut, menyusul cuaca ekstrem disertai gelombang tinggi di sekitar laut Ternate.

“Akibat cuaca buruk, saya membatalkan berlayar ke Sofifi,” kata salah seorang PNS Pemprov Malut Zulkifli, di Ternate, Kamis (14/12).

Menurutnya, pembatalan untuk berangkat ke Sofifi karena cuaca yang tidak baik disertai angin kencang, sehingga dikhawatirkan terjadi musibah saat berlayar.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Kilimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ternate meminta nelayan yang menggunakan kapal berukuran kecil untuk mewaspadai cuaca buruk yang terjadi di perairan Pulau Halmahera.

Prakirawan Cuaca BMKG Kota Ternate Vianca Adjie D Putra ketika dihubungi mengimbau para nelayan dan kapal cepat berukuran kecil harus mewaspadai tinggi gelombang, terutama di perairan Ternate, Pulau Halmahera, dan Kepulauan Sula dalam sepekan terakhir.

Dia mengatakan, tinggi gelombang tersebut diakibatkan oleh adanya angin kencang dari arah timur barat laut dengan kecepatan 40-50 km/jam.

Selain itu, dirinya juga meminta agar jalur yang perlu diwaspadai terdapat pada lintasan Ternate-Bitung dan Halut-Pulau Morotai, mengingat jalur ini pada saat terjadi cuaca ekstrem akan berpotensi terjadi gelombang tinggi.

Apalagi, untuk saat ini perlu diwaspadai sesuai dengan yang disampaikan oleh BMKG untuk lintasan Ternate-Bitung, karena diketahui dalam beberapa hari ini tinggi gelombang sangat mengganggu aktivitas berlayar dari Ternate tujuan Bitung maupun Bitung-Ternate.

Sebelumnya, BPBD Kota Ternate menyatakan telah mengantisipasi terjadi cuaca ekstrem dengan melakukan sosialisasi dini menghadapi bencana bagi warga yang bermukim di daerah rawan bencana.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Ternate Mansur P Mahli ketika dikonfirmasi mengatakan, sosialisasi ini agar warga dapat memahami dan mengetahui deteksi dini hadapi bencana.

“Biasanya daerah rawan banjir dan longsor petugas sudah disiagakan, kalau terjadi kenaikan debit air langsung dilaporkan, petugas sudah disiapkan HT dan alarm setiap kelurahan, didukung mahasiswa geologi UGM untuk merancang alat peringatan dini deteksi longsor,” pungkasnya. (Ant/SU03)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA
bambang soesatyo

DPR Minta Kemenag Beri Penjelasan Terkait Rekomendasi 200 Mubaligh

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meminta Kementerian Agama menjelaskan terkait kebijakan mengeluarkan rekomendasi 200 nama mubaligh, agar tidak terjadi keresahan di...
operasi pasar

Bulog Siapkan Operasi Pasar Antisipasi Lonjakan Harga Sembako

TANGERANG, SERUJI.CO.ID - Aparat Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Tangerang, Banten, mempersiapkan operasi pasar (OP) sebagai antisipasi lonjakan harga sembako di pasar tradisional dan pusat...

Fitriani Gagal Rebut Angka Pertama Piala Uber Lawan Malaysia

BANGKOK, SERUJI.CO.ID - Pemain Indonesia Fitriani gagal meraih angka pertama bagi tim putri Indonesia, setelah menyerah kepada Soniia Cheah dari Malaysia 21-10, 17-21, 14-21...
tenaga kerja asing

Terkait Serbuan TKA, Ini Tanggapan Presiden Jokowi

PADANG, SERUJI.CO.ID - Presiden Jokowi menanggapi isu maraknya serbuan tenaga kerja asing khususnya dari China dalam kunjungan kerjanya ke Padang, Senin (21/5), setelah salah...

Dikalahkan Persela Lamongan, Persija Ajukan Protes ke PSSI

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Persija Jakarta secara resmi mengajukan protes resmi kepada Komisi Disiplin PSSI dan PT Liga Indonesia Baru terkait kepemimpinan wasit Annas Apriliandi...