Untuk Menjaga Profesionalisme, Insinyur Pun Butuh Sertifikasi Profesional

0
247
Lokakarya Sertifikasi Insinyur Profesional
Peserta Lokakarya Sertifikasi Insinyur Profesional di Aula PRCC Chevron, Balikpapan, Minggu, 19/3/2017. (Foto: Haris Kusuma Adi/Seruji)

BALIKPAPAN – Pengurus Persatuan Insinyur Indonesia (PII) wilayah Kaltim mengadakan lokakarya 1 hari di aula PRCC Chevron, Balikpapan, pada 19 Maret 2017. Lokakarya ini diikuti oleh 43 peserta yang berlatar belakang berbagai disiplin ilmu teknik.

Kegiatan ini adalah sebuah upaya dari PII wilayah Kaltim yang mendapat dukungan dari manajemen Chevron untuk proses sertifikasi para insinyurnya. Demikian dijelaskan oleh Ir. Mustamin, IPM Sekretaris Pengurus wilayah Kaltim.

Dalam sambutannya Direktur Eksekutif Dewan Pengurus PII Pusat Ir. Rudianto Handojo, IPM menyampaikan bahwa dengan disahkannya UU 11/2014 tentang Keinsinyuran, nantinya setiap sarjana teknik akan memerlukan registrasi untuk menjalankan profesinya. Hal ini juga merupakan perlindungan bagi profesi insinyur lokal dari dampak globalisasi.

Diakui oleh Rudianto, sejak lahir UU Keinsinyuran, memang banyak yang belum memahami. Namun demikian, khususnya di lingkungan PII makin lama makin banyak yang mengerti dan berusaha memenuhi ketentuan perundangan yang ada. Hal ini terbukti, bahwa sampai saat ini ada sekitar 750 ribu hingga 800 ribu Sarjana Teknik di Indonesia dengan sekitar 23 ribu terdaftar di PII sebagai anggota. Dari 23 ribu tersebut baru sekitar 9 ribu yang terdaftar sebagai Insinyur Profesional.

Sertifikasi ini ada tiga tingkatan yaitu Insinyur Profesional Pratama (IPP), Insinyur Profesional Madya (IPM), dan Insinyur Profesional Utama (IPU). Menurut Rudianto, sebuah profesi akan memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bila terekam dan mengindahkan etika profesi saat mereka memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat.

Pada lokakarya ini juga dijelaskan tentang etika profesi insinyur yang diperlukan untuk menjaga profesionalisme, kejujuran, keberpihakan pada bangsa dan negara serta pengembangan kapasitas keilmuan.

Etika profesi diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi. Di sisi lain juga untuk melindungi masyarakat dari penyimpangan maupun penyalahgunaan keahlian.

”Untuk itu saya mengharapkan bagi mereka yang sudah mempunyai sertifikat insinyur profesional, jangan sampai melakukan pelanggaran etika,” ucap Rudianto Handojo di depan peserta lokakarya.

Di akhir lokakarya para peserta diberikan bimbingan dan konsultasi untuk pengisian FAIP (Formulir Aplikasi Insinyur Profesional), agar bisa memenuhi syarat registrasi Insinyur Profesional yang telah di tetapkan oleh PII. Setelah peserta mengajukan dokumennya akan dinilai oleh Majelis Penilai (MP) dan hasilnya akan menentukan tingkatan sertifikasi keinsinyurannya apakah IPP, IPM, atau IPU. (Haris Kusuma Adi, CJ Kalimantan)

EDITOR: Iwan Y

Langganan berita lewat Telegram
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU