Bupati Banjar Kalsel Pertahankan Perda Khatam Al-Qur’an

MARTAPURA, SERUJI.CO.ID – Bupati Banjar, Kalimantan Selatan, Khalilurahman mengatakan pihaknya telah berhasil mempertahankan peraturan daerah khatam (tamat) membaca Al-Qur’an yang diterapkan di kabupaten tersebut.

“Sebelumnya perda khatam Al-Qur’an sempat mendapat sorotan pemerintah pusat, tetapi kami berhasil mempertahankan argumen sehingga perda bisa diterapkan,” ujarnya di Martapura, Sabtu (17/2).

Ia mengatakan, seandainya tidak bisa menjelaskan melalui argumentasi yang bisa diterima, kemungkinan perda itu tidak bisa diterapkan karena dinilai bertentangan dengan ketentuan.

Bahkan, kata dia, perda itu sempat dinilai sebagian kalangan anggota DPR RI sebagai upaya membentuk negara Islam sehingga terancam tidak bisa diterapkan karena mempengaruhi kondisi negara.

“Saya jelaskan, baca tulis Al-Qur’an hingga hapal dan khatam merupakan budaya masyarakat Kalsel khususnya Kabupaten Banjar sehingga mereka bisa menerimanya,” ungkap dia.

Dijelaskan mantan anggota DPR RI itu, penerapan perda khatam Al-Qur’an sejak 2003 masa kepemimpinan Bupati Banjar Rudy Ariffin, sangat banyak manfaatnya terutama bagi generasi muda.

Ditekankan, berkat perda itu, anak-anak mulai tingkat sekolah dasar (SD) sudah diajari baca tulis hingga hapal ayat-ayat kitab suci umat Islam sehingga banyak yang mampu menghapalnya.

“Berkat penerapan perda itu, banyak anak-anak sekolah sudah hapal ayat-ayat suci Al-Qur’an sehingga kehidupan yang akan mereka jalani sudah lengkap ilmu agamanya,” ujar dia.

Di sisi lain, perda khatam Al-Qur’an sejalan dengan visi-misi sebagai kepala daerah memimpin kabupaten Banjar yakni mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan barokah.

“Perda khatam Qur’an juga sejalan dengan masyarakat Kabupaten Banjar yang dikenal religius dan Islami sehingga mendapat julukan sebagai Serambi Mekah di Kalimantan,” ujarnya.

Dikatakan, pihaknya berharap perda khatam Al-Qur’an terus dipertahankan dan diwajibkan bagi anak-anak SD sehingga mereka memiliki bekal yang kuat dalam menjalani kehidupan.

“Ilmu pengetahuan yang diberikan dan dikuasai anak penting bagi mereka di dunia, dan khatam Al-Qur’an menjadi bekal di akhirat sehingga keduanya harus diperdalam seimbang,” katanya. (Ant/SU01)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Sambut Konferwil AMSI Jatim, Begini Pesan Kapolda Jawa Timur

"Saya terima kasih teman-teman dari AMSI, mudah-mudahan bisa mengawal suplai berita kepada masyarakat dalam koridor jurnalistik yang tetap menjaga objektifitas. Saya senang sekali bisa audiensi dan bersilaturahmi," kata Irjen Fadil di Mapolda Jatim

Hak Asuh Anak Dalam Perceraian

Retaknya perkawinan yang berujung perceraian sering kali mengakibatkan konflik perebutan hak asuh anak. Dalam artikel kali ini, Ruang Hukum akan menjelaskan tentang hak asuh anak sesuai perundangn yang berlaku dan prosesnya di Pengadilan jika terjadi perselisihan perebutan hak asuh anak. Selamat membaca.....

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

TERPOPULER